
Roti-roti dengan beberapa varian rasa (ilustrasi). Mulai dari mi instan, gorengan, roti, hingga berbagai jajanan berbahan tepung telah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari masyarakat.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Istilah “Republik Tepung” semakin sering digunakan untuk menggambarkan tingginya konsumsi makanan olahan berbasis tepung di Indonesia. Mulai dari mi instan, gorengan, roti, hingga berbagai jajanan berbahan tepung telah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari masyarakat.
Di balik kemudahan dan harganya yang relatif terjangkau, konsumsi makanan berbasis tepung secara berlebihan dinilai dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular apabila tidak diimbangi dengan pola makan yang sehat dan aktivitas fisik yang memadai. Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis kedokteran keluarga layanan primer sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dr Iman Permana, menjelaskan bahwa tepung pada dasarnya merupakan sumber karbohidrat yang dibutuhkan tubuh sebagai penyedia energi. Namun, konsumsi yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan.
“Tepung merupakan sumber karbohidrat yang pada akhirnya akan diubah menjadi glukosa sebagai sumber energi. Namun, apabila dikonsumsi secara berlebihan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian, risikonya dapat meningkatkan kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga strok,” kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Ahad (12/7/2026).
Menurut dr Iman, kebutuhan energi harian rata-rata orang dewasa berkisar 2.200 kalori untuk laki-laki dan sekitar 2.000 kalori untuk perempuan, meskipun kebutuhan tersebut dapat berbeda bergantung pada usia, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing individu. Persoalan yang kerap muncul bukan hanya jumlah kalori, tetapi juga kualitas makanan yang dikonsumsi.
la menjelaskan bahwa berbagai makanan olahan berbasis tepung, terutama yang diolah dengan cara digoreng, umumnya mengandung karbohidrat sederhana sekaligus lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Apalagi, minyak goreng sering kali digunakan berulang kali sehingga dapat semakin menurunkan kualitas pangan yang dikonsumsi.
“Kalau pola makan seperti ini berlangsung terus-menerus, risiko terjadinya resistensi insulin akan meningkat. Ketika tubuh mulai kurang sensitif terhadap insulin, kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan dan dalam jangka panjang dapat memicu obesitas maupun diabetes,” kata dia.












