Sinyal yang tidak Terbaca

by -7 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Senin malam, 27 April 2026, pukul 20.52 WIB. Ribuan warga Jakarta dan sekitarnya tengah dalam perjalanan pulang setelah hari yang panjang. Di antara mereka, ratusan penumpang KRL Commuter Line tujuan Cikarang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur, menunggu jalur depan bersih.

banner 336x280

Tiba-tiba dari arah belakang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam menghantam rangkaian KRL tersebut dengan keras. Gerbong yang paling menanggung benturan adalah gerbong paling belakang, gerbong khusus perempuan.

Lokomotif kereta jarak jauh itu merangsek masuk, memorak-porandakan besi dan baja menjadi tumpukan puing. Hingga keesokan harinya, korban meninggal dunia tercatat 15 orang dan 88 orang luka-luka dirawat di berbagai rumah sakit.

Di dalam gerbong berwarna merah muda yang hadir sejak 2010 itu, seluruh penumpangnya adalah perempuan yang tengah menjalani rutinitas harian paling sederhana yakni pulang kerja. Ada pegawai kantoran, guru, karyawan media, perempuan, dan ibu yang sedang dalam perjalanan kembali ke rumah serta keluarganya.

Gerbong khusus perempuan yang dirancang untuk melindungi perempuan, khususnya dari pelecehan dan ketidaknyamanan di transportasi umum yang padat, namun malam itu menjadi gerbong yang paling menanggung bencana. Pekan lalu di kolom ini saya berbagi tulisan tentang Kartini dan perjuangan perempuan, hari ini, perjuangan itu terasa sangat nyata dan sangat menyakitkan.

Investigasi awal mengungkap bahwa kecelakaan ini bukan bermula dari satu titik tunggal. Terdapat rangkaian kejadian yang saling bertautan menjadi penyebab tragedi ini. Sebuah taksi listrik mengalami korsleting dan mogok di tengah perlintasan sebidang Jalan Ampera, tidak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Perlintasan tanpa palang pintu otomatis dan tidak ada petugas KAI.

Taksi yang mogok itu kemudian tertabrak KRL dari arah Cikarang, menyebabkan KRL lain dari arah Jakarta terpaksa berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu sinyal bersih. Di saat itulah KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah belakang menghantam KRL yang sedang diam menunggu sinyal.

Apakah sinyal tidak terbaca oleh KA Argo Bromo Anggrek atau ada sebab lainnya? Tragedi Bekasi Timur ini menyodorkan banyak pelajaran mulai dari perlintasan rel yang dijaga seadanya, pengemudi yang melintas sembarangan, sampai dengan sistem persinyalan yang belum sepenuhnya andal.

Berbagai analisis bermunculan di media dengan penyebab yang secara umum terbagi dua, yaitu kelalaian manusia dan keandalan teknologi. Kombinasi dari kesalahan di dua sisi ini dapat menyebabkan kecelakaan yang fatal.

Sebagian pengguna jalan tidak dimungkiri menganggap remeh palang perlintasan kereta api. Seperti satu keputusan sembrono seorang pengemudi malam itu menjadi pemicu domino yang merenggut nyawa orang-orang yang tidak tahu-menahu. Demikian juga di sisi teknologi, perlunya audit dan pembaruan sistem persinyalan secara berkelanjutan tidak boleh berhenti. Dua sisi yang harus terus menjadi perhatian, dan hal ini menjadi tugas penting khususnya di lingkungan akademik.

Fenomena ini sesungguhnya juga tidak asing di lingkungan Universitas Amikom Yogyakarta. Sebuah area coworking space terbuka baru saja dihadirkan sebagai ruang kolaborasi dan kreativitas bagi seluruh civitas akademika.

Sebuah fasilitas yang dirancang dengan baik, dengan niat yang baik. Namun dalam hari-hari pertama penggunaannya, muncul pemandangan yang memprihatinkan, yaitu puntung rokok berserakan di sudut-sudut ruang terbuka itu, ditinggalkan begitu saja oleh civitas yang merokok sembarangan. Penambahan dan perbaikan infrastruktur terus coba dihadirkan, tetapi perilaku penggunanya belum sepenuhnya dapat mengikuti.

Kemajuan teknologi dan kemajuan perilaku adalah dua roda yang harus berputar bersama. Secanggih apapun sistem persinyalan kereta, mitigasi, dan pembaruannya harus terus dijaga. Demikian juga setiap teknologi tetap rentan jika manusia di sekitarnya bertindak sembarangan.

Di sinilah perguruan tinggi juga harus menjalankan salah satu tanggung jawabnya yang paling mendasar. Selain mencetak lulusan yang kompeten secara teknis, perguruan tinggi juga harus membentuk individu yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Semoga para korban tragedi Bekasi Timur mendapatkan ketenangan, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Dari peristiwa memilukan ini, kita diajak untuk tidak hanya terus mengembangkan teknologi, tetapi juga menengok ke dalam diri, sudahkah kita menjadi pengguna yang bertanggung jawab atas ruang dan sistem yang kita bagi bersama?

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56).

Menjaga perlintasan rel, menjaga puntung rokok tidak berserakan, menjaga ruang bersama agar tetap layak untuk semua, adalah bentuk-bentuk kecil dari tanggung jawab yang Allah titipkan kepada kita sebagai penghuni bumi ini. 

Wallahu A’lam

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.