BBSPJIKB Dorong Keberlangsungan Batik di Yogyakarta, Singgung Regenerasi Masih Jadi PR 

by -2 Views
banner 468x60
image

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Regenerasi pembatik masih menjadi tantangan dalam menjaga keberlangsungan industri batik di Yogyakarta. Di tengah semakin banyaknya perajin yang memasuki usia lanjut, minat generasi muda untuk menekuni proses membatik secara serius dinilai masih rendah.

Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), Zya Labiba mengatakan kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memastikan batik tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga tetap memiliki pelaku industri dari generasi berikutnya.

banner 336x280

“Tantangannya regenerasi ya semakin ke sini, apalagi sekarang kondisi untuk para perajin pembatik ini memang sudah pada usia sepuh-sepuh,” kata Zya saat diwawancara di sela-sela acara Program Pengembangan Industri Batik Hijau di Kota Yogyakarta, kolaborasi Bank BPD DIY bersama Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian, Rabu (9/9/2026).

Zya memastikan, BBSPJIKB terus melakukan pembinaan dan pendampingan sekaligus mengenalkan batik kepada generasi muda. Ia tak menepis, proses membatik membutuhkan keterampilan, kesabaran, dan fokus. Faktor tersebut kemudian menjadi salah satu tantangan untuk menarik generasi muda yang terbiasa dengan proses serba cepat.

Selain itu, persoalan upah perajin juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar profesi pembatik lebih menarik bagi generasi penerus.

“Kalau saya melihat proses untuk membatik itu memang ada yang mungkin kurang menarik ya. Saya yakin, kalau anak anak Gen Z itu, mungkin (kurang tertarik) karena prosesnya. (Faktornya) bisa jadi karena anak Gen Z suka yang instan ataupun bisa jadi proses membatik itu kan butuh keterampilan, kesabaran dan memang kalau memang belajar membatik ini butuh fokus,” ucapnya.

Di tengah tantangan tersebut, Zya menyebut penguatan kapasitas para perajin yang masih aktif juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan industri batik.

Dia menyampaikan apresiasi kepada Bank BPD DIY, yang dalam kesempatan ini menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp40 juta kepada BBSPJIKB. Bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk barang, antara lain kompor listrik, peralatan serta bahan pendukung produksi batik seperti kain, malam batik, dan canting tulis. Kemudian disalurkan pada delapan penerima manfaat bantuan yakni KKMP Ngampilan, KKMP Sosromenduran, KKMP Mantrijeron, KKMP Gunungketur, KKMP Patehan, KKMP Demangan, Koperasi Sati Batik Baik, dan Koperasi JKM.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Bank BPD DIY atas dukungan melalui program TJSL ini. Bantuan peralatan dan bahan membatik merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti bagi pelaku IKM karena dapat langsung dimanfaatkan untuk menunjang proses produksi mereka,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan IKM tidak cukup hanya dilakukan melalui bantuan sarana produksi. Diperlukan pula kolaborasi berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan pelaku industri dalam aspek mutu, standardisasi, efisiensi produksi, inovasi, hingga pengembangan pasar.

“BBSPJIKB siap menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Kami memiliki berbagai layanan dan kompetensi yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industry kedepannya, mulai dari peningkatan kompetensi SDM batik, pengujian produk batik, standardisasi hingga beragam sertifikasi untuk batik” katanya.

Zya juga berharap kerja sama dengan Bank BPD DIY tidak berhenti pada penyaluran bantuan tahun ini, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi yang memperkuat ekosistem batik sekaligus membuka akses perajin terhadap ekosistem keuangan.

“Semoga tidak terputus hanya di tahun 2026 saja. Kami juga berharap ini bisa menjadi jembatan juga bagi para perajin tentunya untuk semakin terhubung dengan ekosistem keuangan,” katanya.

Perwakilan Bank BPD DIY yang juga Penyelia Kredit Consumer BPD Cabang Senopati, Beni Primajaya mengatakan bantuan tersebut diberikan sebagai dukungan terhadap keberlangsungan industri batik dan UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Kami sebagai lembaga keuangan di Daerah Istimewa Yogyakarta juga ingin mengembangkan UMKM juga di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk berkelanjutan. Salah satunya yaitu dengan cara kita kita memberikan bantuan kepada para pengrajin agar batik di Yogyakarta ini semakin mendunia untuk kedepannya juga semakin bermanfaat bagi para pengrajin untuk daya saing yang lebih bagus lagi begitu,” katanya.

Dia menyebut, bantuan peralatan itu dapat membantu perajin meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi dalam proses produksi. Salah satu peralatan yang menjadi bagian dari bantuan adalah kompor listrik. Penggunaan alat tersebut dinilai dapat memberikan sejumlah keuntungan dalam proses membatik, mulai dari pengaturan suhu yang lebih stabil hingga aspek keamanan dan efisiensi produksi.

“Kami berharap produktivitas pengrajin dengan menggunakan kompor listrik ini akan meningkat. Biaya produksi juga lebih hemat. Kemudian pada akhirnya kesejahteraan para pengrajin dan juga kelompok batik di delapan koperasi ini dapat meningkat,” kata Beni

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.