Desainer Phillip Iswardono Rayakan Dua Dekade Berkarya Lewat ‘Menyuluh Wastra Menoreh Jejak’

by -4 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Desainer asal Yogyakarta, Phillip Iswardono bersiap menandai dua dekade perjalanan kariernya di dunia mode melalui sebuah pergelaran tunggal bertajuk “Menyuluh Wastra Menoreh Jejak”. Pergelaran ini akan digelar pada 2–3 Mei 2026 di Taman Budaya Yogyakarta sekaligus menjadi momentum penting dalam perjalanan kreatifnya yang telah berlangsung selama 20 tahun.

banner 336x280

Selama dua hari, Phillip akan menampilkan total 74 look yang mengangkat wastra dari tujuh provinsi di Indonesia. Lebih dari sekadar pertunjukan mode, acara ini juga menjadi ruang narasi yang mempertemukan tradisi dan inovasi dalam satu panggung artistik. Dia menyampaikan, proses kreatif yang dijalaninya tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga makna yang lebih dalam.

“Wastra bagi saya bukan hanya kain, tetapi ruang ingatan dan identitas. Setiap karya adalah bagian dari perjalanan, penuh pencarian, kegelisahan, sekaligus kesetiaan pada nilai,” ungkapnya dalam acara Media Viewing & Press Conference di Mesastila Resort & Spa, Kamis (16/4/2026).

Phillip mengungkapkan, koleksi yang ditampilkan saat ini masih satu benang merah dengan pergelaran utama yang akan digelar pada bulan Mei mendatang. Hanya sekitar 20 yang diperlihatkan dalam sesi awal tersebut. Selebihnya akan menjadi kejutan dalam pergelaran utama.

“Ini hanya potongan-potongan dari 74 look yang akan saya tampilkan itu. Dari 74 look itu diambil 20, jadi susahnya masih banyak sekali nanti yang akan saya tampilkan,” katanya.

Dalam koleksi terbarunya, Phillip mengatakan tetap mempertahankan signature yang menjadi identitasnya, namun juga menghadirkan eksplorasi baru di luar pakem yang biasa ia gunakan. Dirinya mengangkat inspirasi dari tujuh provinsi di Indonesia, tidak hanya dari wastra, tetapi juga dari busana adatnya. Sebagai contoh, ia mengeksplorasi busana tradisional dari Makassar yang kemudian dikemas ulang menjadi desain yang lebih kekinian. Menurutnya, tidak semua koleksi menggunakan wastra asli, namun tetap berangkat dari inspirasi busana daerah.

“Ada yang memakai asli wastra dari tujuh provinsi, tapi ada yang saya memang hanya mengambil inspirasi dari baju adatnya,” ujar dia.

Terkait pemilihan wastra dari tujuh provinsi tersebut, lanjut Phillip, didasarkan pada keunikan serta kekuatan karakter wastra di masing-masing daerah. Ia juga menyinggung pentingnya keberlanjutan dalam industri wastra, yang menurutnya masih menjadi tantangan besar di beberapa wilayah. Di sisi lain, ia melihat bahwa popularitas wastra sangat dipengaruhi oleh eksplorasi para desainer. Ketika sebuah kain diangkat ke panggung mode, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh pelaku UMKM dan pengrajin.

“Kepopuleran itu sendiri yang saya angkat ya misalnya Makassar dengan sarung-sarungnya, Baduy yang sekarang booming mulai naik daun, itu karena keren ada satu desainer yang mengangkat terus yang lainnya ikut. Itu kan menguntungkan bagi para UMKM dan pengrajin tenun,” kata dia.

Lebih jauh, Phillip tak menepis bahwa pergelaran tunggal ini akan menjadi refleksi perjalanan panjangnya selama berkarier dalam dunia fashion. Ia menyebut, perjalanan dua dekade yang dirayakan itu sebenarnya hanya bagian dari proses yang lebih panjang, mengingat ia telah mulai berkarya secara mandiri sejak 1992. Menurut Phillip, ada transformasi signifikan dalam pendekatan desainnya selama bertahun-tahun. Jika dahulu kerap menampilkan busana dengan banyak layer, kini ia memilih pendekatan yang lebih sederhana dan matang.

“Kalau dulu itu kan satu look bisa 5 layer, ada 6 layer tumpuk-tumpuk, sekarang lebih ngerem. Ya 20 tahun itu umur yang dewasa lah, refleksinya dari koleksi-koleksi saya lebih tenang,” katanya.

Selain fashion show, pergelaran ini juga akan dilengkapi dengan pameran instalasi bertajuk Art Fashion Installation yang dikurasi oleh Hanafi Kasidarta. Pameran ini akan menampilkan perjalanan kreatif Phillip secara menyeluruh, mulai dari proses desain hingga eksplorasi wastra dari hulu ke hilir. Melalui perayaan dua dekade ini, Phillip tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga ingin meninggalkan jejak dan warisan bagi generasi desainer berikutnya. Baginya, fashion bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari legacy yang terus hidup dan berkembang.

Afif Syakur selaku Penasehat Event menyampaikan pergelaran ini melampaui sekadar selebrasi personal. Ia menyebutnya sebagai pernyataan sikap dalam merawat budaya. “Ini bukan sekadar selebrasi 20 tahun berkarya, tetapi juga bentuk komitmen dalam menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai wastra sebagai identitas bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Nyudi Dwijo menjelaskan bahwa pergelaran ini dirancang sebagai sebuah narasi utuh yang menggabungkan konsep artistik, kuratorial, dan pengalaman visual bagi audiens. Tidak hanya berupa fashion show, acara ini juga menghadirkan fashion art installation yang menggambarkan perjalanan Phillip berkarya selama dua dekade.

Instalasi tersebut akan membawa audiens menelusuri fase-fase penting dalam perjalanan kreatif Phillip, mulai dari eksplorasi tekstil tradisional, pemanfaatan material lokal, hingga perubahan gaya visual yang semakin kontemporer tanpa meninggalkan akar budaya.

“Di sana kita semuanya dapat belajar bagaimana Mas Phillip ini mengolah tenun-tenun wastra Indonesia itu dari hulu ke hilir. Saya spill akan ada alat tenun yang kita datangkan sebagai properti di sana,” ujarnya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.