
REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Budi Mulia Dua Culinary School kembali menggelar Program Kecakapan Wirausaha (PKW) tahun 2026. Program pelatihan kuliner gratis ini secara khusus menyasar warga masyarakat umum guna mencetak wirausaha baru yang tangguh di bidang street food & bakery.
Pimpinan LKP Budi Mulia Dua Culinary School, Ani Syafaatun, mengatakan pemilihan bidang street food & bakery didasarkan pada tingginya kebutuhan pasar kuliner di Yogyakarta yang terus tumbuh seiring berkembangnya ruang publik dan gaya hidup masyarakat.
“Kami menganggap makanan khususnya street food & bakery ini masih sangat potensial dikembangkan di Yogyakarta. Kalau bakery itu bahkan dari proses kelahiran sampai kematian selalu dibutuhkan, jadi peluang usahanya sangat besar,” ujar Ani saat ditemui di sela-sela pembukaan program, Jumat (22/5/2026).
Pada tahun ini, jumlah peserta yang diterima program yang disponsori Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut memang mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya program mampu menampung hingga 40 peserta, kini kuota hanya tersedia untuk 25 orang akibat efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.
Meskipun demikian, LKP Budi Mulia Dua tetap berhasil mempertahankan kualitas program hingga memperoleh kategori Platinum setelah melewati tahapan wawancara dan evaluasi ketat dari pemerintah pusat.
“Dengan kategori platinum, kami bisa memberikan jumlah pertemuan yang lebih banyak dan jumlah bantuan yang juga lebih banyak. Kami sangat bersyukur mendapat amanah ini untuk membantu masyarakat yang memiliki kesulitan biaya pelatihan,” katana.
Selama sekitar 45 hari atau setara 350 Jam Pelajaran (JPL), peserta akan mendapatkan pelatihan intensif mulai dari keterampilan memasak, pengelolaan usaha, hingga bantuan peralatan usaha setelah dinyatakan lulus.
Peserta lini bakery akan memperoleh bantuan berupa mixer dan oven, sedangkan peserta street food mendapatkan fasilitas gerobak usaha (booth), kompor, hingga perlengkapan mengukus sebagai modal awal berwirausaha.
Fenomena makanan viral yang marak di media sosial turut menjadi perhatian dalam materi pelatihan. Peserta tidak hanya diajarkan membuat produk yang menarik secara visual, tetapi juga dibekali strategi mempertahankan usaha agar mampu berkembang dalam jangka panjang.
“Viral sekarang lebih mudah karena dibantu food vlogger dan media sosial. Tapi kami tekankan ke anak didik, jangan hanya muncul tiga bulan lalu hilang. Harus di-maintain branding-nya,” jelas Ani.
Materi pembelajaran tahun ini juga dibuat lebih adaptif terhadap tren pasar. Beberapa inovasi produk yang diajarkan antara lain donat dengan topping pedas meleleh hingga cireng isi pedas dengan kuah krimi. Seluruh materi bahkan telah disiapkan dalam bentuk video pembelajaran digital untuk memudahkan peserta memahami praktik usaha kuliner modern.
Keberhasilan program PKW Budi Mulia Dua juga terlihat dari kiprah para alumninya. Salah satu lulusan tahun 2024 bernama Depri kini sukses menjalankan usaha Dimsum yang cukup dikenal di kalangan mahasiswa Yogyakarta.
Berawal dari lulusan STM non-kuliner dan pernah bekerja sebagai pengemudi ojek online, alumninta telah memiliki empat outlet di kawasan strategis dekat kampus Unisa, UMY, UAD, hingga Jalan Godean.
“Salah satu alumni kami ada yang dari keluarga prasejahtera. Berawal dari modal meja kecil dan bantuan program ini, sekarang karyawannya sudah 16 orang dengan omzet sekitar Rp90 juta per bulan. Akhir tahun lalu dia bahkan terpilih menjadi Peserta Didik Transformatif Nasional dan mendapat penghargaan langsung dari Pak Menteri,” kenang Ani bangga.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Reni Tri Puji Astuti, mengapresiasi keberhasilan LKP Budi Mulia Dua mempertahankan kepercayaan pemerintah pusat melalui program pelatihan tersebut.
Menurutnya, lembaga yang lolos program PKW merupakan institusi dengan akreditasi baik, pengelolaan anggaran yang transparan, serta memiliki pertanggungjawaban jelas kepada peserta didik.
“Bantuan pelatihan diberikan penuh kepada peserta didik, bahkan bantuan modal alat diantarkan sampai ke depan rumahnya. Itulah mengapa pemerintah pusat sangat percaya,” kata Reni.
Reni menambahkan, tren pendidikan nonformal di Sleman justru menunjukkan perkembangan positif meskipun pemerintah pusat melakukan efisiensi anggaran. Tahun ini terdapat tujuh lembaga di Sleman yang berhasil memperoleh program bantuan pelatihan dan modal usaha dari pusat, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya lima lembaga.
Pemerintah Kabupaten Sleman, lanjut Reni, kini lebih fokus memperkuat pembinaan kelembagaan agar kualitas program pelatihan tetap terjaga dan mampu melahirkan pelaku usaha baru yang tangguh menghadapi persaingan industri kuliner.
“Namanya dunia usaha pasti ada jatuh bangun. Bagaimana mereka bisa bangkit kembali, itu yang perlu ditekankan. Sektor kuliner dan jajanan pasar di Sleman ini, jika dibranding dengan baik dan mengikuti tren viral, pasarnya sangat menjanjikan dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat bawah,” ujar Reni.











