
Pencanangan Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Teras Malioboro Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mulai melaksanakan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 4.082 petugas diterjunkan untuk mendata sekitar 606 ribu pelaku usaha yang tersebar di seluruh wilayah DIY melalui metode pendataan door to door.
Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, mengatakan sensus ekonomi kali ini tidak hanya menyasar usaha yang telah terdaftar, tetapi juga berbagai aktivitas ekonomi yang berkembang di lingkungan masyarakat dan rumah tangga. “Sistemnya nanti, petugas sensus tidak hanya menyambangi pelaku usaha yang terdaftar, tetapi juga ke rumah-rumah untuk seluruh aktivitas ekonomi yang ada. Jadi sangat mungkin para petugas sensus akan ketemu usaha-usaha baru,” ujar Sonny saat Pencanangan Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Teras Malioboro Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).
Sonny menyebut, dari sekitar 606 ribu pelaku usaha yang akan didata di DIY, sebanyak 596 ribu di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pendataan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperoleh gambaran utuh mengenai struktur ekonomi daerah hingga level usaha terkecil.
BPS akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai sistem pengendali mutu untuk mendukung kualitas data. Teknologi ini digunakan untuk mendeteksi anomali atau ketidakwajaran dalam data yang dikumpulkan petugas di lapangan sehingga hasil sensus menjadi lebih akurat.
“Misalnya tidak mungkin anak lebih tua dari bapaknya, atau omzet usaha jauh lebih rendah dibanding biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.
“Teknologi AI membantu melakukan penyaringan sehingga kualitas data yang dihasilkan lebih akurat,” katanya menambahkan.










