Ketika Literasi Hadir dengan Cerita dan Warna

by -3 Views
banner 468x60

Literasi sering kali dipahami sebagai kegiatan membaca buku dan memahami tulisan. Namun, bagi anak-anak, mengenalkan literasi dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan dunia mereka. Sebuah cerita, permainan, gambar, bahkan warna dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap belajar.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan KKN UMT Kunciran Jaya menghadirkan kegiatan Taman Literasi bersama anak-anak di lingkungan RT 05. Kegiatan yang dilaksanakan di Posko KKN UMT Kunciran Jaya RT 05 ini diikuti oleh anak-anak dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP.

banner 336x280

Kegiatan tidak langsung dimulai dengan membaca. Anak-anak terlebih dahulu diajak mengikuti public speaking sederhana dan permainan sebagai pembuka. Suasana dibuat santai agar anak-anak merasa nyaman dan berani berinteraksi. Mereka diajak berbicara, menjawab pertanyaan, mengikuti permainan, dan membangun keberanian untuk tampil di depan teman-temannya.Setelah suasana mulai cair, kegiatan dilanjutkan dengan literasi membaca.

Anak-anak diberikan kesempatan untuk membaca berbagai buku yang telah disediakan, mulai dari buku dongeng hingga buku bacaan lainnya. Buku-buku tersebut menjadi jendela kecil bagi mereka untuk mengenal cerita, tokoh, pengetahuan, dan dunia yang lebih luas.Membaca bersama tidak hanya tentang seberapa banyak halaman yang dapat diselesaikan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk membangun kebiasaan berinteraksi dengan buku.

Mereka dapat menikmati cerita, melihat gambar, memahami isi bacaan, dan menemukan hal-hal baru dari buku yang mereka baca.Setelah membaca, suasana kembali berubah menjadi lebih ceria. Anak-anak diajak mengikuti kegiatan mewarnai bersama. Kertas gambar dan alat warna menjadi media bagi mereka untuk menuangkan kreativitas dan imajinasi.Setiap anak memiliki cara masing-masing dalam memberikan warna.

Ada yang memilih warna-warna cerah, ada yang mengombinasikan banyak warna, dan ada pula yang mengerjakan gambarnya dengan penuh ketelitian. Tidak ada keharusan bahwa semua gambar harus terlihat sama, karena setiap karya memiliki kreativitasnya sendiri.Kegiatan mewarnai menjadi bagian penting dari Taman Literasi karena belajar tidak selalu harus dilakukan melalui kata-kata. Kreativitas juga merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Dari sebuah gambar dan warna, anak-anak dapat belajar sekaligus mengekspresikan diri menikmati proses berkarya.Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, anak-anak diberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan partisipasi mereka.

Senyum dan antusiasme terlihat ketika satu per satu hadiah diberikan.Sebelum kegiatan benar-benar berakhir, mahasiswa KKN UMT Kunciran Jaya mengajak anak-anak melakukan dokumentasi bersama. Momen tersebut menjadi bagian dari kenangan kebersamaan antara mahasiswa KKN dan anak-anak RT 05.Sebagai penutup, anak-anak diajak bernyanyi bersama melalui lagu “Pasti Bisa.” Suara mereka yang dinyanyikan bersama menjadi penutup yang penuh semangat.

Lagu-lagu tersebut seolah menjadi pesan sederhana bahwa setiap anak memiliki kemampuan untuk belajar, mencoba, dan berkembang.Kegiatan Taman Literasi KKN UMT Kunciran Jaya pada akhirnya bukan hanya tentang membaca dan mewarnai. Di dalamnya terdapat proses belajar untuk berani berbicara, bersama, mendengarkan cerita, mengembangkan kreativitas, menghargai karya, dan membangun kepercayaan diri.Literasi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia dapat tumbuh dari sebuah buku dongeng yang dibaca bersama, permainan kecil membuat anak berani berbicara, gambar yang dimulai dengan penuh imajinasi, hingga lagu yang dinyanyikan bersama.Melalui kegiatan ini, KKN UMT Kunciran Jaya berharap Taman Literasi dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendekatkan anak-anak dengan dunia membaca dan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Sebab, ketika membaca terasa menyenangkan, belajar tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dipaksakan.Dan ketika seorang anak mulai percaya bahwa dirinya “pasti bisa”, mungkin di situlah sebuah proses pendidikan sedang tumbuh.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.