ASEAN Sports Day 2026 di Jogja, Kemenpora Ajak Generasi Muda tak Lagi Mager

by -14 Views
banner 468x60
image

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak malas bergerak atau ‘mager’ dan mulai menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup. Pesan tersebut digaungkan melalui ASEAN Sports Day (ASD) 2026 yang kembali digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora RI, Yayat Suyatna, mengatakan ASD merupakan implementasi dari Work Plan on Sport ASEAN yang menempatkan olahraga sebagai salah satu instrumen untuk membangun persahabatan negara-negara ASEAN. Gelaran ini tidak hanya diarahkan sebagai festival olahraga, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong masyarakat agar lebih aktif, bugar, dan sehat.

banner 336x280

Yayat menyebut, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah kecenderungan anak muda untuk semakin kurang bergerak alias mager. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama Bappenas, aktivitas fisik masih relatif lebih baik ketika seseorang berada pada usia sekolah.

“Kami ingin mendorong generasi muda dan masyarakat untuk aktif berolahraga. Karena apa? Karena olahraga adalah investasi individu, investasi keluarga, investasi daerah, investasi bangsa di masa yang akan datang. Kita menghadapi kendala ketika generasi muda ini mager. Nah, apa itu mager? Malas gerak, begitu,” kata Yayat saat menyampaikan sambutannya di acara pembukaan ASEAN Sports Day 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).

Namun, kecenderungan tersebut menurun ketika memasuki usia mahasiswa. Yayat tak menepis bahwa aktivitas olahraga kemudian cenderung meningkat kembali ketika seseorang memasuki usia menjelang pensiun. Akan tetapi, tingkat aktivitas masyarakat Indonesia secara umum masih relatif rendah dibandingkan negara lain.

“Begitu lulus SMA itu turun (angka yang gemar berolahraga -Red). Nah, mungkin ketika anak masih usia sekolah itu karena ada pelajaran olahraga sebenarnya. Ini yang harus kita rutinkan,” ucapnya.

“Kita punya target 2029 itu 50 persen masyarakat kita ini aktif berolahraga. Ini tantangan tersendiri. Posisi kita masih sekitar 30 persen ya, untuk aktif (bergerak). Patokannya yaitu 150 menit per minggu, itu (secara) WHO ya. Kalau dibagi berarti lima hari itu 30 menit per hari. Ini patokannya,” kata Yayat menambahkan.

Karena itu, salah satu tujuan ASD untuk mengajak masyarakat dan generasi muda untuk mulai berolahraga. Selain Indonesia, Yayat menjelaskan, penyelenggaraan ASD juga dilakukan di sejumlah negara ASEAN pada periode Agustus-September. Setiap tahun, pelaksanaan tersebut menjadi bagian yang dilaporkan kepada ASEAN Secretary.

Adapun pelaksanaan ASD di Yogyakarta tahun ini, disebutnya, memiliki kemasan yang berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Salah satu kekuatan tahun ini adalah porsi olahraga tradisional yang lebih besar, sekaligus keterlibatan masyarakat dan generasi muda. Tema Active Youth Healthy Future menjadi pesan utama agar generasi muda tidak hanya mengenal olahraga sebagai kompetisi, tetapi menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Selain peserta dari negara-negara ASEAN, sejumlah negara non-ASEAN juga turut hadir untuk memperkenalkan aktivitas olahraga dan budaya mereka. Pada rangkaian festival, olahraga tradisional seperti egrang, bakiak, terompah panjang, jemparingan dan pencak silat diperkenalkan bersama aktivitas lainnya. Ada pula yoga dan muay thai yang menjadi bagian dari festival olahraga masyarakat.

“Dari negara-negara non-ASEAN seperti Mesir dan lain sebagainya. Jadi olahraga, seperti yang Pak Imam sampaikan, adalah bahasa universal untuk mempersatukan bangsa,” ujarnya.

Selain itu, Yayat juga menilai ruang publik seperti Car Free Day dapat menjadi salah satu sarana untuk membangun kebiasaan tersebut. Kemenpora ingin ruang publik tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga secara rutin.

“Olahraga tidak harus yang mahal. Kita ingin menghadirkan olahraga yang mudah, murah, meriah, menyenangkan, membahagiakan,” ujarnya.

Yayat berharap penyelenggaraan ASD di Yogyakarta dapat terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Menurutnya, DIY memiliki modal kuat karena memiliki potensi wisata, budaya, UMKM, komunitas, sekolah, kampus, serta generasi muda yang aktif. “Jogja ini memang yang masternya lah untuk tradisional,” ucapnya.

Sementara itu, Asisten Setda DIY Bidang Administrasi Umum yang mewakili Gubernur DIY, Imam Pratanadi, mengatakan penyelenggaraan ASD menjadi kehormatan bagi Yogyakarta karena daerah ini kembali dipercaya menjadi ruang perjumpaan masyarakat ASEAN melalui olahraga, budaya dan persahabatan.

Menurut Imam, ASD 2026 memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar perhelatan olahraga. Di dalamnya terdapat unsur sport, culture, youth engagement, tourism, community participation, hingga sport diplomacy.

“Olahraga sesungguhnya memiliki bahasa yang universal. Ia dapat melampaui batas negara, perbedaan bahasa, dan latar belakang budaya,” kata Imam membacakan sambutan Gubernur DIY.

Melalui olahraga, masyarakat dari berbagai negara dapat bertemu dalam suasana kesetaraan, saling menghormati dan membangun persahabatan. Karena itu, menurut Imam, ASD menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi olahraga sekaligus mendorong gaya hidup aktif dan sehat di kalangan generasi muda. Yogyakarta juga dinilai memiliki peluang untuk berkembang sebagai salah satu hub promosi dan pertukaran budaya Indonesia dalam ruang ASEAN.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam ASD 2026 adalah Traditional Sports Festival. Imam mengatakan olahraga tradisional tidak semata-mata merupakan aktivitas fisik, tetapi juga menjadi representasi budaya dan identitas masyarakat.

“Setiap permainan tradisional membawa cerita. Karena itulah, ketika setiap negara memperkenalkan olahraga tradisionalnya, yang diperkenalkan sesungguhnya bukan hanya sebuah permainan. Namun, juga jati diri dan kebanggaan bangsa,” ujarnya.

Imam juga melihat ASD sebagai pintu masuk untuk memperkuat hubungan olahraga dengan sektor lain, mulai dari pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, pendidikan hingga partisipasi masyarakat.

“Hubungan ASEAN tidak hanya dibangun di ruang-ruang pertemuan resmi. ASEAN juga dibangun ketika masyarakatnya saling bertemu, saling mengenal, bermain bersama, berbagi cerita, dan membangun persahabatan. Inilah sport diplomacy yang kita harapkan dari ASEAN Sports Day,” katanya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.