
malinda eka
Info Terkini | 2026-08-10 15:21:17
Oleh: Malinda Eka P

Ruang publik kita hari ini, baik yang nyata di jalan raya maupun yang maya di media sosial, seolah menjadi panggung yang mempertontonkan betapa rapuhnya kondisi psikologis masyarakat. Di balik kemewahan infrastruktur dan kemajuan teknologi, kita justru dihadapkan pada krisis pengendalian emosi yang kian sering viral di berbagai linimasa. Maraknya insiden road rage (kemarahan di jalan raya), perundungan siber (cyberbullying), hingga arogansi oknum aparat menunjukkan bahwa kemajuan fisik tidak selalu sejalan dengan kematangan emosi. Fenomena ini bukan lagi sekadar pelanggaran lalu lintas biasa, melainkan wujud nyata dari kelelahan mental dan menipisnya rasa empati sosial masyarakat kita.
Kajian Estetika Humanisme (Human Literacy) menawarkan sudut pandang yang sangat relevan untuk membedah masalah ini (Syauqi, 2024). Pendidikan ini tidak hanya berfokus pada kecerdasan otak, tetapi juga menitikberatkan pada pentingnya kecerdasan emosional, manajemen kemarahan (anger management), dan pemahaman diri yang sehat. Tujuannya jelas yaitu agar kita tidak terjebak dalam ego dan arogansi yang sempit. Setiap interaksi sosial seharusnya dilandasi oleh empati dan kesadaran untuk memanusiakan manusia. Esai ini akan mengupas apa yang sebenarnya memicu agresivitas masyarakat di ruang publik dan bagaimana kita bisa meredamnya melalui pengelolaan emosi yang tepat.
Jalan Raya Sebagai Ujian Pengendalian Diri
Jalan raya kerap diibaratkan sebagai urat nadi ekonomi, tetapi di sisi lain, ia adalah tempat yang paling menguji kesabaran dan regulasi diri manusia. Fenomena road rage di Indonesia mencakup berbagai perilaku merusak, mulai dari adu mulut, intimidasi, perusakan kendaraan, hingga kekerasan fisik. Kemacetan, cuaca panas, dan tekanan waktu memang memperbesar peluang munculnya stres lingkungan. Namun, berbagai video viral membuktikan bahwa hilangnya kendali emosi ini bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang status sosial, kekayaan, maupun tingkat pendidikan.
Mari kita lihat beberapa kasus yang mencerminkan hilangnya nilai humanisme ini. Di Yogyakarta, dua pengendara motor marah dan meluapkan emosi saat ditegur karena melawan arus, tidak memakai helm, dan menerobos lampu merah. Publik sering menyebut fenomena ini sebagai “siapa yang salah, siapa yang galak”. Secara psikologis, teguran tersebut tidak diproses dengan akal sehat, melainkan dianggap oleh otak sebagai ancaman terhadap harga diri yang berujung pada insting perlawanan.
Kasus lain menunjukkan arogansi kekuasaan. Di jalan akses Bandara Internasional Minangkabau (BIM), seorang oknum aparat terekam menganiaya pengendara sipil hanya karena masalah menyalip. Padahal, korban sudah meminta maaf secara langsung. Ada pula kasus di Sunter, Jakarta Utara, di mana seorang pengemudi merusak kaca spion dan wiper mobil lain karena frustrasi tidak diberi jalan. Kegagalan menahan rasa frustrasi dalam hitungan detik ini justru berujung pada ancaman pidana penjara. Di Palembang, senggolan kendaraan memicu seorang pria melontarkan kata kasar dan menantang duel seorang pengemudi wanita, yang berujung pada kecaman publik karena dianggap merendahkan martabat perempuan.
Namun, di tengah deretan kasus memprihatinkan tersebut, ada sebuah kisah di Jagakarsa, Jakarta Selatan yang patut diteladani. Seorang pelatih Taekwondo berseragam lengkap (dobok) ditegur dengan pukulan oleh pengendara motor yang melanggar arus. Secara fisik, sang pelatih sangat mampu membalas dan melumpuhkan pelaku. Namun, ia memilih diam dan menahan diri. Ketidakmelawanan ini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari pengendalian diri (self-control) dan kecerdasan emosional yang matang.
Apa yang Sebenarnya Memicu Amarah Kita?
