Prototipe Literasi Digital Sikomhati untuk Pengurangan Bullying Diimplementasikan di SMAN 1 Seyegan

by -5 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — SMAN 1 Seyegan di Sleman menjadi lokasi penerapan hasil temuan penelitian tahun ini yaitu Prototipe Literasi Digital Sikomhati.id untuk Pengurangan Bullying dan Cyberbullying Smart School DIY pada Senin (10/8/2026). Kegiatan ini melibatkan ratusan siswa dan guru sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi digital sekaligus menekan potensi perundungan di lingkungan sekolah.

banner 336x280

Program tersebut merupakan hasil penelitian terapan luaran prototipe yang didanai oleh DPPM Kemendiktisaintek 2026. Hadi pada acara ini, dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta , Prof Puji Lestari sebagai ketua tim peneliti. Puji penerima hibah penelitian ke-16 tahun ini menekankan bahwa bullying dan cyberbullying tidak boleh lagi dianggap sebagai hal biasa di kalangan remaja.

Dalam pelaksanaan implementasi ini, siswa terlebih dahulu mengikuti pretest untuk mengetahui kemampuan awal dan pemahaman mereka terkait komunikasi hati, bullying dan cyberbullying. Hasil pretest digunakan oleh tim peneliti untuk lakukan treatment literasi digital komunikasi hati kepada para siswa melalui sikomhati.id.

Treatment dilakukan selama lima pekan dengan materi komunikasi hati selama tiga pekan, tentang pengurangan bullying seminggu dan cyber bullying sepekan, total lima pekan. Setelah itu literasi komunikasi hati dilakukan secara mandiri oleh sekolah. Bentuk materi yang diunggah bervariasi seperti modul, cerita bergambar atau komik, dan video hasil kreativitas tim peneliti. Setelah para siswa selesai mengikuti program literasi digital komunikasi hati, dilakukan posttest guna mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku mereka terkait perundungan.

Pendekatan eksperimen ini digunakan untuk melihat sejauh mana program literasi digital Sikomhati.id mampu meningkatkan kesadaran siswa dalam mencegah perundungan, hingga tangguh dan berkolaborasi memberantas perilaku bullying dan ciberbullying.

Prof Puji Lestari mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi generasi Z. Menurutnya, konflik sosial akibat bullying, maupun cyberbullying, krisis identitas, kesepian, hingga hilangnya empati merupakan bentuk bencana sosial dan mental yang perlu mendapat perhatian serius.

Bullying jangan dianggap biasa, hanya bercanda. Satu kata bisa membawa luka, tekanan batin yang berkepanjangan bahkan mengakibatkan nyawa melayang, seperti kasus nakes yang memberi komentar negatif pada akun pasien BPJS yang membuat status delapan jam di UGD belum memeroleh kamar, setelah banyak tanggapan negatif akhirnya pasien meninggal dunia. Di era digital, mudah terjadi konflik sosial akibat nir empati. Ini adalah tantangan besar bagi penerus generasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kasus cyberbullying kini banyak terjadi melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan aplikasi digital lainnya. Banyak orang ingin viral tanpa nalar.

Dalam pengantar yang disampaikan, Prof Puji memperkenalkan konsep komunikasi hati, yaitu perpaduan antara olah pikir, olah rasa, empati ciptakan kedamaian hati.

Menurutnya, komunikasi hati mencakup olah pikir yaitu mengarahkan pikiran ke hal-hal positif. Kejadian buruk sekalipun dapat diambil hikmah positifnya.

Olah rasa mengubah perasaan negatif sebagai sampah hati (iri, benci, dendam, marah, dll) segera diubah diolah menjadi energi atau semangat untuk kebaikan diri, termasuk meningkatkan prestasi. “Membiasakan sikap empati akan banyak memberi manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain, yang dapat menciptakan kedamaian hati. Hati yang damai, emosi stabil, perasaan ikhlas, bersyukur, tetap tenang walau situasi krisis, perasaan nyaman, bahagia, membuat keputusan yang diambil lebih berdampak positif. Lakukan saring sebelum sharing. Jangan mudah menyebarkan sesuatu sebelum memahami fakta dan dampaknya,” katanya.

Prof Puji juga mengajak siswa menahan diri agar tidak menjadi pelaku bullying maupun cyberbullying. Biasakan komunikasi hati dengan penuh empati yang menghasilkan berbagai kebaikan. “Orang baik biasanya ketemu dengan orang-orang baik dan memiliki nasib yang baik,: katanya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Sunarya, mengaku pihak sekolah selama ini prihatin terhadap maraknya kasus bullying di tingkat sekolah menengah. Namun, ia menyebut kasus di SMAN 1 Seyegan tergolong minim dan dapat ditangani melalui koordinasi bersama.

