
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Startup halal perlu mempersiapkan lebih dari sekadar ide bisnis untuk dapat menarik perhatian investor. Produk yang jelas, pelanggan, kemampuan menghasilkan keuntungan, karakter founder, serta ekosistem yang mendukung menjadi sejumlah faktor penting dalam mempersiapkan startup menuju tahap investasi.
Ketua Komunitas Startup Jogja, Ade Rahadian, mengatakan pengembangan startup daerah membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan komunitas, pelaku usaha, dan berbagai pihak untuk mendukung pertumbuhan bisnis. “Jadi ekosistem, bukan hanya komunitas,” kata Ade Rahadian dalam kegiatan From Halal Startup to Investor yang merupakan bagian dari Road to HSDD 2026, yang diselenggarakan oleh Halavia di GMEDIA Prime Building, Yogyakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Ade, ekosistem startup juga perlu terbuka bagi berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan masyarakat dari berbagai usia yang ingin mengembangkan startup. Kolaborasi antarpihak dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong perkembangan startup di daerah.
Sementara itu, Coach Wulan dari Pelatih Indonesia menyoroti kesiapan founder ketika hendak bertemu investor. Menurutnya, investor tidak hanya melihat produk yang ditawarkan, tetapi juga karakter founder.
“Persiapan itu tidak hanya, bukan, tapi juga melihat bagaimana karakter para founder itu penting sekali. Jadi persiapannya nggak hanya persiapan produk,” ujar Coach Wulan.
Wulan juga mendorong calon founder startup halal untuk memahami industri halal sebelum mengembangkan bisnis. Pemahaman tersebut dinilai dapat membantu founder menemukan persoalan yang dapat diberikan solusi melalui bisnis.
Dari perspektif investor, Satia Pradana selaku Founder Inspira Group & Bisnishack Group mengatakan founder perlu memahami bahwa pendanaan bukan sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Bentuk pengembalian kepada investor dapat berupa saham, bagi hasil, maupun profit.
“Biasanya duit itu nggak ada yang gratis, artinya dia harus dibalikin dalam bentuk saham, bagi hasil atau profit,” kata Satia Pradana.
Satia juga menekankan pentingnya menemukan pelanggan sebelum startup terlalu berfokus mencari investor. Menurutnya, keberadaan pelanggan dapat menunjukkan bahwa produk atau jasa yang ditawarkan memiliki pasar.
“Startup pemula, fokus nyari customer, fokus nyari customer, fokus nyari customer,” ujarnya.
Menurut Satia, selain pelanggan, profit dan pertumbuhan bisnis juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan daya tarik startup di mata investor. Investor juga dinilai tidak hanya dapat berperan sebagai pemberi modal, tetapi bisa memberikan dukungan strategis melalui pengalaman maupun jaringan yang dimiliki.
Sementara itu, Rexio Saragih dari Intasi Ladanggo, selaku peserta, mengatakan dirinya mengikuti kegiatan tersebut untuk memperluas relasi dengan sesama founder startup. Ia juga mendapatkan wawasan mengenai pengembangan bisnis dari para mentor.
“Untuk kegiatan hari ini, saya mendapatkan banyak insight dari para mentor terkait dengan bagaimana meng-expand atau mengembangkan dari startup kami sendiri,” ungkap Rexio Saragih.
Menurut Rexio, materi yang disampaikan cukup menjawab kebutuhannya, terutama terkait pengelolaan, manajemen, dan pertumbuhan startup.
Kegiatan From Halal Startup to Investor menjadi ruang bagi pelaku dan calon founder untuk memahami kesiapan yang dibutuhkan sebelum memasuki ekosistem investasi. Startup tidak hanya dituntut memiliki ide, tetapi juga perlu membuktikan keberadaan pasar, membangun karakter founder, serta memiliki kemampuan untuk berkembang secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku startup dengan praktisi dan pegiat ekosistem startup untuk membahas pengembangan bisnis, kesiapan founder, industri halal, hingga perspektif investor. Dalam materi publikasinya, kegiatan ini juga menawarkan peluang pendanaan investor hingga Rp 50 miliar.














