Di Bawah Bayang-Bayang Rantemario: Epos Kemanusiaan, Luka Sejarah, dan Dialektika Kebudayaan Bugis

by -37 Views
image
banner 468x60
image

Catatan kuratorial Gus Nas Jogja

REPUBLIKA.CO.ID, Di mana angin malam berbisik di antara celah-celah bebatuan purba dan kabut tebal merangkak turun menyelimuti lembah-lembah Sulawesi, di sanalah Rantemario berdiri tegak bagai monumen abadi atas pertarungan zaman yang tak pernah benar-benar mati.

banner 336x280

Puncak tertinggi di tanah Bugis ini bukan sekadar hamparan geografis yang menantang nyali para pendaki, melainkan sebuah saksi bisu, sebuah altar kosmik tempat darah para ksatria pernah tumpah membasahi akar-akar bumi, meresap ke dalam tanah, dan menyatu dengan denyut nadi sejarah Nusantara. Di bawah naungan langit yang sama, di mana matahari pagi memantulkan sinarnya yang tajam bagai kilau bilah badik yang baru ditempa, sebuah epik kemanusiaan terbentang—bukan sebagai catatan arsip birokratis yang dingin, melainkan sebagai ratapan dan nyanyian agung tentang kehormatan, persahabatan yang terkoyak, dan tragisme ideologi.

Novel “Matahari di Atas Rantemario” karya Makmur Makka hadir di ruang kesadaran kita bukan sekadar sebagai deretan kata yang tersusun rapi di atas kertas, melainkan sebagai gema dari masa lampau yang mendesak untuk didengar kembali. Melalui lembar-lembar kisahnya, kita diajak menembus tirai waktu, menyaksikan bagaimana dua jiwa yang dibesarkan di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi impian masa remaja yang suci, harus terseret ke dalam badai sejarah yang membelah jalan hidup mereka ke dalam dua ujung laras senjata yang saling mengarah. Esai kritis ini adalah sebuah upaya batin untuk meresapi kedalaman narasi tersebut, menajamkan pisau analisis filsafat kebudayaan, melintasi labirin epistemologi sejarah, dan merenungkan kembali arti dari sebuah pengorbanan di persimpangan jalan politik kebangsaan.

I. Ontologi Kebudayaan Bugis: Siri’ na Pacce dan Denyut Moral di Bawah Rantemario

Kebudayaan Bugis bukanlah sebuah artefak mati yang dipajang dalam etalase museum kebudayaan; ia adalah sebuah kosmos moral yang hidup, bernapas, berdenyut, dan menuntut kepatuhan eksistensial dari setiap anak negeri yang dilahirkannya. Dalam bangunan epistemologi kebudayaan Bugis, eksistensi seorang manusia tidak dihitung dari seberapa banyak harta yang ia kumpulkan atau seberapa tinggi kekuasaan yang ia genggam, melainkan dari sejauh mana ia mampu merawat dan mempertahankan dua pilar sakral: Siri’ dan Pacce.

Siri’ adalah perisai batin yang menjaga harga diri, rasa malu, dan kehormatan martabat kemanusiaan. Ia adalah garis batas moral yang tidak boleh dilanggar; ketika Siri’ seseorang diinjak-injak, maka kematian sering kali dipandang lebih mulia daripada hidup menanggung nista. Sementara itu, Pacce adalah dimensi afektifnya—sebuah empati sosial yang mendalam, solidaritas kemanusiaan yang berakar pada penderitaan bersama, dan keteguhan batin untuk ikut merasakan luka yang dialami oleh sesama saudara sebangsa.

Ketika Bahar dan Badillah melangkah keluar dari lorong-lorong masa kecil mereka dan mengangkat senjata melawan cengkeraman penjajah kolonial Belanda, tindakan heroik tersebut tidak digerakkan oleh kalkulasi geopolitik modern atau ambisi kekuasaan yang pragmatis. Ia adalah ledakan eksistensial dari Siri’ yang terluka parah, sebuah reaksi spontan namun bermartabat tatkala menyaksikan tanah kelahiran dinistakan, kedaulatan dirampas, dan martabat manusia diinjak-injak oleh sepatu lars kolonialisme. Penjajahan, dalam kacamata moral orang Bugis, bukan sekadar masalah politis-teritorial, melainkan sebuah bentuk penistaan eksistensial terhadap hakikat kemanusiaan (human dignity) itu sendiri.Namun, di sinilah ironi sejarah bekerja dengan cara yang paling menyayat hati. Badai pascakemerdekaan datang menggulung, membawa serta ambiguitas politik yang memecah belah persatuan. Badillah memilih untuk mendaratkan kesetiaannya pada republik yang baru lahir, bergabung dalam barisan resmi Brigade Hasanuddin di bawah pimpinan Letkol Kahar Muzakkar di Yogyakarta, yang kelak membawanya mengenakan pangkat Letnan Satu TNI di pundaknya. Di sisi lain, Bahar—dengan gejolak batin yang sama kuatnya—memilih jalan berliku yang sunyi dan terjal, bergabung dalam barisan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), memimpin pasukan gerilya di dalam lebatnya hutan belantara sebagai Mayor “Lambe Beluak” atau “Si Rambut Panjang”.