Ia mencontohkan pernah terjadi kasus bullying yang berawal dari candaan dan salah paham. Seorang siswa yang bukan warga asli Yogyakarta mengucapkan guyonan yang dianggap kurang pantas oleh temannya. Orang tua siswa kemudian melapor ke sekolah.

“Kami langsung tangani bersama guru BK. Siswa yang bersangkutan diminta menjelaskan, orang tua dipertemukan, dan akhirnya masalah selesai secara damai,” jelas Sunarya.

Sunarya menyambut baik hasil temuan komunikasi hati Prof Puji Lestari. Implementasi Sikomhati.id ini tidak hanya menekan bullying, tetapi juga membantu mencegah perilaku negatif lain yang rentan terjadi pada remaja, termasuk klithih. Ini sudah disediakan fitur di sikomhati.id yang dapat digunakan oleh sekolah secara mandiri.

Menurutnya, pendekatan komunikasi hati dapat mengubah niat siswa dari kegiatan negatif menjadi aktivitas yang lebih positif dan produktif.

Dengan jumlah siswa mencapai ratusan orang, sekolah merasa sangat terbantu dengan adanya program ini dan berharap kerja sama dengan UPN Veteran Yogyakarta dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Kami berharap siswa kembali pada marwahnya sebagai pelajar, yaitu belajar dan berkembang, bukan melakukan perundungan,” kata Sunarya.

Ia juga mengakui sekolah masih membutuhkan lebih banyak referensi dan pelatihan komunikasi hati bagi guru untuk menangani kasus-kasus terbaru secara komprehensif. Saat ini SMAN 1 Seyegan memiliki 56 guru dan 5 guru BK.

Sebagai langkah pencegahan, sekolah telah menjalankan program Pamong Dampingi Murid (Padamu) bahkan sebelum adanya kebijakan guru wali dari pemerintah.

Dalam program ini, setiap kelas didampingi dua guru pamong dan wali kelas. Pertemuan dilakukan setiap Jumat pada minggu keempat di lingkungan sekolah, termasuk di kantin atau ruang terbuka.

Guru mendengarkan berbagai keluhan siswa, mulai dari hubungan pertemanan, hubungan dengan guru, kesulitan pelajaran bahkan masalah keluarga.

“Dari situ kami bisa mengidentifikasi masalah sejak dini, termasuk ketidaksukaan terhadap guru atau konflik antarsiswa, lalu memberikan pengertian secara perlahan. Komunikasi dari hati ke hati juga dilakukan,” ujarnya.

Sekolah kini terus memperkuat pengawasan dan komunikasi bekerja sama dengan orang tua, meski pemantauan media sosial siswa masih menjadi tantangan.

Salah satu siswa kelas XII, Asyifa, menilai simulasi website Sikomhati.id mudah diterima, sederhana dan mudah dipahami sehingga tertarik menggunakannya.

“Dari materi bacaan di website, kami belajar komunikasi hati termasuk mengelola emosi dengan lebih baik, jadi mengendalikan diri, tidak mudah marah atau sakit hati,” katanya.

Hal senada disampaikan Cesilia, siswa kelas XII bahwa kami senang keberadaan sikomhati.id dengan berbagai fitur dan content menarik, termasuk ada tempat curhat dan janjian pertemuan. Ia berharap materi komunikasi hati dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama terkait bullying dan ciberbullying.

“Kami diajarkan selalu berpikir positif dan mengelola sampah hati diubah menjadi energi untuk berprestasi.Ini bisa diterapkan dalam pergaulan sehari-hari,” ujarnya.

Sekolah menyambut positif program ini karena kreativitas remaja yang tinggi dinilai rentan salah arah apabila tidak dibimbing dengan baik. Sunarya berharap edukasi literasi digital komunikasi hati juga dapat menjangkau orang tua dan guru, sehingga pencegahan bullying dilakukan secara bersama-sama.

Kami berharap program Sikomhati.id di SMAN 1 Seyegan menjadi contoh bagaimana literasi digital, pendampingan emosional dengan komunikasi hati dapat mencapai kolaborasi sekolah–orang tua–perguruan tinggi. Ini menjadi strategi preventif untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, empatik, dan sehat bagi generasi muda sesuai kebijakan Kemendikbud 2026.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.