ACT! Project Mendorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Indonesia

by -12 Views
Public
banner 468x60

Konsorsium ACT! (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) Project hadir di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 dengan booth interaktif dan dua talk show. Kehadiran ini menunjukkan dua hal: tren konsumsi produk berkelanjutan di dalam negeri sudah terjadi dan semakin banyak petani menerapkan praktik produksi berkelanjutan.

Konsorsium ini menjadi bagian dari TEI 2026 bersama anggota dan mitranya melalui rangkaian aktivasi booth dan talk show bertema “Satu Standar, Dua Pasar: Melacak Jejak 4 Komoditas Indonesia dari Kebun ke Meja Konsumen dan Pasar Ekspor Global”. Inisiatif ini bertujuan untuk menampilkan kesiapan rantai pasok komoditas Indonesia, baik di pasar domestik maupun global, sekaligus mendorong para pelaku industri untuk menyadari pentingnya praktik berkelanjutan. Bertempat di Hall B ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD City, booth menghadirkan area diskusi interaktif bersama tim konsorsium, materi edukasi komprehensif, pengalaman virtual reality di perkebunan kopi, serta sesi mencicipi kopi berkelanjutan yang dipandu barista untuk para pengunjung dan pelaku bisnis.

banner 336x280

“Melalui partisipasi kami dalam Trade Expo Indonesia 2026, ACT! Project berkomitmen untuk mendukung pelaku industri dan petani dalam menerapkan praktik berkelanjutan, khususnya pada komoditas utama seperti kakao, kopi, teh, dan kelapa sawit. Tren konsumsi berkelanjutan merupakan peluang positif untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing dalam rantai pasok,” ujar Managing Director Asia Pacific Rainforest Alliance, Chandra Panjiwibowo, di Jakarta, 14 Oktober 2026.

Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Ade Aryani,  menambahkan, “Melalui partisipasi dalam Trade Expo Indonesia 2026, ACT! Project mendorong keterhubungan antara praktik produksi berkelanjutan di tingkat petani dengan kebutuhan pasar dan perilaku konsumsi. Pelaku usaha, khususnya sektor hotel, restoran, dan kafe (HoReKa), memiliki peran strategis dalam memperluas akses konsumen terhadap produk berkelanjutan, termasuk kopi. Melalui kolaborasi di sepanjang rantai nilai dan penguatan ketertelusuran, kami ingin mendorong agar keberlanjutan tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi juga pertimbangan dalam pemilihan produk oleh pelaku usaha dan konsumen.”

Pada TEI 2026, ACT! Project juga berpartisipasi dalam dua talk show. Sesi pertama bertajuk “Dari Sumber Berkelanjutan menuju Dampak Nyata: Cerita Petani & Pakar Sertifikasi dalam Menjawab Tren Ritel & Horeka Berkelanjutan” digelar pada 14 Oktober 2026. Pembicaranya adalah Manager Consumer Campaign and Engagement Rainforest Alliance, Margareth Meutia; petani teladan yang juga mitra Rikolto, Ketua Koperasi Serba Usaha Petani Kopi Toraja (KOPTAN PPKT) Thomas Upping; Cocoa & Coffee Programme Technical Advisor in Indonesia, Rikolto, Peni Agustijanto; dan Head of People and Coffee Solutions, Anomali Group, Donna Elvina Amelia.

Mereka membahas dinamika dan tantangan dalam mengubah praktik pertanian di lapangan, kondisi nyata di sepanjang rantai produksi, bagaimana sektor ritel dan HoReKa menerapkan praktik pengadaan berkelanjutan dan sertifikasi sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka, serta inisiatif ACT! Project untuk memperluas distribusi dan promosi kopi, teh, cokelat, dan minyak kelapa sawit berkelanjutan.

