Wamendikdasmen: 71 Ribu Sekolah Direvitalisasi, Dorong Aisyiyah Perkuat Pendidikan Akar Rumput

by -1 Views
banner 468x60

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan program revitalisasi tidak hanya menyasar sekolah negeri, tetapi juga satuan pendidikan yang dikelola masyarakat, termasuk sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah.

banner 336x280

Pada tahun sebelumnya, program revitalisasi menyasar sekitar 23 persen sekolah swasta secara nasional yang telah menerima bantuan. 

“Ini wujud komitmen dari kami, dari pemerintah, untuk bersinergi dengan kelompok masyarakat yang menyelenggarakan layanan pendidikan,” ujar Fajar saat melakukan peletakan batu pertama revitalisasi Satuan Pendidikan TK Aisyiyah Pembina Banguntapan, Yogyakarta, Jumat (24/7/2026).

Fajar juga menyampaikan, kontribusi sekolah swasta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional sangat besar. Sekolah yang dikelola masyarakat mencapai sekitar 60 persen dari total satuan pendidikan di Indonesia. Karena itu, perbaikan kualitas pendidikan nasional dinilai tidak mungkin hanya mengandalkan sekolah negeri. 

“Tidak hanya untuk sekolah-sekolah negeri, tetapi juga sekolah yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Tidak hanya Muhammadiyah tentunya, NU, Persis, Taman Siswa, PGRI, dan juga yayasan yang lain yang menyelenggarakan layanan pendidikan berhak mendapatkan akses yang sama,” katanya.

“Tanpa bersinergi dengan swasta, berat rasanya kita bisa melakukan perbaikan ekosistem pembelajaran secara nasional,” ujarnya.

Porsi sekolah yang diselenggarakan masyarakat, harapannya juga dapat lebih proporsional dalam program revitalisasi tahun ini. Adapun cakupan program revitalisasi tahun ini meningkat signifikan setelah sekitar 16 ribu satuan pendidikan diperbaiki pada program sebelumnya. Tahun ini pemerintah menargetkan revitalisasi sekitar 71 ribu satuan pendidikan.

Peningkatan cakupan program tersebut diharapkan turut menambah jumlah sekolah penerima bantuan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, jumlah final penerima masih menunggu proses pendataan dan bimbingan teknis.

“Insya Allah penerima revitalisasi di Yogyakarta akan naik dibanding 2025. Tahun lalu sekitar 16 ribu, sekarang naik menjadi 71 ribu secara nasional,” katanya.

Terkait penentuan penerima bantuan, Fajar menyebut tetap dilakukan berdasarkan skala prioritas. Sekolah dengan kondisi rusak berat, satuan pendidikan di daerah terdampak bencana, serta sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi sasaran utama. Targetnya, dapat dituntaskan hingga Desember 2026.

Pemerintah juga memastikan revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi turut mendukung penyediaan sarana pembelajaran, termasuk papan interaktif digital.

Fajar juga menegaskan, tidak ada lagi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat pada 2028. Karena itu, program revitalisasi akan terus dilanjutkan dengan cakupan yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami berharap, Bapak-Ibu, jika sarana dan layanan pendidikan sekolah-sekolah itu baik, kualitasnya standar, maka Insyaallah akan melahirkan proses pembelajaran yang berkualitas juga. Dan saya percaya rekam jejak Aisyiyah ini sudah teruji,” ucapnya.

Dorong Peran Aisyiyah Lebih Besar

Di tengah besarnya dukungan pemerintah tersebut, Fajar juga meminta Aisyiyah mengambil peran yang lebih besar dalam meningkatkan mutu pendidikan. Fajar mengatakan, dukungan pemerintah terhadap pembangunan TK Aisyiyah Pembina Banguntapan tidak berhenti pada peletakan batu pertama. Ia memastikan pembiayaan telah diselesaikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan berharap pembangunan tersebut dapat segera rampung agar dapat meningkatkan kualitas lingkungan belajar sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang layak dan berkualitas.

