Pemkab Kulon Progo Tegaskan 7.500 Obor HUT ke-75 Simbol Pengobar Semangat Pembangunan

by -10 Views
image
banner 468x60
image

REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO, – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menegaskan bahwa atraksi menyalakan 7.500 obor dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-75 merupakan simbol utama untuk mengobarkan semangat dan daya juang masyarakat dalam pembangunan daerah. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB di Alun-Alun Wates.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyatakan nyala api obor melambangkan energi positif yang harus dihidupkan kembali di tengah-tengah masyarakat. Ia menjelaskan filosofi mendalam dari penggunaan elemen api dalam momentum bersejarah ini.

banner 336x280

“Api yang bisa kita tata dan kita kendalikan itu adalah spirit. Kalau api membakar diri, itu yang tidak bersemangat. Maknanya jelas, untuk membakar semangat agar kita semua lebih fokus,” kata Agung Setyawan di Kulon Progo, Rabu.

Bupati menekankan bahwa pemadaman listrik secara singkat saat penyalaan obor dilakukan khusus demi mendukung suasana kesakralan dan kekhidmatan upacara malam. Langkah tersebut tidak berlangsung lama dan sama sekali tidak menggambarkan kondisi serba terbatas bagi masyarakat secara umum.

Tanggapi Kritik dan Isu Air Bersih

Agung meminta berbagai pihak untuk tidak gegabah mengatasnamakan seluruh warga Kulon Progo dalam menyampaikan kritik di media sosial. Menurutnya, masyarakat justru menyambut momen peringatan bersejarah ini dengan penuh antusiasme dan tidak ada penolakan dari warga sekitar tempat penyelenggaraan.

“Jangan mengambil kata warga atau mewakili masyarakat secara keseluruhan. Ini kan sebuah ide dan konsep acara upacara malam yang menarik,” jelas Agung.

Terkait respons netizen, Agung mengaku perbedaan pendapat di tengah masyarakat merupakan hal yang biasa dan wajar dalam sebuah negara demokratis. Ia menegaskan pemerintah daerah tidak pernah menutup mata terhadap komentar publik, namun kritik di media sosial tidak boleh menghentikan langkah pemerintah untuk terus bekerja.

Agung juga menepis anggapan pemerintah daerah tidak sensitif terhadap isu penanganan kebutuhan dasar masyarakat, seperti krisis air bersih. Ia menegaskan agenda kebudayaan dan penanganan masalah teknis masyarakat berjalan beriringan tanpa saling mengesampingkan.

“Tadi malam saya masih mengawal penyelesaian masalah air sampai jam 11 malam, turun langsung ke pos-pos penanganan. Itu kerja riil yang terus kita jalankan,” terangnya.

Detail Teknis dan Filosofi Acara

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo Joko Mursito membeberkan detail teknis penyelenggaraan. Peringatan tahun ini mengusung tema agung “Nyawiji Anjayeng Bawana” yang melambangkan semangat persatuan yang padu serta visi besar Kabupaten Kulon Progo untuk berkontribusi nyata bagi Nusantara.

Joko mengungkapkan pertunjukan seni kolosal yang disiapkan mengambil inspirasi utama dari lakon dan kearifan lokal “Api di Bukit Menoreh“. Filosofi api tersebut ditegaskan sebagai nyala bara semangat untuk menerjang berbagai tantangan zaman.

“Inspirasi utamanya adalah Api di Bukit Menoreh. Api di sini bukan sekadar kobaran fisik, melainkan simbol bara semangat masyarakat Kulon Progo dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman,” terang Joko Mursito.

Secara teknis, prosesi penyalaan obor akan diawali secara simbolis oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Api utama tersebut kemudian diteruskan secara estafet kepada para panewu (Camat) dan seluruh peserta upacara yang memegang obor. Aksi penyalaan 7.500 obor ini dirancang berlangsung singkat dan terisolasi dengan aman di area pertunjukan.

Di puncak pertunjukan kolosal, panitia akan menampilkan prosesi pembentangan bendera Merah Putih berukuran besar yang dipadukan dengan pementasan peta Kulon Progo. Pagelaran budaya ini melibatkan ribuan seniman lintas generasi, sedikitnya ada 75 sinden, 750 penari, serta 40 pelukis lintas usia asal Kulon Progo.

“Penyelenggaraan ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan budaya yang megah, tetapi juga menjadi tuntunan yang menyatukan seluruh elemen warga Kulon Progo dalam meraih masa depan yang lebih maju,” katanya.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.