
Balai Budaya Condet mementaskan tarian berbasis peran ganda perempuan Betawi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jakarta memiliki Balai Budaya Condet yang dahulu bernama Laboratorium Tari dan Karawitan Condet. Ini adalah tempat para seniman untuk berkarya dan berkreasi.
Berdiri semenjak sekitar tahun 1990, gedung yang kini dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya tersebut berfungsi untuk menciptakan kesenian dan pelestarian tradisi.
Masyarakat, sanggar, dan komunitas seni dapat memanfaatkan gedung ini untuk pelaksanaan pertunjukan karya seni dan budaya atau pun untuk kegiatan latihan maupun workshop seni tari, teater, musik, dan kegiatan seni budaya lainnya.
Lydia Devi Nurshanti, Mahasiswa Program Doktor (S3) Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memanfaatkan Balai Budaya Condet untuk Pertunjukan Disertasi Penciptaan Seni yang bertajuk ‘Ampu Empuan’ dengan konsep Embodied Habitus: Penciptaan Tari Berbasis Peran Ganda Perempuan Betawi.
Penari yang gemar dengan tarian Betawi itu memilih Balai Budaya Condet sebagai tempat seminar publik untuk disertasinya. Devi merasa tempat tersebut sesuai dengan konsep penelitiannya mengenai perempuan Betawi.
Ia mengakui telah mencari ke berbagai area Jakarta terkait struktur bangunan rumah yang merepresentasikan kebudayaan Betawi, hingga akhirnya menemukan tempat yang paling representatif, yakni Balai Budaya Condet.
“Alhamdulillah Balai Budaya Condet, memiliki fasilitas yang sangat baik dengan area panggung yang benar-benar memberikan kedekatan kepada penonton dan pelaku seni yang menampilkan pertunjukan,” ujar Devi.