Amarah yang meledak di jalan tidak muncul secara tiba-tiba, ia adalah tumpukan dari hal-hal kecil yang mengganggu kenyamanan. Sering kali, pemicu utama emosi di jalan bukanlah kemacetan itu sendiri, melainkan perilaku pengemudi lain yang mengabaikan etika. Misalnya, berpindah lajur tanpa menyalakan lampu sein, menempel jarak terlalu dekat (tailgating), hingga mengerem mendadak tanpa alasan yang jelas. Tindakan-tindakan ini dianggap egois, melanggar ruang personal, dan mengancam keselamatan nyawa.
Selain perilaku orang lain, kondisi fisik kita sendiri sangat menentukan. Kelelahan dan kurang tidur adalah musuh utama dari sistem pengelolaan emosi manusia. Secara medis, saat kita kurang istirahat, bagian otak yang berfungsi untuk berpikir logis (korteks prefrontal) menjadi kelelahan, sementara pusat emosi (amigdala) menjadi sangat sensitif dan reaktif (Tim Pengajar MKU, 2024). Akibatnya, hal sepele seperti bunyi klakson tidak lagi diproses secara rasional, melainkan direspons dengan ledakan amarah yang di luar batas kewajaran.
Konsep Diri, Pelepasan Moral, dan Kecerdasan Emosional
Melalui kajian Estetika Humanisme, kita diajak untuk melihat kembali “konsep diri” (self-concept) kita. Konsep diri adalah cara kita menilai kemampuan dan harga diri sendiri. Orang yang mudah marah saat dikritik biasanya memiliki harga diri yang rapuh. Karena tidak terbiasa mengelola kritik, mereka menggunakan agresi sebagai tameng untuk menutupi kelemahan atau kesalahan tersebut.
Pakar psikologi Daniel Goleman menekankan pentingnya Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence). Dalam hidup bersosial, kecerdasan otak (IQ) saja tidak cukup. Kita sangat membutuhkan kesadaran diri, pengendalian impuls, empati, dan keterampilan sosial. Marah sejatinya adalah reaksi biologis yang normal untuk melindungi diri. Namun, kebiasaan meluapkan amarah tanpa disaring akan berubah menjadi penyakit sosial yang merusak.
Lalu, mengapa orang yang sehari-harinya santun bisa berubah menjadi sangat agresif saat berada di balik kemudi? Dalam ilmu psikologi, ini disebut pelepasan moral (moral disengagement) (Bandura dkk., 1996). Ruang kabin kendaraan yang tertutup kaca gelap menciptakan ilusi bahwa kita terasing dan kebal dari sanksi sosial. Pengguna jalan lain tidak lagi dipandang sebagai sesama manusia yang punya keluarga dan perasaan, melainkan direduksi hanya sebagai rintangan benda mati yang menghalangi laju kita. Ilusi inilah yang membuat seseorang dengan mudahnya bertindak amoral tanpa merasa bersalah.
Langkah Nyata Manajemen Kemarahan (Anger Management)
Dalam kacamata Estetika Humanisme, anger management bukan berarti membungkam atau memendam emosi. Manajemen kemarahan adalah kemampuan menyalurkan emosi dengan cara yang tepat, positif, dan dapat diterima oleh lingkungan sosial. Terdapat beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
Pertama, kenali sinyal tubuh. Sebelum marah mencapai puncaknya, tubuh selalu memberikan peringatan dini, seperti jantung yang berdebar kencang, napas pendek, dan otot-otot rahang yang menegang. Seseorang yang memiliki literasi kemanusiaan yang baik akan peka menyadari tanda ini, lalu segera mengerem emosinya.
Kedua, praktikkan kesadaran penuh (mindfulness). Saat sinyal amarah muncul, tariklah napas dalam-dalam. Mindfulness berarti kita memusatkan perhatian pada kondisi saat ini secara tenang tanpa langsung bereaksi. Memberikan jeda waktu beberapa detik ini sangat penting agar bagian otak yang rasional bisa mengambil alih kendali dari pusat emosi.
Ketiga, ubah narasi dalam pikiran (restrukturisasi kognitif). Sering kali kita marah karena asumsi negatif kita sendiri. Daripada berpikir, “Dia sengaja memotong jalanku untuk menghinaku,” cobalah ubah polanya menjadi, “Mungkin dia sedang buru-buru karena ada keadaan darurat keluarga.” Perubahan cara pandang ini terbukti ampuh memadamkan bahan bakar amarah.
Jika memang harus menegur, lakukan dengan komunikasi asertif. Asertif berarti kita berani menegaskan batasan secara lugas dan jelas, tanpa harus berteriak, menggunakan kata kasar, atau merendahkan martabat orang lain.
