
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Slow jogging belakangan ramai dibicarakan di media sosial, utamanya setelah viral video yang memperlihatkan sekelompok orang di Korea Selatan berlari dengan kecepatan pelan. Di Indonesia, komunitas slow jogging ternyata sudah eksis sejak beberapa tahun lalu.
Komunitas Slow Jogging Indonesia (SJI) dibentuk di Yogyakarta pada 30 Desember 2017. Komunitas tersebut didirikan oleh Rully Kawit Prasetya setelah sebelumnya menghubungi Slow Jogging Association. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berkembang dan hadir di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta.
Captain Slow Jogging Indonesia chapter GBK, Wijang Sri Isnandita, mengatakan komunitas SJI sempat vakum. Namun, beberapa waktu terakhir komunitas ini kembali hidup setelah tingginya minat masyarakat untuk mengikuti latihan bersama.
“Nah emang sempet lama nggak ada aktivitas di komunitas slow jogging Indonesia. Karena yang dulu pada lari slow, sekarang sudah pada ngebut. Tapi sekarang untuk yang di Jakarta baru menggeliat lagi nih, karena banyak permintaan untuk slow jogging lagi,” kata Wijang saat dihubungi Republika, Kamis (23/7/2026).
Wijang menceritakan Slow Jogging Indonesia perdana menggelar latihan bersama lagi pada Senin (20/7/2026) di kawasan Gelora Bung Karno. Peserta yang bergabung mayoritas merupakan orang-orang baru yang mencoba beralih dari aktivitas jalan kaki menuju olahraga lari.
Menurut Wijang, sebagian besar peserta slow jogging umumnya berusia matang. Banyak dari mereka merasa kurang percaya diri untuk bergabung dengan komunitas lari anak muda, karena anggota komunitas tersebut biasanya sudah berlari dengan kecepatan tinggi.
“Kebanyakan orang-orang yang ikut slow jogging itu yang sudah usianya matang, bapak-bapak, ibu-ibu gitu ya. Karena mereka ketika bergabung dengan komunitas lari mungkin merasa insecure. Karena kebanyakan kan udah lari pada kenceng-kenceng gitu kan,” kata Wijang.
Wijang sendiri pernah merasa tidak percaya diri ketika pertama kali mulai berlari. Pada 2019, ia mengaku merasa minder bergabung dengan komunitas lari karena kebanyakan dari mereka membahas capaian pace dan kecepatan lari.
“Saya juga alami pas mulai lari di tahun 2019, itu juga begitu, insecure. Karena kalau komunitas lari yang umum itu yang dibahas pace, seberapa kenceng kita lari. Sedangkan di slow jogging kita nggak bahas itu, kita lari senyamannya dulu. Setelah itu baru dibenerin pelan-pelan gitu,” kata Wijang.
la menjelaskan, tujuan utama komunitas slow jogging adalah membuat orang mau mulai bergerak dan berlari tanpa merasa terbebani. Setelah terbiasa, kemampuan berlari peserta akan dianalisis dan diperbaiki secara bertahap.
“Tujuan kita seperti itu membuat orang mulai mau bergerak dulu, berlari dulu, senyamannya. Nanti semakin ke sini kita coba analisa running performance-nya. Oh ini harus dibenerin, oh ini begini, ini begini,” kata Wijang.











