
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Padhang Bulan Fest 2026 kembali digelar di Jogja Expo Center (JEC) dengan menghadirkan rangkaian kegiatan dakwah yang dikemas sebagai ruang belajar, silaturahim, sekaligus perayaan dakwah lintas komunitas. Agenda tahunan yang berlangsung 19–20 September 2026 ini menghadirkan sejumlah ustaz dan tokoh agama dari berbagai latar belakang.
Pada hari pertama, Sabtu (19/9/2026), sejumlah nama yang hadir di antaranya Habib Isa Al Kaff, Ustaz Agam Fachrul, Ustaz Rifky Ja’far Thalib, Ustaz Muh. Faizar, dr Sagiran, Zein Permana, Ustaz Alief Aslan, Syafrian Hidayat, Prof Zainal Arifin Mochtar, Ganjar Pranowo, Bang Fathur, dan Gus Ajir Ubaidillah.
Sementara pada hari kedua, Ahad (20/9/2026) diisi oleh Ustaz Slamet Ibnu Syam, Ustazah Nabilah, Ustaz Amar Ar Risalah, Ustaz Husein Gaza, Teh Indadari, Papap Handy Bonny, Gus Nul Wowok, Gus Kautsar, Gus Sabrang, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Salim A. Fillah, dan Ustaz Luqmanulh.
Ketua Panitia Padhang Bulan Fest 2026, Muhammad Akhid Subianto, mengatakan kehadiran para asatidz tersebut menjadi bagian dari rangkaian kajian dan Safari Dakwah yang digelar dalam Padhang Bulan Fest 2026. Kegiatan tersebut ingin menjadikan dakwah sebagai ruang yang terbuka bagi masyarakat untuk bertemu, belajar, dan membangun kebersamaan. Ia menyebut Padhang Bulan Fest sebagai momentum untuk merayakan dakwah di Jogja.
“Ini event-nya hari rayanya dakwah di Jogja, sehingga yang terlibat dalam event ini ada banyak lembaga. Tercatat ada 16 lembaga yang ikut dalam event ini,” kata Akhid saat diwawancara di sela-sela acara pembukaan di JEX, Sabtu (19/9/2026).
Menurut dia, Padhang Bulan Fest bukan milik satu organisasi atau komunitas tertentu. Sejumlah lembaga dan komunitas dakwah seperti Masjid Jogokariyan, Teras Dakwah, Baitul Mal Merapi Merbabu, pesantren, Garasi Dakwah, Munzalan, dan komunitas lainnya melebur dalam satu narasi besar Padhang Bulan.
Akhid mengatakan semangat yang dibawa dalam festival tersebut adalah mempertemukan berbagai elemen tanpa memperbesar perbedaan latar belakang organisasi.
“Enggak perlu kita bicara masalah siapa kita, baju kita apa, organisasi kita apa, NU atau Muhammadiyah, apalagi itu Persis, Salafi apa. Oke, enggak usah bicara itu. Kita bicaranya gimana caranya bisa kita ketemu di sini, ngumpul, apa yang bisa kita kolaborasikan,” ujarnya.
Dengan banyaknya tokoh yang dihadirkan, pembahasan dalam Padhang Bulan Fest tidak hanya ditempatkan sebagai kajian keagamaan. Festival ini juga membawa isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti pembentukan karakter anak muda, akhlak, hubungan sosial, persatuan, ekonomi umat, hingga kontribusi generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadiran para tokoh juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk belajar agama dalam suasana festival yang lebih terbuka dan lintas komunitas.
“Tema besarnya Padhang Bulan Fest itu. Kalau difilosofikan ya ini ngumpul gitu, yo pra kanca dolanan ing njaba gitu,” ucapnya.
“Ilmunya yang disampaikan oleh para tokoh itu bisa diserap dan masyarakat perlu tahu itu,” ujarnya.
Selain menghadirkan para ustaz, Padhang Bulan Fest 2026 juga memperluas konsep festival dengan menghadirkan musisi seperti Letto, YKHC, dan Kiai Kanjeng. Jumlah tenant juga meningkat dari 95 tenant pada tahun sebelumnya menjadi sekitar 130 tenant tahun ini, sehingga kegiatan tidak hanya menjadi ruang kajian keagamaan, tetapi juga mempertemukan dakwah dengan aktivitas ekonomi dan UMKM.
“Ini konsep yang berbeda. Tahun ini harapannya bisa tembus 30 ribu pengunjung. Tiket terjual sampai hari ini ada 17 ribu, belum yang OTS,” ujarnya.
Sementara itu, Tokoh agama Ustaz Syukri Fadholi menilai kegiatan Padhang Bulan memiliki peran strategis dalam pembinaan dakwah keislaman sekaligus pengembangan ekonomi di DIY. Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang pembinaan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kegiatan dakwah Padhang Bulan ini merupakan kegiatan yang strategis dalam rangka membina dakwah keislaman dan pengembangan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta ini,” kata Syukri.
Ia berharap kegiatan tersebut terus mendapatkan dukungan dari pemerintah dan berbagai lembaga keagamaan. Menurutnya, pembinaan agama dan moral penting dilakukan di tengah tantangan yang dihadapi generasi muda.
“Agama itu kan mengajarkan akhlakul karimah yang tentunya membina anak-anak muda untuk berakhlak baik, untuk berkehidupan baik dalam kehidupan masyarakat saat ini,” ujarnya.





![[Aggregator] Downloaded image for imported item #74076 [Aggregator] Downloaded image for imported item #74076](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/pembukaan-acara-padhang-bulan-fest-2026-yang-kembali-digelar_260921140518-931-1-148x111.jpg)



![[Aggregator] Downloaded image for imported item #74082 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/gubernur-daerah-istimewa-yogyakarta-sri-sultan-hamengku-buwono-x_260921150301-490-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #74086 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/260921133723-701-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #74066 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/tangkapan-layar-video-yang-diduga-memperlihatkan-salah-seorang-pegawai_260921084001-472-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #74070 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/ketua-umum-pimpinan-pusat-muhammadiyah-prof-haedar-nashir-tengah_260921141028-185-148x111.jpg)