
REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL, – Siswa SD Muhammadiyah Geger bersama warga Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menggelar salat Istisqa berjamaah. Ikhtiar spiritual ini dilakukan untuk memohon turunnya hujan di tengah krisis air bersih yang melanda wilayah mereka.
Krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan telah menyebabkan sumber mata air utama warga mengering total. Kondisi ini memaksa para siswa dan masyarakat terpaksa bertayamum karena tidak dapat berwudhu.
Wakil Kepala Kantor dan Fundraising LAZISMU Kotagede, Asyam Rafi, di Yogyakarta, Kamis, menyampaikan keprihatinannya. “Anak-anak sekolah terpaksa harus bertayamum, tidak bisa berwudhu, karena keterbatasan air,” ujarnya.
Salat Istisqa yang diikuti 130 peserta dari siswa, guru, dan warga sekitar digelar di Halaman SD Muhammadiyah Geger, Pundong, pada Rabu (7/10). Kegiatan ini merupakan respons langsung terhadap situasi darurat ketersediaan air bersih di lokasi tersebut.
“Kemarau berkepanjangan telah menyebabkan mata air utama warga mengalami kekeringan total,” jelas Asyam.
Tata Cara dan Simbol Pengharapan
Ia menjelaskan, salat Istisqa merupakan ikhtiar sesuai syariat Islam yang dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, dan lima kali takbir pada rakaat kedua.
Dalam prosesi salat, imam membalikkan jas yang dikenakannya. Tindakan yang disebut tahwilul rida’ ini merupakan simbol pengharapan agar keadaan berbalik, dari kekeringan dan kesulitan menjadi kesuburan, kelimpahan air, serta keberkahan bagi bumi.
“Prosesi membalikkan pakaian (tahwilul rida’) ini dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat Islam,” katanya.
Seusai salat, kegiatan dilanjutkan dengan khutbah yang mengajak para jemaah untuk memperbanyak istighfar dan muhasabah atas musibah kekeringan yang terjadi.
Asyam menambahkan, warga Dusun Geger biasanya mengandalkan mata air yang dipompa menggunakan mesin penyedot untuk dialirkan ke rumah-rumah. Namun, sumber mata air tersebut saat ini hanya mengalir dengan debit yang sangat kecil.
“Krisis air ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih bahkan sekadar untuk bersuci, sebagian warga juga terpaksa harus melakukan tayammum,” ungkapnya.
Sebagai upaya penanggulangan, LAZISMU Kotagede telah menyalurkan lebih dari 40 truk tangki air bersih ke berbagai wilayah yang terdampak kekeringan parah, termasuk di beberapa desa di Kabupaten Gunungkidul.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara





![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75349 [Aggregator] Downloaded image for imported item #75349](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/075459500-1791493216-147802jpg-1-148x111.jpg)



![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75252 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/ptqsiko5er-365-100x111.png)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75206 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/wali-kota-yogyakarta-hasto-wardoyo-menaiki-andong-saat-mengikuti_261007113514-968-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75155 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/ilustrasi-proses-pendistribusian-tiang-listrik-menuju-titik-pembangunan-jaringan_261006213007-905-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75196 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/presiden-resmikan-204-satuan-baru-tni-1791183136303_169-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75057 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/melihat-dari-udara-proyek-tol-yogyakarta-bawen-yang-hampir-selesai-1787843007489_169-148x111.jpg)