“Kamu kan kakak.”Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian anak pertama, kalimat tersebut bukan hanya pengingat akan urutan kelahiran, melainkan juga simbol dari harapan, tanggung jawab, bahkan tuntutan yang datang sejak usia dini. Tanpa disadari, banyak anak pertama tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kakak berarti harus lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih mengalah dibandingkan saudara-saudaranya.
Sejak kecil, anak pertama sering menjadi sosok yang diminta memahami keadaan. Ketika adik berbuat salah, kakak diminta mengalah karena dianggap lebih mengerti. Ketika orang tua sedang sibuk, kakak dipercaya menjaga adik. Bahkan ketika terjadi konflik, tidak jarang kalimat “kamu kan kakak” menjadi alasan mengapa ia diharapkan menahan emosi lebih dulu. Perlahan, tanggung jawab tersebut menjadi bagian dari keseharian.
Di sisi lain, menjadi anak pertama juga berarti belajar banyak hal tanpa memiliki contoh dari saudara yang lebih tua. Mereka menjadi orang pertama yang mengalami berbagai fase kehidupan dalam keluarga, mulai dari aturan yang masih sangat ketat hingga ekspektasi yang tinggi terhadap pendidikan maupun perilaku. Tidak sedikit yang tumbuh dengan rasa takut mengecewakan orang tua karena merasa harus menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Namun, menjadi kakak bukan berarti tidak memiliki rasa lelah. Anak pertama tetaplah seseorang yang bisa merasa kecewa, takut, bingung, bahkan ingin dimengerti. Sayangnya, perasaan tersebut sering kali dipendam karena terbiasa dianggap mampu menghadapi semuanya. Akibatnya, banyak anak pertama yang kesulitan meminta bantuan atau mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Hal ini bukan berarti semua keluarga memperlakukan anak pertama dengan cara yang sama. Setiap keluarga memiliki pola asuh dan dinamika yang berbeda. Ada banyak orang tua yang berhasil membangun hubungan yang hangat dengan semua anak tanpa membedakan beban tanggung jawab. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ekspektasi terhadap anak sulung masih menjadi fenomena yang cukup sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kalimat “kamu kan kakak” seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan perasaan seorang anak. Mengajarkan tanggung jawab memang penting, tetapi memberikan ruang untuk merasa lelah, gagal, dan didengar juga sama pentingnya. Sebab, anak pertama tidak dilahirkan dengan kemampuan untuk selalu kuat. Mereka belajar menjadi dewasa melalui proses yang panjang, sama seperti saudara-saudaranya.
Mungkin, sesekali yang dibutuhkan anak pertama bukanlah pengingat bahwa mereka adalah kakak, melainkan kalimat sederhana yang mengatakan, “Tidak apa-apa kalau kamu juga sedang lelah.” Sebab, di balik sosok yang sering dianggap paling kuat, ada seseorang yang juga ingin dipeluk tanpa harus selalu menjadi sandaran bagi orang lain.

banner 468x60

Warga mengangkut galon berisi air yang diambil dari mata air Kali Wonosari di Padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (28/7/2026). Sebagian warga Padukuhan Duwet memanfaatkan mata air Kali Wonosari sebagai sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi, dan kebutuhan ternak, akibat kekeringan yang melanda wilayah tersebut. (FOTO : ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana)

Sejak Mei 2026, mata air Kali Wonosari menjadi sumber air utama bagi sebagian warga setelah sumur-sumur mulai mengering akibat musim kemarau. Warga harus membawa air menggunakan galon dan jeriken karena sumber air berada cukup jauh dari permukiman. (FOTO : ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana)

Kondisi serupa juga terlihat di Kapanewon Panggang. Warga memanfaatkan sisa genangan air di Telaga Kedung Giriwungu yang debitnya terus menyusut sebagai salah satu sumber air di tengah kemarau. Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Kabupaten Gunungkidul, sebanyak 329 telaga di wilayah tersebut tidak lagi berfungsi akibat mengering. (FOTO : ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana)

Gunungkidul merupakan salah satu wilayah di DIY yang hampir setiap tahun menghadapi ancaman kekeringan saat musim kemarau. Kondisi geografis yang didominasi kawasan karst menyebabkan kemampuan tanah menyimpan air relatif terbatas sehingga sejumlah telaga dan sumur warga cepat mengering ketika curah hujan menurun. (FOTO : ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana)

inline

No More Posts Available.

No more pages to load.