Mahasiswa UGM Bantah Tuduhan Polda DIY Soal Cairan Merica dalam Demo di Simpang Gramedia

by -8 Views
banner 468x60
image

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Mahasiswa UGM yang tergabung dalam aksi unjuk rasa di Perempatan Gramedia Cik Di Tiro, Yogyakarta, pada Selasa (1/9/2026), membantah tuduhan Polda DIY yang menyebut massa aksi membawa dan menggunakan cairan yang diduga merupakan semprotan merica atau pepper spray. Mereka menegaskan cairan dalam tabung yang terlihat dalam dokumentasi kepolisian merupakan antasida yang dibawa tim medis untuk menangani massa yang terdampak gas air mata maupun semprotan merica.

Polemik tersebut mencuat setelah Polda DIY mengunggah video bertajuk “Fakta di Lapangan: Temuan Cairan Merica dan Penanganan Personel” melalui akun Instagram resminya. Dalam narasi unggahan itu, kepolisian menyebut berdasarkan rekaman visual dan bukti digital di lokasi ditemukan tabung berisi cairan yang diduga merupakan merica atau spicy spray dari arah kerumunan massa.

banner 336x280

Polda DIY juga menyebut tujuh personel Polresta Yogyakarta mengalami gangguan kesehatan berupa sesak napas dan iritasi kemerahan pada kulit wajah setelah terpapar cairan tersebut. Terkait ini, Perwakilan mahasiswa UGM, Aditya, membantah narasi tersebut. 

Menurut dia, massa aksi datang ke lokasi untuk menyampaikan aspirasi secara damai dan tidak membawa perlengkapan untuk menyerang aparat. Dia menyebut, cairan yang kemudian ditampilkan dalam unggahan Polda DIY justru merupakan perlengkapan tim medis lapangan untuk menangani korban yang terkena paparan gas air mata dan pepper spray.

“Massa aksi tidak membawa apapun selain suara dan aspirasi, dengan komitmen penuh menjaga keselamatan publik dan fasilitas umum,” kata Aditya dalam konferensi pers Massa Aksi Damai Cik Ditiro di Bundaran UGM, Yogyakarta, Kamis (3/9/2026).

Aditya mengatakan situasi aksi awalnya berjalan kondusif sejak massa mulai memadati Perempatan Gramedia sekitar pukul 16.00 WIB. Massa bahkan disebut secara aktif membuka jalan ketika ada ambulans yang hendak melintas. Situasi kemudian memanas sekitar pukul 19.15 WIB setelah terjadi gesekan dengan kelompok yang disebut massa aksi sebagai ormas.

“Saat percekcokan pertama tersebut, beberapa massa aksi sudah melihat bahwa sebagian anggota ormas preman dipersenjatai, bahkan dengan senjata tajam,” lanjutnya.

Massa aksi kemudian disebut kembali ke lokasi awal untuk melakukan konsolidasi. Setelah melalui pembicaraan dengan pihak kepolisian dan kelompok tersebut, massa mengaku mencapai kesepakatan sekitar pukul 21.50 WIB untuk membubarkan diri dengan syarat keselamatan mereka dijamin.

“Massa aksi sepakat untuk berkompromi dan membubarkan diri dengan syarat, Polisi harus menjaga keselamatan massa aksi dengan membubarkan ormas preman yang sudah membanjiri perempatan,” ujar Aditya.

Namun, menurut Aditya, ketika massa mulai bergerak mundur menuju Boulevard UGM, kelompok tersebut masih berada di sekitar lokasi. Massa kemudian memilih berhenti dan meminta kepolisian terlebih dahulu mengamankan kelompok yang dianggap mengancam keselamatan peserta aksi. 

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.