Di titik persimpangan inilah, filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre menemukan relevansinya yang paling tajam dan menusuk jiwa. Sartre pernah menegaskan sebuah premis radikal bahwa manusia adalah kebebasan yang dikutuk untuk memilih (l’homme est condamné à être libre). Bahar dan Badillah bukanlah boneka wayang yang digerakkan oleh takdir yang buta; pilihan-pilihan ekstrem yang mereka ambil—betapapun pahit konsekuensinya—adalah manifestasi dari kebebasan radikal mereka dalam menafsirkan arti kesetiaan, keadilan, dan tanggung jawab moral terhadap keyakinan yang mereka peluk.

“Kehormatan bukanlah warisan pasif yang turun-temurun, melainkan medan pertempuran harian di mana seseorang mempertaruhkan seluruh keberadaannya demi apa yang ia yakini benar, bahkan jika keyakinan itu harus dibayar dengan darah dan persahabatan yang terbelah.”

II. Dialektika Sejarah dan Perjuangan: Labirin Ideologis di Persimpangan Jalan

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia pada dekade-dekade awal Republik berdiri bukanlah sebuah garis lurus yang mulus menuju kejayaan, melainkan sebuah labirin yang gelap, penuh dengan ambiguitas, darah, keringat, dan air mata. Sejarawan terkemuka Sartono Kartodirdjo, dalam karya-karya monumental penjelajahannya mengenai gerakan sosial dan pemberontakan petani di Nusantara, berulang kali mengingatkan bahwa konflik ideologis dan pergolakan regional sering kali berakar dari ketegangan struktural yang mendalam: benturan antara modernitas negara bangsa yang bersifat sentralistik di pusat kekuasaan dengan aspirasi lokal yang merasa terpinggirkan, terabaikan, dan kehilangan ruang untuk bernapas secara politik maupun kultural.

Dalam novel “Matahari di Atas Rantemario”, ketegangan struktural ini diterjemahkan ke dalam bentuk drama kemanusiaan yang sangat intim. Salah satu adegan paling mengoyak batin dalam narasi tersebut adalah ketika takdir mempertemukan kembali Badillah (perwira TNI) dan Bahar (komandan gerilya DI/TII) dalam sebuah pertemuan rahasia di tengah kepekatan malam di dalam hutan operasi militer. Pertemuan itu bukanlah ajang reuni yang dipenuhi suka cita, melainkan sebuah konfrontasi sunyi yang dibayangi oleh kepastian yang mengerikan. Mereka berdua menyadari dengan penuh kesadaran bahwa keesokan harinya, di bawah terik matahari Rantemario atau di balik rimbunnya semak belukar, peluru dari laras senapan yang mereka pegang tidak lagi ditujukan kepada serdadu kolonial asing yang menjajah, melainkan kepada dada saudara se-tanah air, kepada sahabat karib masa remaja yang pernah bersama-sama membagi peluh, keringat, dan mimpi di bawah langit Sulawesi.

Di sinilah bayang-bayang pemikiran Albert Camus—seorang filsuf besar dan peraih Nobel Sastra yang mendedikasikan hidupnya untuk merenungkan persoalan pemberontakan, keadilan, dan absurditas eksistensi—berbicara dengan lantang. Dalam esai monumentalnya, L’Homme Révolté (Manusia Memberontak), Camus menuliskan sebuah renungan filosofis yang mendalam:

“Pemberontakan lahir dari spektakel irasional, di mana dunia tiba-tiba kehilangan makna yang transparan dan keadilan terasa mustahil dicapai sepenuhnya oleh akal manusia.”

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.