
REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL — Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih merespons kabar warga di Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, yang terpaksa menjual sebagian ternaknya demi membeli air bersih saat kekeringan melanda wilayah tersebut.
Endah mengatakan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menginstruksikan kapanewon untuk segera mengidentifikasi titik-titik rawan kekeringan dan melakukan dropping air bersih. Anggaran penanganan kekeringan juga telah disiapkan di masing-masing kapanewon.
“Hari ini beberapa penewu sudah melaporkan, bahkan Pak Kapolres juga sudah memberikan laporan bahwa Kapolsek dan Koramil, Panewu ini sudah mulai mengidentifikasi titik-titik rawan dengan di-dropping air bersih,” kata Endah saat diwawancarai di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurut dia, anggaran dropping air bersih telah dialokasikan melalui kapanewon. Selain itu, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan anggaran di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Belanja Tidak Terduga (BTT).
Endah mengatakan penanganan kekeringan akan semakin diintensifkan mulai pekan ini. Hal itu menyusul surat kebencanaan yang telah dikeluarkan Pemkab Gunungkidul untuk menangani dampak musim kemarau. Ia memastikan, pemerintah akan bergerak cepat agar penanganan kekeringan tidak lebih dahulu dilakukan oleh pihak lain.
“Anggaran untuk dropping air bersih itu kami cantolkan di kecamatan atau kapanewon, Badan Penanggulangan Bencana, dan kami ada BTT juga,” ujarnya.
“Merespons berita yang sudah muncul, maka mulai minggu ini, sesuai dengan surat yang sudah kita keluarkan untuk kebencanaan, kita nanti sampai dengan tanggal 1 Agustus hingga kita perpanjang. Karena 29 Juni kemarin kita sudah apel darurat hidrometeorologi. Sehingga ini untuk bisa melaksanakan anggaran yang sudah ada. Jangan sampai pemerintah kalah duluan dengan pihak-pihak lain dalam menangani kekeringan ini,” ujarnya.
Adapun saat ini penampungan berkapasitas sekitar 5.000 liter telah disiapkan di sejumlah titik. Air hasil dropping nantinya akan ditampung di fasilitas tersebut sehingga warga dapat mengambil air tanpa harus mencari sumber air di wilayah yang sulit dijangkau.
“Di titik-titik tertentu ada 5.000 liter penampungan air sehingga nanti droppingnya di penampungan itu. Warga yang tidak punya penampungan itu bisa mengakses dan tidak perlu mencari sumber-sumber air yang wilayahnya sangat sulit,” katanya.
Endah mengakui, kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan tahun lalu. Musim kemarau yang datang lebih awal diperkirakan berlangsung lebih panjang sehingga berdampak terhadap ketersediaan air bersih, pasokan air PDAM, hingga kondisi lahan pertanian.












