Tren Polyworking Meningkat: Gaya Hidup Anak Muda atau Tanda Gaji Utama Nggak Cukup?

by -12 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Fenomena polyworker semakin banyak dijumpai di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Polyworker yaitu ketika seseorang yang menjalani lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan.

banner 336x280

Perkembangan ekonomi digital, platform freelance, dan media sosial membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan dari berbagai sumber. Namun di balik tren tersebut, ahli menilai fenomena polyworker bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan cerminan transformasi struktur pasar kerja.

Pakar ekonomi dan bisnis sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Khalifany Ash Shidiqi, mengatakan fenomena polyworker dapat dipahami melalui perspektif ekonomi tenaga kerja. Dalam literatur ekonomi, praktik tersebut dikenal dengan istilah multiple jobholding, dual jobholding, atau moonlighting.

“Dalam teori ekonomi tenaga kerja, praktik seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Di literatur dikenal sebagai multiple jobholding, dual jobholding, atau moonlighting. Jadi, polyworker tidak bisa hanya dipandang sebagai tren anak muda, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan pendapatan, pilihan karier, hingga perubahan cara orang bekerja,” kata Khalifany dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, keputusan seseorang menjadi polyworker dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kebutuhan ekonomi memang masih menjadi alasan utama, tetapi banyak pekerja muda juga memanfaatkan pekerjaan tambahan untuk memperluas pengalaman, membangun portofolio, mengembangkan keterampilan, hingga membuka peluang karier baru.

“Sebagian orang mengambil pekerjaan kedua karena pendapatan dari pekerjaan utama belum cukup memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ada pula yang menjadikan pekerjaan tambahan sebagai investasi pengalaman, memperluas jaringan profesional, hingga membuka peluang karier yang lebih sesuai dengan minatnya,” kata dia.

Khalifany menilai meningkatnya jumlah polyworker menunjukkan struktur pasar tenaga kerja terus mengalami perubahan. Model pekerjaan kini tidak lagi identik dengan pekerjaan tetap dan jam kerja konvensional. Kehadiran ekonomi digital memungkinkan masyarakat bekerja sebagai freelancer, kreator konten, penjual daring, maupun pekerja berbasis platform digital dengan lebih mudah.

Di sisi lain, fenomena tersebut juga dapat menjadi indikator bahwa kualitas pekerjaan utama masih belum sepenuhnya memadai. Apabila seseorang harus mencari pekerjaan tambahan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendapatan dari pekerjaan utama belum mampu memberikan penghidupan yang layak.


Berdasarkan hasil olahan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024, sekitar 19,29 juta pekerja atau 13,34 persen dari total pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan. Menariknya, proporsi terbesar justru berasal dari kelompok usia 35 tahun ke atas, sehingga fenomena ini tidak hanya terjadi pada Generasi Z.

“Data tersebut menunjukkan bahwa polyworker bukan sekadar tren generasi muda, tetapi juga menjadi strategi ekonomi rumah tangga di berbagai kelompok usia,” kata dia.

la menyebut, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 juga menunjukkan bahwa kualitas pekerjaan di Indonesia masih menghadapi tantangan. Dengan rata-rata upah buruh sekitar Rp3,33 juta per bulan dan jutaan pekerja yang bekerja lebih dari 49 jam setiap pekan, sebagian masyarakat memilih mencari sumber pendapatan tambahan untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.