
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong pemerintah daerah memanfaatkan bonus demografi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Hal itu guna membawa Indonesia keluar dari middle income trap dan visi Indonesia Emas 2045 tak menjadi mimpi belaka.
Bima mengatakan, Indonesia telah digadang-gadang akan menjadi negara maju, bahkan masuk lima negara dengan ekonomi terbesar di dunia, pada 20 tahun mendatang. “Syaratnya kita harus keluar dari jebakan kelas menengah. Hari ini Indonesia masih terjebak, sudah 20 tahun lebih, bahkan 30 tahun, di middle income countries,” ucapnya saat menghadiri Rapat Kerja (Raker) Gubernur Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) di Hotel Tentrem, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/5/2026).
Dia menambahkan, terdapat setidaknya 108 negara di dunia yang gagal naik kelas atau tertahan di middle income countries. “Artinya kalau kita enggak bisa keluar dari jebakan kelas menengah ini, maka kita tidak bisa. Dalam 20 tahun lagi Indonesia Emas itu hanya mimpi saja,” kata Bima.
Bima menerangkan, salah satu modal yang dimiliki Indonesia saat ini adalah bonus demografi, yakni usia penduduk produktif lebih tinggi dibandingkan nonproduktif. Menurut Bima, perbandingannya sekarang adalah 100 warga usia produktif menanggung 45 warga nonproduktif.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Bima mengatakan, bonus demografi akan dinikmati Indonesia hingga 2039. Namun dia mengingatkan, bonus demografi di setiap daerah akan berbeda-beda.
“Seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, mungkin akan lebih cepat kehilangan (bonus demografi) karena usia orang tuanya lebih banyak. Yogya adalah salah satu kota pensiunan yang jumlah populasi lansianya paling banyak di Republik. Nah, ini bonus demografinya akan hilang berapa tahun lagi. Jadi pelan-pelan bonus demografi akan hilang,” ucap Bima.
Dia mengungkapkan, jika menilik data BPS, saat ini generasi Milenial, Z, dan selanjutnya, merupakan penduduk mayoritas Indonesia. Namun Bima berpendapat, banyak kepala daerah yang lengah dan tak menyadari bonus demografi mempunyai batas masa.
“Jadi banyak kepala daerah yang enggak engeh. Jadi Gen-Z, Milenial, dan post Gen-Z ini dicuekin. Nanti kemudian akan menjadi beban. Di provinsi besar seperti di Pulau Jawa, ini hilangnya akan cepat karena lebih maju, lebih panjang umur, dan kalau Gen-Z-nya tidak digarap, maka enggak bisa memanfaatkan bonus demografi,” kata Bima.
Dia menerangkan, selain memanfaatkan bonus demografi, syarat mewujudkan Indonesia Emas adalah pertumbuhan ekonomi harus dobel digit selama 10-15 tahun ke depan. Bima mengatakan, berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini adalah 5,6 persen. Menurutnya, jika pertumbuhan tersebut terus dipertahankan dan ditingkatkan, Indonesia Emas dapat terwujud.
“Kita punya target besar, kita punya tugas memanfaatkan bonus demografi, daerah-daerah harus menyumbang pertumbuhan ekonomi,” ujar Bima.
Bima mengatakan, hal itu menjadi salah satu fokus Kementerian Dalam Negeri. “Ini yang sekarang menjadi concern kami. Jadi Presiden meminta agar Mendagri, bersama-sama dengan Bapenas, Menteri Keuangan, mendesain langkah-langkah yang bisa dilakukan kepala daerah untuk bisa menyumbangkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ucap Bima.









