Sepuluh Tahun Berlalu dengan Pertanyaan yang Sama

by -77 Views
image
banner 468x60
image

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa dekat ketika saya mengikuti rangkaian Dies Natalis ke-32 Universitas Amikom Yogyakarta, Senin, 12 Oktober 2026 yang lalu. Sepuluh tahun lalu saya pernah berdiri di tempat yang kurang lebih sama, dalam momentum Dies Natalis ke-22. Saat itu, kampus ini masih bernama STMIK AMIKOM Yogyakarta. Saya mendapat kesempatan menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Peranan Pemrosesan Bahasa Alami dalam Era Kemajuan Teknologi.”

banner 336x280

Orasi tersebut membahas berbagai hal yang pada waktu itu terasa sebagai bagian dari masa depan teknologi, yaitu mesin penerjemah, transliterasi, pemeriksaan ejaan dan tata bahasa, hingga pengolahan bahasa untuk berbagai kebutuhan. Ada pula pembahasan tentang Big Data dan gagasan Smart Data. Data yang semakin banyak tidak otomatis menjadi pengetahuan yang berguna. Data perlu dikumpulkan, dihubungkan, dianalisis, dan yang tidak kalah penting, memiliki kualitas serta integritas yang baik agar dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Jika mengingatnya sekarang, rasanya seperti melihat sebuah foto lama. Kini, sepuluh tahun telah berlalu. Menariknya, pada Dies Natalis ke-32 ini saya kembali mendengarkan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Amikom Yogyakarta, Hanif Al Fatta, S.Kom., M.Kom., Ph.D. Orasi kali ini berjudul “Model Ekosistem Inovasi Komputasi Berdampak: Mengintegrasikan Kecerdasan Buatan, Interaksi Manusia-Komputer, dan Keunggulan Bersaing untuk Pembangunan Berkelanjutan.” Teknologi yang ada saat ini tentu sudah jauh berbeda.

Satu dekade yang lalu, Natural Language Processing, Big Data, Machine Translation, dan Smart Data terasa seperti bagian dari perkembangan teknologi yang sedang kita nantikan. Kini kecerdasan artifisial telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Komputer tidak hanya semakin mampu mengolah data, tetapi juga semakin mampu memahami dan menghasilkan bahasa manusia.

Namun, ketika mendengarkan orasi ilmiah kali ini, terasa ada sebuah pertanyaan yang seakan tidak berubah. Untuk apa ilmu dan teknologi dikembangkan? Pak Hanif merumuskan pertanyaan itu dengan cara yang lebih luas. Perguruan tinggi tidak cukup hanya bertanya tentang apa yang dihasilkan, tetapi juga tentang perubahan apa yang benar-benar terjadi karena pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan.

Pertanyaan tersebut terasa sangat relevan jika kita melihat perjalanan Amikom. Sebuah perguruan tinggi yang dahulu bernama Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Amikom Yogyakarta, kemudian menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Amikom Yogyakarta, dan sangat lekat dengan pendidikan komputer, kini telah berkembang menjadi Universitas Amikom Yogyakarta dengan bidang keilmuan yang lebih luas. Teknologi yang menjadi bagian penting dari identitasnya pun berkembang dari waktu ke waktu.

Dulu kita banyak berbicara tentang bagaimana komputer dapat memahami bahasa manusia. Sekarang kita berbicara tentang kecerdasan artifisial, interaksi manusia-komputer, ekosistem inovasi, kewirausahaan berbasis pengetahuan, hingga pembangunan berkelanjutan. Dari kemampuan teknologi, pembicaraan kemudian bergerak menuju dampak teknologi.

Seperti yang disampaikan dalam orasi ilmiah Pak Hanif tersebut, inovasi komputasi perlu memperhatikan bukan hanya ketepatan teknis, tetapi juga kemudahan penggunaan, aksesibilitas, dan konteks penggunanya. Teknologi baru benar-benar memiliki makna ketika dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi manusia.

Di titik ini saya kembali teringat pada orasi ilmiah saya sepuluh tahun lalu. Pada bagian akhir orasi, saya menyampaikan harapan agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa kita pada karya-karya yang lebih baik dan bermanfaat bagi khalayak umum. Kini, harapan tersebut masih terasa sangat relevan, bahkan mungkin semakin penting, terlebih karena teknologi saat ini jauh lebih kuat dibandingkan sepuluh tahun lalu.

Dies Natalis pastilah bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah institusi. Dies Natalis juga merupakan kesempatan untuk melihat ke belakang dan menyadari sejauh apa perjalanan telah ditempuh. Sekaligus melihat ke depan dan bertanya “apa yang akan kita lakukan dengan ilmu, pengalaman, dan teknologi yang telah kita miliki?”

Sepuluh tahun lalu saya berbicara tentang teknologi yang sedang menuju masa depan. Hari ini, sebagian dari masa depan itu telah menjadi kenyataan. Dan mungkin tugas kita sekarang bukan hanya menunggu teknologi berikutnya datang, tetapi memastikan bahwa setiap kemajuan teknologi benar-benar membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Taha: 114). Ilmu memang terus bertambah. Teknologi juga terus berkembang. Tetapi perjalanan sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari seberapa jauh teknologi yang berhasil dikembangkan. Ada yang lebih penting, yakni seberapa jauh ilmu itu mampu menjadi karya dan memberikan manfaat.

Sepuluh tahun telah berlalu. Teknologi berubah, istilah berubah, kemampuan manusia dan mesin berkembang begitu cepat. Namun, sebuah pertanyaan yang sama akan tetap abadi, yaitu “untuk apa ilmu yang kita miliki?” Selamat Ulang Tahun ke-32 Universitas Amikom Yogyakarta. Wallāhu a’lam.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.