
Potret petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta saat memadamkan salah satu kebakaran lahan pada 2 Agustus 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, terutama selama musim kemarau. Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya potensi kebakaran lahan akibat cuaca panas, kondisi kering, serta angin yang dapat membuat api cepat merembet.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta, Taokhid, mengatakan sejak awal tahun hingga akhir Juli 2026 tercatat sebanyak 42 kejadian kebakaran di Kota Yogyakarta. Dari jumlah tersebut, lima kejadian merupakan kebakaran lahan.
Yang terbaru, terjadi pada awal Agustus, di mana ada dua kebakaran lahan dalam waktu yang hampir bersamaan, Ahad (2/8/2026). Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikasi meningkatnya risiko kebakaran lahan selama musim kemarau.
“Ternyata pada musim kemarau, cuaca panas dan kering ini ada indikasi peningkatan kasus kebakaran yang berkaitan dengan lahan. Indikasinya disebabkan karena membakar sampah tidak diawasi, yang kemudian merembet,” kata Taokhid dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Dua kebakaran lahan tersebut terjadi di Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, dengan area terbakar seluas sekitar 32 meter persegi. Kurang dari satu jam kemudian, kebakaran lahan juga terjadi di area asrama di Pringgokusuman, Kemantren Gedongtengen, dengan luas sekitar 56 meter persegi.
Kedua kebakaran berhasil dipadamkan petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta bersama personel Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) serta masyarakat sekitar. Tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian tersebut, namun tanaman dan lahan mengalami kerusakan akibat terbakar.
Taokhid mengatakan kebakaran lahan dalam waktu berdekatan menjadi peringatan bagi masyarakat karena api berpotensi meluas hingga ke kawasan permukiman. “Cuaca yang panas kering ditambah angin ketika ada api, ada bara saja bisa cepat sekali kemudian timbul kerawanan kebakaran di lahan yang banyak rumput dan tanaman kering. Maka antisipasinya kami harap masyarakat tidak membakar sampah,” ujar Taokhid.












