Perjalanan yang Belum Berakhir

by -14 Views
banner 468x60

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

banner 336x280

REPUBLIKA.CO.ID, Di antara berbagai pengalaman selama perjalanan kami di Belanda dan Belgia, ada satu pemandangan yang terus menetap di ingatan bahkan setelah kami kembali ke Yogyakarta. Ketika menyusuri kota Alkmaar di Belanda, kota tua yang terkenal dengan pasar keju dan kanal-kanalnya yang indah, kami menjumpai cukup banyak wisatawan lanjut usia.

Mereka berjalan santai menyusuri jalanan berbatu, membaca peta, atau membuka aplikasi di telepon genggam untuk mencari rute, menikmati makan siang di kafe-kafe kecil di tepi kanal, atau sedang menyusuri kanal dengan perahu. Sebagian datang bersama pasangan, sebagian lagi bepergian seorang diri. Usia mereka mungkin telah mencapai tujuh puluh tahun bahkan delapan puluh tahun. Namun tidak satu pun yang tampak menyerah pada usia.

Pengalaman lain yang cukup membekas terjadi saat kami menaiki kereta dari Alkmaar menuju Amsterdam Centraal. Di perjalanan, seorang nenek yang tampak sudah sangat lanjut usianya naik kereta dengan koper biru kecilnya. Percakapan ringan yang berlangsung selama perjalanan membawa kami pada cerita yang cukup mengejutkan. Beliau sedang melakukan perjalanan seorang diri menuju Berlin, Jerman, dan menyampaikan bahwa ia harus segera ke peron tertentu sesampainya di Amsterdam Centraal.

Ia mengatakan hanya memiliki waktu sekitar empat menit untuk berpindah ke kereta menuju Berlin. Tampak jelas bahwa ia memahami kereta mana yang harus dinaiki, di stasiun mana harus berpindah, berapa lama waktu transit yang tersedia, hingga jalur mana yang harus dipilih. Sesaat setelah kereta kami tiba di Amsterdam Centraal dan nenek itu turun, sebuah kereta ICE Deutsche Bahn berwarna abu-abu dengan garis merah perlahan memasuki peron. Kami melihat ia berjalan pelan namun mantap menuju eskalator, berpindah peron, lalu menghilang di antara para penumpang yang akan menuju Berlin.

Yang membuat saya kagum tentu bukan semata-mata keberaniannya bepergian seorang diri di usia senja. Namun yang jauh lebih mengesankan adalah kemampuannya mengelola informasi. Ia tidak tumbuh bersama teknologi digital sebagaimana generasi muda saat ini. Namun ia memilih untuk belajar, menyesuaikan diri, dan memanfaatkan teknologi agar tetap mandiri. Saat itu saya menyadari bahwa yang membuat seseorang tetap bebas bergerak ternyata bukan terutama usianya, melainkan kemauannya untuk terus belajar. Selama seseorang masih bersedia belajar, teknologi tidak menjadi penghalang, melainkan jembatan yang memperluas kebebasannya.

Pemandangan seperti itu ternyata bukan sesuatu yang langka. Di Belanda maupun Belgia, lansia yang bepergian dengan kereta, bersepeda, atau berjalan kaki menikmati ruang publik merupakan hal yang sangat biasa. Hal tersebut tentu didukung oleh sistem transportasi yang mudah diakses, infrastruktur kota yang ramah pejalan kaki, serta budaya yang mendorong setiap orang tetap aktif sepanjang hayat. Masa pensiun tidak dipandang sebagai akhir dari produktivitas, melainkan sebagai babak baru untuk melakukan berbagai hal yang sebelumnya tertunda. Bepergian, mempelajari tempat baru, bertemu orang baru, bahkan belajar menggunakan teknologi baru menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Pengalaman perjalanan tersebut mengingatkan saya kepada banyak mahasiswa S2 dan S3 yang sedang menempuh studi di Universitas Amikom Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka bukan lagi mahasiswa dalam pengertian yang umum. Mereka telah menjadi dosen, guru, aparatur sipil negara, ataupun profesional di berbagai bidang. Sebagian melanjutkan studi karena tuntutan institusi tempat mereka mengabdi, sebagian lagi karena dorongan untuk terus mengembangkan diri. Mereka datang ke ruang kuliah setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku pendidikan formal, membawa tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan berbagai amanah lain yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Tidak sedikit yang harus belajar kembali dari awal. Mereka mempelajari perangkat lunak analisis data yang sebelumnya belum pernah digunakan, membaca artikel ilmiah berbahasa Inggris, memahami metodologi penelitian terbaru, mengikuti perkembangan kecerdasan buatan yang berubah demikian cepat, hingga menyesuaikan diri dengan berbagai platform digital yang kini menjadi bagian dari proses pembelajaran dan penelitian. Bagi sebagian orang, semua itu tampak terasa berat dan bahkan tidak sedikit yang sempat merasa dirinya sudah terlalu tua untuk mempelajari hal-hal baru.

Padahal pengalaman perjalanan di Eropa itu justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Usia bukanlah penghalang utama untuk belajar. Hambatan terbesar sering kali justru muncul ketika seseorang berhenti percaya bahwa dirinya masih mampu berkembang. Seorang nenek yang bepergian seorang diri menuju Berlin mengajarkan bahwa kemampuan belajar tidak berhenti ketika usia bertambah. Ia hanya berhenti ketika kita sendiri yang menutup diri terhadap pengetahuan baru.

Dalam dunia akademik, kemampuan belajar kembali sering kali jauh lebih penting daripada apa yang telah kita kuasai sebelumnya. Ilmu pengetahuan terus berkembang, metode penelitian terus diperbarui, dan teknologi terus berubah. Karena itu, seorang peneliti tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Ia wajib terus memperbarui dirinya, dan mungkin itulah makna terdalam dari menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tidak hanya sekadar terus menambah pengetahuan, namun terus memelihara kerendahan hati untuk mengakui bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Belajar adalah cara seseorang menjaga kemandiriannya, memperluas cakrawalanya, dan tetap bertumbuh pada setiap fase kehidupan.

Perjalanan kami di Eropa akhirnya memang telah usai, tetapi pelajaran yang kami bawa pulang terasa jauh lebih panjang daripada daftar kota yang sempat kami kunjungi. Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114). Doa tersebut tidak pernah dibatasi oleh usia. Ia dapat dipanjatkan oleh seorang anak yang baru belajar membaca, oleh mahasiswa yang sedang menyusun tesis dan disertasi, oleh dosen yang terus memperbarui keilmuannya, bahkan oleh seorang lansia yang sedang melakukan perjalanan lintas negara seorang diri. Sebab sesungguhnya, selama kita masih bersedia belajar, perjalanan itu belum pernah benar-benar berakhir. Wallāhu a’lam.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.