Jogja Rendezvous 2026 Hadirkan Keragaman Bentuk dan Ekspresi dalam Dunia Fesyen

by -1 Views
image
banner 468x60
image

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Event tahunan Jogja Fashion Rendezvous (JFR) 2026 kembali digelar di Jogja City Mall pada 9-11 Oktober 2026. Tidak hanya menarik bagi para penggemar fesyen, acara ini juga menarik perhatian para pengunjung yang sedang berlibur. Apalagi acara ini dapat disaksikan secara gratis.

Mengusung tema ‘Navarupa’, JFR yang digelar kali ke-12 tahun ini tersebut ingin mengangkat keragaman bentuk dan ekspresi dalam dunia fesyen. Melalui konsep ini, penyelenggara ingin memperlihatkan bahwa perkembangan mode tidak dapat dilepaskan dari identitas budaya maupun kreativitas yang terus berubah.

banner 336x280

JFR 2026 menghadirkan 77 fashion designer dari berbagai daerah di Indonesia yang tampil dalam tujuh sesi parade fashion show selama tiga hari penyelenggaraan. Kehadiran para desainer dari berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi, menjadi gambaran keberagaman karakter fesyen di Indonesia.

Dalam acara ini, total terdapat lebih dari 50 model profesional, 250 model kids & teen, lebih dari 10 plus-size model, serta 20 mature model yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara ini.

Tema ‘Navarupa’ diangkat dari gagasan mengenai keberagaman bentuk dan ekspresi dalam fashion. Sembilan nilai menjadi landasan penyelenggaraan tahun ini, yaitu warisan budaya, inovasi, identitas, keberlanjutan, kolaborasi, keberagaman, kreativitas, regenerasi, dan masa depan.

Menurut Nyudi Dwijo dari Asmat Pro Group selaku penyelenggara JFR 2026, tema Navarupa merupakan upaya untuk melihat fesyen tidak hanya sebagai pertunjukan busana, tetapi sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang terus berkembang.

“Navarupa kami hadirkan sebagai representasi bahwa fesyen selalu bergerak dan berkembang. Tradisi tetap penting, tetapi kreativitas dan inovasi juga harus berjalan agar fesyen Indonesia mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” ujar Nyudi Dwijo.

Salah satu perhatian JFR 2026 adalah keterlibatan model dari berbagai kelompok usia dan karakter tubuh. Tahun ini, JFR melibatkan lebih dari 50 model profesional, 250 model kids & teen, lebih dari 10 plus-size model, serta 20 mature model.

Komposisi tersebut menjadi bagian dari pesan JFR bahwa panggung fesyen tidak hanya diperuntukkan bagi satu kelompok tertentu.

“Kami ingin membangun ruang fesyen yang lebih terbuka. Anak-anak, remaja, model profesional, plus-size hingga mature model memiliki kesempatan untuk tampil dan menjadi bagian dari industri,” kata Nyudi.

Menurutnya, keterlibatan model dengan latar yang beragam juga menjadi bagian dari proses regenerasi industri fesyen, khususnya di Yogyakarta.

Salah satu desainer dari Hastami Batik, Anes, menjelaskan ia dan timnya menghadirkan koleksi batik dengan konsep kasual yang menyasar kalangan remaja dalam acara ini.

Melalui desain yang modern dan stylish, koleksi ini diharapkan mampu meningkatkan minat generasi muda untuk mengenakan batik dalam aktivitas sehari-hari tanpa harus terkesan formal. Konsep tersebut dirancang agar batik dapat dikenakan dengan lebih santai, nyaman, dan tetap mengikuti perkembangan tren fashion.

“Di fashion show kali ini kita mengusung konsep atau tema anak remaja kasual. Jadi, batik kita itu temanya anak-anak muda biar tetap semangat memakai batik, tapi tidak terlihat formal, stylish memakai batik,” ujar Anes.

Menurutnya, batik memiliki potensi untuk menjadi bagian dari gaya berpakaian generasi muda apabila dikemas dengan desain yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka. Batik tidak harus selalu identik dengan acara resmi, tetapi juga dapat dipadukan menjadi busana kasual yang menarik untuk berbagai kesempatan.

Anes berharap, pendekatan tersebut dapat memperluas jangkauan pengguna batik, terutama di kalangan anak muda. Melalui koleksi yang lebih modern, ia dan tim nya ingin menunjukkan bahwa batik juga dapat dikenakan oleh generasi muda dengan tetap mengutamakan kenyamanan dan penampilan.

“Harapan saya kedepannya banyak anak muda juga familiar, tetap memakai batik, tetap nyaman memakai batik. Nggak cuma dari kalangan menengah ke atas atau orang tua 40-an ke atas, tapi anak-anak juga tetap nyaman memakai batik, tetap stylish memakai batik,” jelasnya.

Selain parade desainer, JFR 2026 juga menghadirkan sejumlah program yang memperluas pengalaman pengunjung, di antaranya Exclusive Show Tunggal, JFR EXPO yang menampilkan tujuh brand serta Sleman Halal Fashion & Craft 2026 yang diikuti oleh 22 IKM sleman yang telah memiliki sertifikat Halal.

Area expo menjadi ruang bagi masyarakat untuk menemukan berbagai produk fesyen, beauty, craft, dan produk kreatif, sekaligus mempertemukan pelaku industri dengan konsumen secara langsung.

Salah satu program khusus yang hadir dalam rangkaian JFR 2026 adalah Exclusive Show Tunggal Hyaya by Ella Muwafig dengan tema ‘Cahaya Nusantara’. Pertunjukan tersebut membawa interpretasi kekayaan Nusantara melalui bahasa desain yang modern dan elegan.

JFR 2026 merupakan kolaborasi ASMAT PRO Group bersama Jogja City Mall, dengan dukungan berbagai pihak dalam ekosistem fesyen dan industri kreatif.

Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Dekranasda Kabupaten Sleman, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Sinergi Sadar Halal, LT Pro Professional Makeup, Konsep by Phillip, Elgan by Nyudi, Hyaya by Ella Muwafig, Yayasan Fashion Jogja Istimewa, Jogja Model Academy, Editrix, Model & Talent Management, Damar Indonesia, Volcano Production, Visiting Jogja, serta Dan U C1000.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan fashion show membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, mulai dari desainer, model, makeup artist, production, venue, brand, pemerintah, komunitas hingga pelaku industri kreatif.

Sebagai penyelenggara, Asmat Group memandang JFR bukan sekadar agenda tahunan fashion show, tetapi sebagai salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku dan generasi baru industri fashion.

Nyudi Dwijo mengatakan, keberlanjutan JFR selama 12 tahun menjadi modal penting untuk terus mengembangkan ekosistem fashion di Yogyakarta.

“Kami ingin JFR terus berkembang sebagai ruang pertemuan. Bukan hanya mempertemukan desainer dengan penonton, tetapi juga mempertemukan desainer dengan model, brand, buyer, komunitas, industri kreatif dan generasi muda. Harapannya, dari sini muncul lebih banyak kolaborasi dan peluang baru,” jelas Nyudi.

Dengan mengusung Navarupa, JFR 2026 diharapkan dapat menjadi refleksi bahwa masa depan fashion Indonesia dibangun melalui keberanian berinovasi, keterbukaan terhadap keberagaman, serta kemampuan menjaga identitas budaya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.