
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Upaya pengurangan bencana banjir di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih terus dipersiapkan melalui optimalisasi dan perluasan jangkauan Early Warning System (EWS). Saat ini, DIY memiliki 36 unit EWS yang tersebar di tiga sungai, yaitu Gajah Wong, Code, dan Winongo, serta satu unit di Ngentak.
EWS ini tidak diotomatiskan semua karena mengantisipasi jika terjadi gangguan pada jaringan seluler atau kelistrikan saat bencana melanda.
“Ke depannya saya ingin informasi debit air yang ada di utara ini, ini bisa langsung disampaikan ke masyarakat. Tidak hanya lewat radio, tapi lewat jaringan seluler juga,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Nur Hidayat, Rabu (2/9/2026).
Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Bambang Seno Baskoro mengungkapkan, potensi bencana banjir di Yogyakarta cukup tinggi, yang dipicu dari adanya luapan aliran sungai.
“Sistem peringatan dini banjir menjadi peranan penting bagi warga sekitar aliran sungai, untuk memastikan keamanannya. Maka dari itu evaluasi berkala perlu dilakukan agar fungsi perangkat tetap optimal dan masyarakat paham dan memiliki rasa kesiapsiagaan yang tinggi,” ujar Seno saat pelaksanaan simulasi EWS banjir di Sungai Gajah Wong.
Seno juga mengungkapkan bahwa Komisi C mendukung program Pak Kepala BPBD Kota Yogyakarta agar kegiatan ini bisa menjadi rutinitas setiap satu tahun minimal tiga kali, dan masyarakat bisa memahami dan mengetahui situasi kebencanaan yang ada di Kota Yogyakarta.
Simulasi EWS banjir ini dilakukan serentak di lima titik seperti Gendeng, Tegalgendu, Danukusuman, Ledok Tukangan, dan Pingit.
“Kita harus tetap waspada meskipun air sungai tidak selalu meluap. Kami juga rutin melaksanakan siskamling apalagi saat musim hujan datang,” ujar Ketua Kampung Tanggap Bencana (KTB) Gendeng, Dedi Hermawan.
Di Kota Yogyakarta, saat ini telah terbentuk 169 Kampung Tanggap Bencana (KTB) yang tersebar hingga kawasan alur sungai.
Dedi berharap ketika alarm peringatan dini berbunyi warga bisa langsung dengan sigap mengambil tindakan evakuasi mandiri tanpa perlu diberi instruksi guna mencegah hal-hal buruk saat bencana terjadi.





![[Aggregator] Downloaded image for imported item #73030 [Aggregator] Downloaded image for imported item #73030](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/pelaksanaan-simulasi-early-warning-system-ews-banjir-di-sungai_260903104441-394-1-148x111.jpg)



![[Aggregator] Downloaded image for imported item #73040](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/para-aktivis-forum-united-for-primates-menggelar-aksi-di_260903113742-525-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #73012](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/wakil-rektor-ugm-bidang-kemahasiswaan-pengabdian-kepada-masyarakat-dan_260903001814-708-148x111.jpeg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72126](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/default-2-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72973](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/situasi-demo-yang-berlangsung-di-simpang-empat-gramedia-jalan_260902115450-503-148x111.jpeg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72925](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/09/peserta-dan-panitia-kolasa-kolaborasi-sanggar-asi-berfoto-bersama_260901114741-698-148x111.jpg)