“Insyaallah sampai tuntas ya. Tidak hanya peletakan saja, sampai selesai. Alhamdulillah, pembiayaannya sudah diselesaikan oleh Kementerian Pendidikan dan syukur-syukur nanti ada iuran, ada patungan untuk menambah lokasi. Jadi semangatnya Aisyiyah Muhammadiyah itu kan gotong royong, ta’awun,” ucapnya.

Menurutnya, rekam jejak Aisyiyah selama lebih dari satu abad telah membuktikan kontribusinya dalam memperluas akses pendidikan hingga ke pelosok negeri.

“Getaran dakwah Muhammadiyah-Aisyiyah itu memang sudah terasa sampai ke ujung negeri,” katanya.

Fajar mencontohkan sekolah-sekolah Muhammadiyah di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang berada di kawasan permukiman masyarakat suku Bajo. Menurutnya, keberadaan sekolah tersebut menunjukkan bahwa layanan pendidikan yang dikelola organisasi masyarakat telah menjangkau wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Ia berharap ke depan semakin banyak sekolah Aisyiyah yang tidak hanya bertambah secara kuantitas, tetapi juga menjadi sekolah unggulan dan model dalam peningkatan mutu pendidikan.

“Jadi harapannya tentu ke depan bermunculan sekolah-sekolah Aisyiyah yang menjadi unggulan, yang menjadi model, karena kita berorientasi kepada mutu, tidak hanya semata-mata mengejar kuantitas jumlah amal usaha,” ujarnya.

Fajar juga mengingatkan bahwa revitalisasi sekolah tidak boleh dimaknai sebatas pembangunan gedung. Menurutnya, pemerintah ingin membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan lingkungan digital.

Ia secara khusus meminta Aisyiyah memperkuat peran keluarga dalam pendidikan anak. Sebab, menurutnya, keluarga merupakan ujung tombak pendidikan, terutama di tengah meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial oleh anak-anak. “Ujung tombak pendidikan itu ada di keluarga,” tegasnya.

Menurutnya, orang tua perlu terlibat aktif dalam mendampingi anak, termasuk membatasi penggunaan gawai dan akses terhadap media sosial. Langkah tersebut penting untuk mencegah ketergantungan terhadap teknologi sekaligus menjaga kesehatan mental anak.

Ia menilai, sekolah-sekolah yang dikelola Aisyiyah memiliki modal kuat untuk memperkuat sinergi antara satuan pendidikan dan keluarga. Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan, kata dia, menjadi salah satu faktor penting dalam membangun sekolah yang berkualitas.

“Ketika kita menggalakkan revitalisasi sekolah, bukan semata-mata memperbaiki bangunan fisiknya, tetapi membangun ekosistem yang lebih kondusif, yang lebih aman, nyaman buat putra-putri kita,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Latifah Iskandar menyambut baik dukungan pemerintah terhadap revitalisasi satuan pendidikan. Aisyiyah menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan bantuan yang diberikan dan berharap dukungan serupa dapat menjangkau lebih banyak satuan pendidikan.

Ia menyebut, pendidikan yang diberikan sejak usia dini menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Ini nanti yang akan dibangun, jadi akan menambah siswa-siswa yang dididik oleh Aisyiyah. Itu akan siap nanti ketika mereka berusia 19 tahun dan masuk di Indonesia Emas 2045,” katanya.

Menurutnya, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan Aisyiyah masih dibutuhkan di berbagai daerah. Meskipun telah banyak sekolah yang mendapatkan bantuan, masih terdapat sejumlah lembaga pendidikan yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan.

“Walaupun kami juga paham banyak sekali yang sudah dibantu, tetapi banyak juga yang membutuhkan untuk program revitalisasi TK atau satuan pendidikan berupa taman kanak-kanak,” ujarnya.

Latifah berharap pembangunan TK Aisyiyah Pembina Banguntapan dapat segera diselesaikan dan mulai beroperasi sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap dukungan terhadap pengembangan pendidikan Aisyiyah dapat terus diperluas ke berbagai titik lainnya.

“Insya Allah akan cepat jadi, cepat beroperasional, dan bermanfaat untuk masyarakat, khususnya di Kotagede dan sekitar,” ungkapnya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.