Sesi kedua digelar pada 15 Oktober 2026 dengan tajuk “Keterlacakan sebagai Nilai Tambah: Membuktikan Kesiapan 4 Komoditas Indonesia Menghadapi EUDR dan Menembus Pasar Global”. Konsorsium ACT! Project memandang persyaratan keberlanjutan dalam perdagangan global sebagai peluang, bukan ancaman, bagi para produsen dan petani untuk menerapkan praktik berkelanjutan serta memperluas jangkauan pasar komoditas Indonesia. Para pembicara yang hadir meliputi Managing Director Asia Pacific, Rainforest Alliance, Chandra Panjiwibowo; petani kakao teladan, Ketua Koperasi Kertasemaya Samaniya (KKS) I Ketut Wiadnyana; serta Data Analyst and Certification Manager, Olam Food Ingredients, Florindo Michael Bell.

Talk show tersebut menyoroti berbagai ketentuan dalam Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR), kebijakan UE yang mewajibkan produk komoditas tertentu bebas dari deforestasi, serta Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan peraturan ekspor lainnya yang berkaitan dengan keberlanjutan. Para ahli dan petani mengupas topik-topik ini dengan menyajikan fakta, data, dan pengalaman lapangan, termasuk pemetaan batas lahan, geolokasi, dan pencatatan rantai pasok. Diskusi ini juga menekankan bahwa kesiapan petani mandiri dalam mematuhi peraturan ekspor dapat membuka peluang yang lebih luas melalui praktik berkelanjutan, teknologi ketertelusuran, serta inovasi yang meningkatkan daya saing global komoditas unggulan.

Melalui dua talk show ini, ACT! Project bertujuan untuk menunjukkan keberhasilan praktik berkelanjutan berdasarkan pengalaman para petani, organisasi pendukung, dan pemegang sertifikasi, serta kesiapan sektor kopi, kakao, teh, dan kelapa sawit dalam memenuhi standar keberlanjutan global. Selain itu, ketertelusuran produk juga mempermudah akses ke pasar domestik: komoditas dengan asal-usul yang jelas dapat dijual kepada pembeli ekspor maupun konsumen Indonesia dengan standar yang sama.

Keduanya bermuara pada pesan yang sama: pasar produk berkelanjutan tidak hanya ada di luar negeri. Seiring bertambahnya pemahaman masyarakat dan terbukanya akses pendampingan bagi petani, pelaku industri perlu mulai meningkatkan kualitas melalui prinsip keberlanjutan serta memperbanyak volume produk berkelanjutan atau bersertifikat untuk memenuhi pasar domestik yang terus bertumbuh.

Chandra menegaskan bahwa di masa depan, ACT! Project mampu mendorong transformasi sektor komoditas Indonesia serta meningkatkan kapasitas pelaku industri dan petani dalam memenuhi permintaan pasar. “Dengan demikian, industri dapat menunjukkan bahwa praktik berkelanjutan dapat menjadi katalis bagi perluasan akses pasar serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Chandra.

“Ke depan, kami berharap ACT! Project dapat memperkuat kolaborasi antara produsen, sektor HoReKa, dan konsumen dalam membangun rantai nilai yang lebih transparan dan berkelanjutan. Ketika pelaku usaha semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pengadaan produk dan konsumen semakin memahami asal-usul produk yang mereka pilih, hal ini dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi komoditas berkelanjutan Indonesia sekaligus mendukung kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan,” ujar Ade.

Untuk mendorong praktik konsumsi berkelanjutan, ACT! Project tengah mengembangkan toolkit komunikasi bagi sektor HoReKa dan ritel, mengadakan lokakarya dengan pemangku kepentingan, serta melibatkan kalangan muda di berbagai kampus, seperti Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Udayana di Bali, untuk mempraktikkan konsumsi berkelanjutan. Langkah-langkah ini mendukung target ACT! Project hingga tahun 2028, yaitu mengedukasi 800.000 konsumen (50% di antaranya perempuan) agar beralih ke produk kopi, cokelat, teh, dan minyak kelapa sawit bersertifikat, sekaligus mendorong pertumbuhan sebesar 5% dalam konsumsi dan produksi domestik produk bersertifikat.

banner 336x280
Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.