Pameran Kartu Pos ‘Art in Focus’ di Kavach Space Ajak Lihat Realitas dari Beragam Perspektif

by -1 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Barangkali sebuah kartu pos tampak sederhana. Namun, di tangan para seniman, medium berukuran kecil itu mampu memuat gagasan, emosi, ingatan, hingga cara pandang yang luas tentang dunia. Gagasan tersebut dihadirkan dalam pameran Art in Focus yang berlangsung di Kavach Space pada 13 Juli–31 Agustus 2026 sebagai bagian dari momentum Lebaran Seni Yogyakarta.

banner 336x280

Mengusung tema Sight, Space & Stories, pameran ini mengajak pengunjung memahami bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam melihat dan memaknai dunia. Sight merepresentasikan cara individu memandang realitas melalui perspektif masing-masing. Space menjadi ruang tempat berbagai perspektif itu hadir, bertemu, dan membangun pengalaman bersama. Sementara Stories merupakan narasi yang lahir dari pengalaman, pengamatan, dan ingatan yang kemudian diwujudkan dalam karya seni.

Art in Focus diselenggarakan sebagai postcard exhibition yang menghadirkan karya-karya berformat kartu pos. Medium ini dipilih bukan karena keterbatasan ukurannya, melainkan karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Sejak lama, kartu pos menjadi sarana mengirim kabar, berbagi pengalaman, sekaligus menyimpan kenangan. Dalam pameran ini, kartu pos dimaknai kembali sebagai ruang kecil yang mampu membawa gagasan-gagasan besar.

“Karena medianya sebesar post card (kartu pos) sehingga bisa melibatkan banyak seniman dan lebih intimate ,” ujar Creative Director Kovach yang juga sekaligus kurator pameran, Antino Restu, kepada wartawan, Senin (13/7/2026).

Terdapat sebanyak 70 seniman yang turut berpartisipasi pada pameran tersebut. Sedangkan karya yang ditampilkan terdapat sebanyak 120-an karena terdapat beberapa seniman yang mengirimkan lebih dari satu karya.

Setiap karya tidak hanya tampil sebagai objek visual, tetapi juga sebagai pesan yang berpindah dari pengalaman seniman kepada pengunjung. Melalui skala yang kecil, pengunjung diajak memperlambat langkah, mendekat, dan meluangkan waktu untuk menemukan narasi yang mungkin tersembunyi di balik setiap karya.

Pameran ini digelar di Kavach Space, ruang yang sejak awal tidak hanya dibangun sebagai destinasi ritel eyewear, tetapi juga sebagai ruang yang membuka kemungkinan terjadinya pertemuan antara desain, budaya, komunitas, dan praktik kreatif. Berangkat dari gagasan tentang vision dan perspective, Kavach memandang bahwa melihat tidak berhenti pada fungsi penglihatan semata, melainkan juga bagaimana seseorang memahami dunia melalui pengalaman visual.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran mini gallery yang menjadi bagian dari ruang Kavach. Area ini dirancang sebagai platform bagi para kolaborator, seniman, dan kreator untuk menghadirkan karya mereka dalam konteks yang lebih dekat dengan publik. Dengan demikian, karya seni tidak ditempatkan sebagai pelengkap ruang komersial, melainkan menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk identitas ruang itu sendiri.

Melalui Art in Focus, mini gallery Kavach berkembang menjadi ruang kolektif yang mempertemukan beragam perspektif dalam satu pengalaman bersama. Penyelenggaraan pameran ini juga menjadi bentuk partisipasi Kavach dalam ekosistem seni yang terus tumbuh di Yogyakarta sekaligus membuka ruang bagi para seniman untuk berbagi karya kepada audiens yang lebih luas.

Pameran ini menghadirkan karya puluhan seniman dari berbagai latar belakang, di antaranya Abenk Alter, Adam Lauhil, Adi Novianto, Adriel Reyhan, Afney, Agum Gum, Agung Prayogie, Ajeng Larasati, Carmeli Budiman, Kezia Odelia, Stomp Brigade, Suar Makna, Aldo Aprilian Wibowo, Catha Ngiring Hayyu Kamijoyo, Andi Yulianto, Daniel Scantofia, Aryhox, Dharshanda P., Atasiaishii, Dosa, Keysha Belva Slavina, Awas Lepas, Emmanuel Putro Prakoso, Kimozz, Sweetarens, Lucyanna, Syarifah Al Addawiyah, Luthfi Pratama, Tiara Bachtiar, Mariska Ratri Handayani, Tomtombol, Bagas Satrio, Erika Enda Ginting, Marsha Hapsari, Uukwuzhere, Beauty Clarabelle, Erin Dwia, Begok.oner, Evan Valerian, Bonk AVA, Fadia Vienisa, Fauzan Puthut, Nadia Diandra, Ferdyzal Oktama, Nadhief Ashr, Ulfi Audria, Yusa Dirgantara, Gevin El Khansya, Nandhika Lupitasari, Gnoberio, Nevy Kusuma Danarti, Gugulethu Ndlalani, Ngiring, Hamzah Fathul, Noormatiin, Harits Geronimo, Norma Fauza, Okkan Yuranoa, I Made Arya Wiguna, Raka Adityatama, Imelda, Raphael, Iqbal, Rei, Res Harris, Rifki, Saigon, Sloppyrobb, dan Soni Harsono.

Melalui karya-karya tersebut, para seniman membagikan pengalaman, pengamatan, emosi, dan ingatan yang diterjemahkan ke dalam format sederhana namun sarat makna. Setiap kartu pos menjadi ruang dialog yang memungkinkan pengunjung menemukan tafsir dan pengalaman yang berbeda.

“Pameran ini bertujuan untuk merayakan (semangat) anak-anak muda hari ini yang selalu menciptakan tren, apalagi hari ini hal-hal yang analog kembali. Post card ini menjadi salah satu medium analog yang mereka angkat lagi,” ujar pengamat seni khususnya subkultur anak muda dan desain visual, Arsita Pinandita.

Pada akhirnya, Art in Focus bukan sekadar menghadirkan sekumpulan karya dalam format kartu pos. Pameran ini merupakan undangan untuk berhenti sejenak, melihat lebih dekat, dan menyadari bahwa setiap cara pandang selalu membawa ruang dan cerita yang layak untuk dibagikan. Sebab, setiap karya seni selalu berawal dari satu hal yang sederhana, yakni cara seseorang melihat dunia.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.