
Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Program
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimanfaatkan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memperkuat dakwah dan pemberdayaan masyarakat akar rumput. Melalui Program “Berbagi Kebajikan Bersama Jaringan Akar Rumput Muhammadiyah”, sebanyak 650 paket daging kurban disalurkan kepada 11 kelompok dampingan Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, Dr. M. Nurul Yamin, menyampaikan kegiatan kurban bersama ini telah memasuki tahun keempat pelaksanaannya. Menurutnya, MPM bersama para mitra secara konsisten menghadirkan program berbagi kebahagiaan bersama masyarakat dampingan setiap momentum Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.
“Acara kurban bersama dampingan MPM Muhammadiyah ini sudah berlangsung yang keempat kalinya. Setiap hari raya, apakah itu Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Idul Fitri, MPM selalu menyelenggarakan berbagi kebahagiaan dengan para dampingan yang dikelola bersama dampingan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya,” ujarnya dalam acara Opening Ceremony Idul Qurban 1447H/2026M Berbagi Kebajikan Bersama Jaringan Akar Rumput Muhammadiyah di Kampus UAD, Sabtu (30/5/2026).
Pada tahun ini, MPM PP Muhammadiyah menyembelih 54 ekor kambing dan 8 ekor sapi yang berasal dari mitra dan para sohibul kurban. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Nurul Yamin menjelaskan, penyembelihan hewan kurban tahun ini dilakukan bekerja sama dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) milik Pemerintah Kota Yogyakarta guna memastikan proses yang lebih profesional dan higienis.
“Hewan yang kita potong hari ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya dan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah untuk menitipkan penyaluran hewan kurbannya untuk dibagikan kepada para pihak yang berhak menerima,” katanya.
Nantinya, daging kurban tersebut akan dibagikan kepada 11 kelompok dampingan penerima manfaat program tersebut. Mereka terdiri atas komunitas difabel di berbagai wilayah, Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam), kelompok nelayan di Gunungkidul dan Bantul, kelompok pemulung yang terlibat dalam pengelolaan sampah di TPST Piyungan, produsen gula nira dari Kulonprogo, hingga kelompok pedagang asongan di Kota Yogyakarta.














