
Andi Makmur Makka saat membahas novelnya yang berjudul Matahari di Atas Rantemario dalam sesi diskusi di Ndalem Ratan Royal Heritage, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (17/10/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA– Matahari di Atas Rantemario, novel karya Andi Makmur Makka berkisah tentang para pejuang asal Sulawesi Selatan yang terpisah karena perbedaan pilihan politik setelah sebelumnya berjuang bersama. Makka menjelaskan, novel tersebut berangkat dari sejarah para pejuang Sulawesi yang mulai bergerak di Yogyakarta sebelum kemerdekaan, kemudian kembali ke daerah asal setelah Indonesia merdeka.
Namun, sebagian dari mereka merasa kecewa karena tidak memperoleh perlakuan yang diharapkan dalam proses penertiban di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Ini sebetulnya (novel) tentang sejarah” kata Makka saat menjelaskan latar belakang novelnya dalam acara bedah novel di Ndalem Natan Royal Heritage, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (17/10/2026).
Menurut dia, kekecewaan tersebut menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi pergolakan politik dan lahirnya gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan, yang dipimpin Kahar Muzakkar. Konflik itu kemudian menghadirkan pertentangan di antara orang-orang yang sebelumnya memiliki pengalaman perjuangan bersama.
Salah satu inti cerita novel ini adalah hubungan dua sahabat, Bahar dan Badillah, yang telah seperti saudara, namun kemudian harus berada di kubu yang berlawanan. Perbedaan tersebut membuat keduanya menghadapi kemungkinan berhadapan sebagai musuh di medan pertempuran.
Makka menggambarkan perpisahan itu sebagai tragedi persahabatan yang dipaksa menuruti komitmen politik dan ideologi.
“Mereka terpaksa berkomitmen bahwa suatu waktu kalau bertemu lagi, mereka akan saling membidik dan saling menembak,” ujar pemimpin redaksi Harian Republika 1997-2000 tersebut.
Melalui novel tersebut, Makka ingin membawa pengalaman para pejuang yang merasa ditinggalkan setelah perjuangan kemerdekaan ke ruang ingatan publik. Menurut dia, kisah mereka perlu diketahui masyarakat.
“Harapan saya, masyarakat mempunyai empati kepada pejuang-pejuang yang kemudian terlantar. Supaya masyarakat tahu, karena mereka sudah lewat (meninggal) semua,” kata Makka yang juga pernah menulis biografi Presiden RI ke-3 BJ Habibie ‘Mr. Crack dari Parepare’ tersebut.
Ia menjelaskan, pengalaman para pejuang tersebut belum banyak diangkat dalam bentuk cerita seperti yang disajikan melalui novelnya. Menurut dia, karya sastra dapat menjadi sarana untuk merekam peristiwa yang bisa saja terabaikan dari ingatan sejarah.





![[Aggregator] Downloaded image for imported item #76161 [Aggregator] Downloaded image for imported item #76161](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/andi-makmur-makka-saat-membahas-novelnya-yang-berjudul-matahari_261021050148-263-1-148x111.jpg)



![[Aggregator] Downloaded image for imported item #76157 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/peserta-tampak-fokus-menyajikan-masakan-terbaik-mereka-saat-bersaing_261021050703-356-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #76147 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/suasana-sidang-nota-pembelaan-pledoi-di-pengadilan-negeri-yogyakarta_261020213040-140-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #76151 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/ketua-komisi-a-dprd-diy-eko-suwanto-memberikan-keterangan_261020211935-210-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #76143 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/gubernur-daerah-istimewa-yogyakarta-diy-sri-sultan-hamengku-buwono_261020165302-496-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #76133 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/261020175150-267-148x111.jpg)