
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Pagi hari ini, Rabu, 17 Juni 2026, saya dan suami berangkat menggunakan kereta api menuju Jakarta. Insya Allah, besok dini hari pukul 00.55 dari Bandara Soekarno-Hatta kami akan memulai perjalanan menuju Groningen, Belanda.
Sehari sebelumnya, 16 Juni 2026, umat Islam baru saja menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah. Ada sesuatu yang terasa tidak kebetulan dari pertemuan dua momen ini. Di hari-hari awal tahun baru Hijriah, kami memulai sebuah perjalanan dan dalam tradisi Islam, perjalanan selalu memiliki makna lebih dalam daripada sekadar perpindahan tempat.
Kalender Hijriah tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari turunnya wahyu pertama. Kalender ini dimulai dari peristiwa hijrah, perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat meninggalkan Makkah menuju Madinah.
Sebuah keputusan untuk bergerak, membangun harapan baru, dan membawa misi lebih besar ke tempat yang memungkinkan Islam tumbuh dan berkembang. Peristiwa itulah yang kemudian dipilih para sahabat sebagai penanda dimulainya kalender Islam. Dari hijrah kita belajar, sejarah sering kali ditorehkan oleh mereka yang berani melangkah.
Tujuan utama perjalanan kami Groningen, kota di bagian utara Belanda tempat Najwa, putri sulung kami, sedang menyelesaikan program study exchange di University of Groningen. Berbulan-bulan, kami mengikuti perjalanannya dari kejauhan melalui layar dan cerita.
Kami menyaksikan perkembangan studinya, mengikuti kisah konferensi internasional pertamanya di Turki, hingga mendengar cerita tentang sepeda yang hilang dan perjalanan kaki selama empat puluh menit di dini hari menuju rapat daring yang tak boleh terlewatkan.
Kini saatnya kami hadir secara langsung, menapaki jalan-jalan kota yang selama ini hanya kami kenal melalui foto dan percakapan. Dari Groningen, kami berencana mengunjungi beberapa kota lain khususnya di Belanda dan Belgia.
Di antara berbagai kota yang akan kami kunjungi, ada satu momen terasa istimewa. Pada 22 Juni 2026 mendatang, dari Kota Liège di Belgia, saya akan menjalankan tugas sebagai penguji disertasi mahasiswa S3 Informatika Universitas Amikom Yogyakarta secara daring.
Teknologi memungkinkan saya hadir dalam ujian akademik ribuan kilometer dari kampus. Namun yang membuatnya bermakna bukanlah teknologinya, melainkan komitmen untuk menunaikan amanah. Sebab tanggung jawab akademik tidak mengenal batas geografis.
Pada hari yang sama, Najwa bersiap menuju Italia untuk menghadiri konferensi internasional keduanya. Menariknya, untuk konferensi yang sama, kami juga mengirimkan paper. Hasilnya cukup sederhana, paper Najwa diterima, sedangkan paper kami tidak.
Kami hanya bisa tersenyum. Mungkin beginilah salah satu cara Allah SWT mengingatkan orang tua bahwa tugas utama mereka bukan selalu berada di depan, melainkan menyiapkan saat ketika anak mampu melangkah lebih jauh. Sebagai orang tua, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak tidak sekadar mengikuti jejak yang pernah kita tempuh, tetapi mulai menemukan jalannya sendiri.
Salah satu tempat paling saya nantikan dalam perjalanan ini adalah Delft. Kota kecil yang terkenal dengan keramik biru-putihnya itu juga menjadi rumah bagi Delft University of Technology, salah satu universitas teknik terbaik di dunia.
Bersama Cranfield University di Inggris dan ISAE-SUPAERO di Toulouse, Perancis, Delft University of Technology menjadi salah satu kampus yang dicita-citakan Najwa untuk melanjutkan studi S2 di bidang Aerospace Engineering.
Mengunjungi Delft adalah cara kami sebagai orang tua untuk mendekatkan diri pada mimpi anak kami. Untuk melihat dengan mata kepala sendiri tempat yang mungkin akan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.
Kadang-kadang, mendukung mimpi anak tidak selalu dilakukan dengan memberi nasihat. Ada kalanya dukungan itu hadir dalam bentuk kesediaan untuk ikut memahami jalan yang sedang mereka tempuh.
Tradisi keilmuan Islam sejatinya tidak pernah asing dengan perjalanan demi ilmu. Para ulama besar menempuh ribuan kilometer untuk menemui guru, mendengar hadits langsung dari sumbernya, dan membawa pulang pengetahuan bagi masyarakat. Semangat itulah yang seharusnya terus dinyalakan hingga hari ini.
Ketika mahasiswa saya di Pascasarjana Universitas Amikom Yogyakarta selalu didorong mengikuti konferensi internasional, ketika dosen membangun kolaborasi lintas negara, ketika generasi muda Indonesia berani melanjutkan studi ke kampus-kampus terbaik dunia, sesungguhnya mereka sedang melanjutkan tradisi panjang perjalanan ilmu yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Koper telah siap sejak semalam dan kereta menuju Jakarta sudah menunggu. Di awal tahun baru Hijriah ini, kami memulai perjalanan dengan hati yang penuh syukur dan doa.
Bukan hanya untuk perjalanan kami sendiri, juga untuk semua yang sedang menempuh perjalanannya masing-masing, mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tesis dan disertasi, dosen yang terus memperbarui keilmuan, orang tua yang mendampingi anak-anaknya meraih cita-cita, serta siapa pun yang sedang mengumpulkan keberanian untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa: 100).
Semoga setiap langkah yang diayunkan dengan niat yang baik, ke mana pun perjalanan membawa kita, senantiasa memperoleh kemudahan, keberkahan, dan penjagaan dari Allah SWT. Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Wallāhu a’lam.












