Lima Tahun Merger Pelindo, Standardisasi Jadi Kunci Efisiensi

by -4 Views
Public
banner 468x60

Lima tahun pascamerger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas terus diarahkan pada standardisasi layanan, peningkatan efisiensi, serta penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. Transformasi tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan barang di pelabuhan.

JAKARTA – Lima tahun pascamerger PT Pelabuhan
Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas
terus diarahkan pada standardisasi layanan, peningkatan efisiensi, serta
penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. PT Pelindo Terminal Petikemas
menyebut transformasi tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas
sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan barang berada di pelabuhan.

banner 336x280

Corporate
Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan transformasi
sejak merger pada 2021 telah mendorong produktivitas terminal lebih dari 70
persen.

“Alhamdulillah,
produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya
produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay
juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien,” kata Widyaswendra
saat dihubungi Rabu (30/9/2026).

Menurut dia,
transformasi dilakukan melalui standardisasi, sistematisasi, serta peningkatan
kompetensi sumber daya manusia. Dari 32 terminal yang dikelola, hampir
seluruhnya mulai menunjukkan perbaikan.

“Karena merger
sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara
otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya
sudah terlihat secara nyata,” katanya.

Transformasi juga
mencakup optimalisasi peralatan. Merger memungkinkan peralatan dari
terminal yang memiliki kecukupan alat dialihkan ke terminal lain yang lebih
membutuhkan.

“Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat.
Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya
bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan,” jelasnya.

Langkah tersebut turut berdampak terhadap port stay
dan cargo stay. “Dampaknya, port stay dan cargo stay
menjadi lebih baik,” katanya.

Peningkatan produktivitas juga membuka peluang kerja sama
dan pengembangan rute baru. “Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari
pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute
atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas
masing-masing terminal sudah tinggi,” ujar Wendra.

Wendra mengatakan transformasi tersebut diarahkan untuk
memperkuat ekosistem maritim sekaligus mendukung efisiensi biaya logistik
nasional.

“Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan
kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional
kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi
terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,”
katanya.

 

INSA Dorong Perbaikan Berkelanjutan

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian
National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan
layanan Pelindo selama lima tahun merger telah dirasakan perusahaan pelayaran
di berbagai wilayah.

“Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan
banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan
perbaikannya di semua area Pelindo,” kata Carmelita saat dihubungi Rabu
(30/9/2026).

Menurut dia, pembenahan masih perlu dilanjutkan untuk
menciptakan layanan yang semakin terintegrasi di seluruh Indonesia. “Sampai
sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih
terintegrasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Carmelita mengatakan peningkatan kualitas layanan terminal
penting bagi perusahaan pelayaran karena berkaitan langsung dengan
produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya menyangkut bongkar muat,
tetapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal berada di pelabuhan.

“Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan
bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” ujarnya.

Ia menilai kesiapan peralatan menjadi salah satu faktor
penting dalam meningkatkan produktivitas terminal dan mendukung kepastian
jadwal pelayaran.

“Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin
terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” kata Carmelita.

INSA juga
mendorong keberlanjutan standardisasi layanan di berbagai terminal. Menurut
Carmelita, pola layanan yang semakin seragam dibutuhkan perusahaan pelayaran
agar operasional kapal dapat direncanakan dengan lebih baik.

“Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting.
Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian
operasional kapal,” ujarnya.

Di sisi lain,
tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi
industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku
cadang yang masih harus diimpor, turut terdampak.

 

“Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya
yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar,” kata
Carmelita.

“Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga
perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak,” ujarnya.

Menurut Carmelita, efisiensi tidak cukup hanya dilakukan
pengusaha. Pemerintah juga perlu
menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif.

“Efisiensi dari
sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar
struktur biaya industri tetap kompetitif,” katanya.

 

Layanan yang
Konsisten

Lima tahun
setelah merger Pelindo, standardisasi layanan terminal petikemas dinilai
menunjukkan perkembangan positif. Namun, penyamaan sistem dan proses
bisnis belum sepenuhnya membuat kualitas layanan seluruh terminal Pelindo
menjadi seragam.

Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, mengatakan merger Pelindo telah
mendorong standardisasi pengelolaan terminal secara lebih terpusat. Hal itu
terlihat dari penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System
(TOS), hingga indikator kinerja terminal.

“Standardisasi
layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat.
Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah
terstandarisasi secara terpusat,” kata Saut.

Menurut dia,
langkah tersebut menjadi bagian penting dari pembenahan pengelolaan terminal
setelah integrasi Pelindo. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan
standardisasi tersebut menghasilkan kualitas layanan yang konsisten di
lapangan.

“Namun,
konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi
saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing,
tetapi belum homogen secara nasional,” ujarnya.

Kondisi tersebut
perlu dilihat dari karakteristik masing-masing terminal yang dikelola Pelindo.
Tidak semua terminal memiliki kondisi geografis, peralatan, karakteristik
kapal, dan dukungan hinterland yang sama.

“Terminal di
wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal
window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini
berbeda dengan pelabuhan laut dalam,” jelasnya.

Menurut Saut,
kondisi geografis tersebut membuat kinerja terminal tidak bisa semata-mata
dibandingkan berdasarkan satu indikator produktivitas.Faktor lainnya adalah
kesenjangan spesifikasi suprastruktur. Standardisasi TOS, menurut dia, tidak
otomatis membuat produktivitas terminal sama apabila peralatan bongkar muat
yang digunakan berbeda.

“TOS yang sama
jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan
output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek
kapal,” katanya.

Karena itu, Saut menilai Pelindo perlu memastikan
standardisasi juga diikuti dengan peningkatan equipment availability dan
keandalan peralatan. “Tingkat
kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di
terminal luar Jawa masih belum merata,” ujarnya.***

banner 336x280
Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.