
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Hajad Dalem Garebeg Mulud Be 1960/2026 secara sederhana. Berbeda dengan pelaksanaan Garebeg pada umumnya, tahun ini tidak ada gunungan yang dikeluarkan dari keraton maupun iring-iringan prajurit.
Sedekah raja kepada kawula tetap dilaksanakan, tetapi diwujudkan melalui pembagian ubarampe pareden berupa rengginang kepada para Abdi Dalem. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta.
Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo, mengatakan penyederhanaan prosesi Garebeg bukan hal baru. Menurutnya, upacara Garebeg dari masa ke masa mengalami perubahan menyesuaikan situasi dan kondisi pada zamannya.
“Mulai dari era Sultan terdahulu yang menghadirkan Garebeg sebagai upacara terbesar lengkap dengan kehadiran Sultan dan regalianya, kemudian sempat mengalami penyederhanaan pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan pada masa pemerintahan Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 ini juga ada perubahan bentuk upacara Garebeg ketika pandemi Covid-19 melanda,” ujar Sindurejo dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).
Dia menegaskan, perubahan bentuk pelaksanaan tidak menghilangkan makna utama Garebeg sebagai rangkaian upacara budaya Keraton Yogyakarta.
“Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,” katanya.
Karena pelaksanaan dibuat sederhana, sejumlah rangkaian yang biasanya mengawali Garebeg Mulud juga ditiadakan. Di antaranya Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang sedianya digelar tiga hari sebelum pelaksanaan Garebeg Mulud.
Sementara itu, rangkaian puncak perayaan Sekaten telah dilaksanakan pada Selasa, 25 Agustus 2026, kemarin. Prosesi diawali dengan penyebaran udhik-udhik oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 di Pagongan sekitar pukul 19.00 WIB.
Setelah itu, Sri Sultan menghadiri pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW di Kagungan Dalem Masjid Gedhe. Usai pembacaan riwayat Nabi, Sri Sultan kemudian Jengkar atau kembali ke Keraton Yogyakarta. Bersamaan dengan Sri Sultan kembali ke keraton, dua Gamelan Sekati, yakni Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, juga dibawa kembali ke Keraton dalam prosesi yang disebut Kondur Gangsa.
“Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kedua Gamelan Sekati langsung dibawa kondur (kembali) ke Keraton Yogyakarta setelah Ingkang Sinuwun jengkar dari Kagungan Dalem Masjid Gedhe,” ujarnya.





![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72881 [Aggregator] Downloaded image for imported item #72881](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/gunungan-yang-biasa-dihadirkan-dalam-acara-garebeg-maulud-tahun_260831154508-715-1-148x111.jpeg)



![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72168](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/250331214412-556-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72134](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/memasuki-tahun-keempat-penyelenggaraannya-erafone-run-2026-yogyakarta-series_260829092225-419-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72138](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/260829090740-800-148x111.jpeg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72126](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/default-2-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #72122](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/08/028068800-1787944646-1000003835jpg-148x111.jpg)