
REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Generasi muda mulai dibidik menjadi motor baru pengembangan UMKM berbasis sawit di Indonesia. Peluang tersebut terbuka lebar karena Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan ratusan produk turunan yang dapat dikembangkan menjadi usaha kreatif bernilai tambah.
Hal itu mengemuka dalam Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertema “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” di AKPY-STIPER, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (12/5/2026). Kegiatan ini merupakan kerja sama Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan AKPY-STIPER.
Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) Dr Purwadi mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan industri sawit nasional di masa depan. Menurut dia, Indonesia masih menjadi pemain utama industri sawit global, baik dari sisi produksi, ekspor, maupun konsumsi.
“Indonesia memiliki area sawit terluas di dunia, eksportir terbesar, sekaligus konsumen terbesar. Sawit menjadi komoditas unggulan Indonesia di berbagai aspek,” kata Purwadi dalam sambutannya, dikutip Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, secara global lahan sawit hanya mencakup sekitar enam persen dari total luas tanaman penghasil minyak nabati dunia. Meski demikian, sawit dinilai unggul karena memiliki ratusan produk turunan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Purwadi menyebutkan produk berbasis sawit digunakan mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pangan dan kosmetik. Kondisi itu membuat sawit menjadi salah satu komoditas strategis nasional dengan peluang hilirisasi yang masih sangat besar.
Ketua Pelaksana Workshop Qayuum Amri mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan potensi usaha sawit kepada generasi muda, termasuk praktik pembuatan produk oleofood berbasis sawit. Pada hari kedua, peserta dijadwalkan mengikuti praktik pembuatan roti manis dan churros di INSTIPER Bakery Academy sebagai bagian dari pengenalan inovasi produk makanan berbasis sawit.
“Kami ingin menarik minat Gen Z agar menjadi penerus keberlanjutan sawit di masa depan. Mahasiswa akan diajak belajar langsung membuat produk oleofood berbasis sawit,” ujar Qayuum.
Menurut dia, industri sawit memiliki potensi besar karena mempunyai lebih dari 170 produk turunan yang dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis baru. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai strategis sebagai salah satu destinasi wisata utama nasional.
Berdasarkan data perjalanan wisatawan nusantara, jumlah kunjungan ke DIY sepanjang Januari-November 2025 mencapai 36,72 juta perjalanan. Kondisi itu dinilai membuka peluang pasar yang besar bagi pengembangan produk UMKM kreatif berbasis sawit.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman turut mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut. Ia menilai kegiatan itu strategis untuk mendorong lahirnya generasi muda pelaku usaha sawit yang adaptif dan kolaboratif.
“Sangat menginspirasi acara ini. Apresiasi setinggi-tingginya untuk Majalah Sawit Indonesia, BPDP, dan AKPY-STIPER. Tema ini sangat strategis untuk mendorong Gen-Z agar adaptif dan kolaboratif dalam optimalisasi sawit secara berkelanjutan,” ujar Bagus dalam sambutan yang dibacakan Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian UMKM Refani Anwar Azis.
Bagus mengatakan UMKM sawit memiliki potensi besar untuk dikembangkan, mulai dari sektor kerajinan, oleofood, energi, hingga pangan. Pemerintah juga mendorong generasi muda menghadirkan produk sawit yang memiliki daya saing global.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansah mengatakan BPDP memiliki berbagai program yang dapat dimanfaatkan generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan industri sawit nasional. BPDP juga mendorong lahirnya lebih banyak pelaku UMKM berbasis sawit.











