banner 468x60

Yogyakarta, CNN Indonesia — Belasan orang berdiri sabar di bawah rindangnya pohon yang meredam sengatan matahari siang, Jumat (31/7). Dari anak muda hingga lanjut usia (lansia), mereka menanti suara gemericik dari sumber mata air alami ‘Sendang Wonosari’ di Dusun Kalidadap I, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Di tempat itulah, hari mereka nyaris selalu dimulai dan diakhiri.Sembari mengobrol santai, sesekali tangan mereka mengurai selang-selang yang menjulur dari bibir sumber mata air. Tak ada yang tergesa. Para warga Kalidadap I dan II ini lantas mengambil selang masing-masing, bersiap mengalirkan air menuju rumah yang tersebar di lereng-lereng perbukitan kapur.Air itu mengalir tanpa bantuan mesin ataupun pompa. Warga cukup menyedot ujung selang menggunakan mulut hingga air terdorong masuk ke dalam pipa plastik tersebut. Setelah itu, gaya gravitasi mengambil alih pekerjaan. Perbedaan ketinggian antara sumber mata air dan rumah-rumah warga membuat air terus mengalir ke bawah, melewati selang yang panjangnya bisa mencapai ratusan meter.

Plastik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh aktivitas manusia melibatkan penggunaan plastik, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, hingga peralatan rumah tangga. Namun, di balik kemudahannya, muncul ancaman baru yang mulai mendapat perhatian dunia, yaitu mikroplastik. Berukuran sangat kecil dan sulit dilihat oleh mata, mikroplastik kini ditemukan di udara, tanah, udara, bahkan dalam makanan yang dikonsumsi manusia.
Mikroplastik berasal dari pecahan sampah plastik yang terurai menjadi partikel-partikel kecil. Selain itu, beberapa produk seperti pakaian berbahan sintetis dan produk perawatan tubuh juga dapat menghasilkan mikroplastik. Partikel tersebut kemudian terbawa ke sungai dan laut, masuk ke rantai makanan melalui ikan dan biota laut lainnya, hingga akhirnya dikonsumsi oleh manusia.Keberadaan mikroplastik menjadi perhatian karena diduga dapat membawa zat kimia berbahaya ke dalam tubuh. Meskipun penelitian mengenai jangka panjang masih terus berkembang, banyak ahli sepakat bahwa polusi plastik harus segera dikendalikan untuk mencegah risiko yang lebih besar di masa depan.
Masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan membersihkan sampah yang sudah ada. Pencegahan harus dimulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan sistem pengelolaan sampah, serta memperluas program daur ulang. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama agar jumlah sampah plastik yang mencemari lingkungan dapat ditekan.

Masyarakat juga memiliki peran penting melalui kebiasaan sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum yang dapat dipakai berulang kali, serta memilah sampah sebelum dibuang. Kebiasaan kecil tersebut akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.
Pada akhirnya, ancaman mikroplastik mengingatkan kita bahwa permasalahan lingkungan sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Menjaga lingkungan dari polusi plastik bukan hanya untuk melindungi alam, tetapi juga untuk menjaga kesehatan manusia. Kesadaran dan tindakan nyata hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Baitul Wakaf meluncurkan program budidaya pisang cavendish berbasis wakaf produktif di lahan seluas 35.000 meter persegi di kawasan Berjo Kulon, Sidoluhur, Godean, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Program tersebut diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi umat melalui optimalisasi aset wakaf.
Peluncuran dan penanaman perdana yang digelar pada Rabu (29/7/2026) itu mengusung tema “Menanam Hari Ini, Menuai Kemandirian di Masa Depan” sebagai upaya memanfaatkan lahan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

No More Posts Available.

No more pages to load.