Tahun Pertama yang Menentukan

by -1 Views
image
banner 468x60
image

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Pekan ini, suasana kampus Universitas Amikom Yogyakarta semakin meriah. Setelah rangkaian penyambutan dan Penggalian Potensi Mahasiswa (PPM), mahasiswa baru jenjang D3 dan S1 mulai memasuki ruang kuliah. Bagi mereka, inilah saatnya benar-benar memulai kehidupan sebagai mahasiswa.

banner 336x280

Perubahan ini mungkin tampak sederhana, dari ruang kelas sekolah menuju ruang kuliah. Namun sesungguhnya, di dalamnya terdapat perubahan cara belajar yang cukup mendasar. Jika di sekolah siswa relatif terbiasa dengan jadwal, arahan guru, dan pola belajar yang lebih terstruktur, di perguruan tinggi mahasiswa dituntut mulai mengatur dirinya sendiri. Mereka harus membaca sebelum perkuliahan, mencari referensi tambahan, memahami materi secara mandiri, mengatur waktu, dan berani bertanya ketika ada hal yang belum dipahami.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian mahasiswa baru mengalami culture shock pada semester-semester awal. Tugas mungkin terasa lebih banyak, materi lebih cepat, dan dosen tidak selalu menjelaskan seluruh bahan yang harus dipelajari. Belum lagi mereka harus beradaptasi dengan teman-teman baru, lingkungan kampus, organisasi, praktikum, serta berbagai aktivitas kemahasiswaan.

Menurut saya, tahun pertama merupakan fase yang sangat penting dalam perjalanan seorang mahasiswa karena pada tahun inilah kebiasaan belajar dan cara menjalani kehidupan akademik mulai terbentuk. Mahasiswa yang sejak awal mulai terbiasa membaca, mencatat, berdiskusi, mengelola waktu, mengerjakan tugas secara mandiri, dan mencari sumber pengetahuan tambahan akan memiliki bekal yang berbeda ketika memasuki semester-semester berikutnya. Sebaliknya, jika sejak awal terbiasa menunda pekerjaan, hanya belajar ketika menghadapi ujian, atau terlalu bergantung pada penjelasan dosen, kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga tahun-tahun berikutnya.

Hal ini mengingatkan saya pada awal perjalanan kuliah putri saya, Najwa Rashika, ketika menempuh pendidikan S1 Teknik Dirgantara di Institut Teknologi Bandung. Dua semester pertama di ITB dijalani melalui Tahap Persiapan Bersama (TPB). Bagi mahasiswa yang kemudian menempuh bidang teknik, fase tersebut bukan sekadar masa untuk mengumpulkan nilai. Mereka harus membangun fondasi Matematika, Sains, cara berpikir, sekaligus membiasakan diri dengan ritme belajar di perguruan tinggi.

Saya masih ingat bagaimana pada awal kuliahnya Najwa sempat kaget dengan ritme pembelajaran di ITB. Materi datang silih berganti, tugas cukup banyak, dan waktu belajar harus diatur dengan lebih disiplin. Namun perlahan ia belajar beradaptasi. Apa yang pada awalnya terasa berat kemudian menjadi bagian dari keseharian. Bahkan, kegiatan di laboratorium dan berbagai aktivitas akademik akhirnya menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat bahwa tahun pertama tidak harus selalu berjalan sempurna. Mahasiswa baru boleh merasa kaget. Boleh merasa belum mampu mengikuti ritme. Bahkan boleh mengalami kegagalan dalam satu atau dua mata kuliah. Yang penting adalah kemampuan untuk membaca pengalaman tersebut, mengevaluasi diri, dan kemudian memperbaiki cara belajar.

Tantangan mahasiswa baru saat ini bahkan menjadi lebih kompleks karena hadirnya Artificial Intelligence (AI), khususnya berbagai model bahasa besar atau Large Language Model (LLM). Teknologi seperti ini dapat membantu mahasiswa mencari ide, memahami konsep yang sulit, berdiskusi, menyusun kerangka tulisan, bahkan membantu proses pemrograman.

Namun, di sinilah persoalan baru muncul. Kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu berarti seseorang telah memperoleh pengetahuan. Mahasiswa dapat saja memperoleh jawaban dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh, apakah informasinya benar, dan bagaimana mempertanggungjawabkannya.

Oleh karena itu, AI seharusnya tidak diposisikan sebagai pengganti proses belajar. Kemampuan menggunakan AI secara kritis dapat menjadi bagian dari kompetensi baru seorang mahasiswa. AI boleh membantu mencari dan mengolah informasi, tetapi kemampuan berpikir, memverifikasi, bertanya, dan mengambil keputusan tetap harus berada pada manusia.

Bagi mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, persoalan ini menjadi semakin relevan karena mereka belajar di lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi informasi. Mereka bukan hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi sebagian di antaranya kelak akan menjadi pengembang teknologi itu sendiri.

Di sinilah peran dosen juga menjadi penting. Mahasiswa baru bukan sekadar peserta kuliah yang harus menyelesaikan sejumlah SKS. Mereka adalah orang-orang yang sedang belajar mengubah dirinya dari siswa menjadi pembelajar mandiri. Mahasiswa perlu dibantu memahami bagaimana cara belajar, bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, bagaimana bertanya, berdiskusi, mencoba, melakukan kesalahan, dan kemudian memperbaikinya.

Bagi mahasiswa baru Universitas Amikom Yogyakarta yang minggu ini mulai memasuki ruang-ruang kuliah, perjalanan itu kini benar-benar telah dimulai. Dunia teknologi berkembang terlalu cepat untuk membuat seseorang merasa bahwa apa yang dipelajari hari ini akan selalu cukup untuk masa depan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa proses menjadi mahasiswa juga merupakan proses mengubah diri. Kampus menyediakan lingkungan, dosen memberikan arahan, teknologi membuka berbagai kesempatan untuk belajar, tetapi pada akhirnya mahasiswa sendiri yang harus mengambil langkah untuk berubah dan berkembang.

Bagi mahasiswa baru Universitas Amikom Yogyakarta, jika kaget, beradaptasilah, jika kesulitan, bertanyalah, jika gagal, evaluasilah, jika menggunakan AI, pahami dan verifikasi hasilnya, serta jika berhasil, jangan berhenti belajar.

Beberapa tahun dari sekarang, ketika menengok kembali perjalanan kuliahnya, mungkin mereka akan menyadari bahwa tahun pertama bukan sekadar masa ketika mereka belajar mata kuliah dasar. Itulah masa ketika mereka mulai belajar menjadi mahasiswa, sekaligus mulai menentukan akan menjadi pembelajar seperti apa mereka di masa depan. Wallāhu a‘lam.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.