Sering Overthinking? Ini Cara Mengatasinya

by -3 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Selain depresi, overthinking menjadi salah satu masalah mental yang banyak dikeluhkan masyarakat terutama anak muda.

banner 336x280

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ratih Ratnasari, overthinking atau kebiasaan berpikir secara berlebih di kalangan muda-mudi sering kali menjadi penghambat kesehatan mental. Pikiran seperti “Bagaimana kalau gagal?”, “Apakah saya cukup baik?”, atau “Apa kata orang nanti?” kerap muncul bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menurut dia, memikirkan sesuatu atau masa depan adalah hal yang sangat wajar. Namun jika anak muda memikirkan sesuatu terlalu dalam hingga membuat hati cemas dan gelisah, maka itu pertanda mengalami overthinking.

“Berpikir itu baik selama menghasilkan solusi. Namun, ketika pikiran justru membuat kita semakin cemas dan menghambat tindakan, di situlah overthinking mulai menjadi masalah,” kata Ratih dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (8/7/2026).

la menjelaskan, overthinking merupakan pola pikir yang muncul secara berulang, berlebihan, sulit dihentikan, dan cenderung berfokus pada hal-hal negatif. Gejala yang sering muncul antara lain terus-menerus menyesali kesalahan di masa lalu, selalu membayangkan skenario terburuk (catastrophizing), susah tidur (insomnia), dan lelah secara emosional.


Ratih menjelaskan bahwa overthinking juga dapat membentuk siklus negatif yang merusak. Berawal dari satu pemicu, muncul pikiran negatif yang memicu emosi negatif. Dampaknya, seseorang dapat menunda-nunda pekerjaan (procrastination), menghindari interaksi sosial, mencari validasi secara berlebihan di media sosial, hingga menarik diri dari lingkungan sekitar.

Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya distorsi kognitif, yakni kesalahan dalam cara berpikir yang membuat seseorang memercayai sesuatu yang belum tentu benar. Contohnya adalah mind reading atau merasa mengetahui pikiran buruk orang lain atau melihat segala sesuatu secara hitam-putih tanpa jalan tengah.

“Sering kali yang membuat kita menderita bukan situasinya, melainkan cara kita menafsirkan situasi tersebut,” ujar Ratih.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.