Menulis dan Menebar Empati: Sebuah Kesimpulan
Masalah agresivitas yang marak terjadi di jalan raya maupun di ruang komentar media digital sejatinya adalah cerminan dari krisis kecerdasan emosional. Kegagalan menahan diri, rapuhnya harga diri, serta hilangnya rasa kemanusiaan di balik kemudi adalah akar dari berbagai perpecahan sosial. Oleh karena itu, pendekatan Estetika Humanisme yang mengajarkan anger management, relaksasi, dan komunikasi asertif menjadi solusi yang sangat krusial. Sikap pelatih Taekwondo di Jagakarsa adalah bukti nyata bahwa kekuatan tertinggi seorang manusia bukanlah kemampuannya menghancurkan orang lain, melainkan kemampuannya menaklukkan ego pribadi demi kedamaian bersama.
Di sisi lain, menyuarakan isu-isu seperti ini melalui tulisan opini di platform media massa nasional adalah langkah nyata para akademisi untuk mengedukasi publik. Berbagai media besar menetapkan standar artikel opini yang argumentatif, berbasis data, dan santun (Geotimes, n.d.; RadVoice Indonesia, 2024). Menulis opini yang layak muat memaksa kita meramu gagasan dengan jernih, meredam luapan emosi mentah, dan menawarkan solusi yang mencerahkan bagi masyarakat luas.
Sebagai rekomendasi kebijakan ke depan, pihak kepolisian dan dinas terkait perlu bekerja sama dengan lembaga psikologi untuk memasukkan pelatihan manajemen stres (coping stress) dan intervensi psikologis ke dalam program keselamatan berlalu lintas. Pendekatan seperti konseling atau terapi kognitif terbukti efektif untuk merekonstruksi emosi dan menekan perilaku agresif, khususnya bagi komunitas otomotif, pengemudi transportasi publik, maupun pelanggar lalu lintas yang berulang.
Selanjutnya, kampanye mengenai pentingnya refleksi kognitif (cognitive reflection) harus digalakkan di ruang publik. Masyarakat perlu diedukasi agar mampu menahan respons emosional spontan dan berpikir jernih sebelum bertindak. Edukasi ini dapat berupa kiat-kiat memanajemen diri, seperti membiasakan berangkat lebih awal, melatih pernapasan saat macet, serta membayangkan risiko fatalitas dan kerugian materi sebelum meluapkan ego atau meladeni provokasi di jalan. Pada akhirnya, nilai-nilai literasi kemanusiaan ini harus ditanamkan secara masif sejak dini di institusi pendidikan. Tujuannya hanya satu yaitu memastikan generasi masa depan kita tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga bijaksana dan matang secara emosional.
Sumber Referensi
Agustina, R., & Hidayat, A. (2020). Peran konseling individu dalam mengurangi trauma psikologis dan perilaku agresif berlalu lintas. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam.
Bandura, A., Barbaranelli, C., Caprara, G., & Pastorelli, C. (1996). Mechanisms of moral disengagement in the exercise of moral agency. Journal of Personality and Social Psychology.
CNN Indonesia. (2024). Viral pelatih taekwondo sabar hadapi pengendara arogan di Jagakarsa. CNN Indonesia.
Detikcom. (2024). Viral pengendara motor marah saat ditegur lawan arus di Yogyakarta. Detikcom.
Geotimes. (n.d.). Ketentuan pengiriman naskah opini dan pedoman media siber. Geotimes.
Jurnal Pendidikan Karakter. (n.d.). Kajian refleksi kognitif (cognitive reflection) terhadap perilaku aggressive driving. Jurnal Pendidikan Karakter UNESA.
Jurnal Psikoislam. (n.d.). Manajemen emosi dan strategi coping stress pada pengendara kendaraan bermotor. Jurnal Psikoislam.
Kompas. (2024). Kasus penganiayaan oleh oknum polisi di akses Bandara Minangkabau. Kompas.
Kumparan. (2024). Pengemudi rusak spion dan wiper mobil di Sunter. Kumparan.
Purwati. (2021). Menulis itu asyik: Kumpulan karya esai, opini, artikel ilmiah. Gramedia Literasi.
RadVoice Indonesia. (2024). Cara membuat artikel opini yang baik dan layak terbit di media. RadVoice Indonesia.
Syauqi, I. (2024). Modul MKU Estetika humanisme: Analisis diri. Universitas Siber Asia.
Tim Pengajar MKU Estetika Humanisme. (2024). Modul MKU Estetika humanisme part 7: Anger management. Universitas Siber Asia.
Toyota Astra. (n.d.). Cara mengendalikan emosi saat mengemudi mobil agar terhindar dari road rage. Toyota Astra Motor.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.













