Mendukbangga: Jangan Biarkan Indonesia Jadi Negara Tanpa Peran Ayah karena Teknologi

by -9 Views
banner 468x60


Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji.

banner 336x280

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan keluarga Indonesia agar tidak membiarkan teknologi mengikis komunikasi di rumah hingga melahirkan fenomena *fatherless* atau hilangnya peran ayah dalam pengasuhan anak.

Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Yogyakarta, Senin, Wihaji meminta para ayah tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga memberikan perhatian dan keterlibatan emosional kepada anak-anaknya.

“Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam keadaan *fatherless country*, di mana ayah hadir secara fisik saja tanpa psikologis. Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Peluk anak-anakmu dan ajak mereka berdialog, batasi penggunaannya pada hal-hal yang produktif,” kata Wihaji.

Menurut dia, keluarga harus menjadi tempat yang aman bagi setiap anggota untuk saling berbagi cerita di tengah derasnya disrupsi teknologi digital.

“Sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman? Panggung peradaban modern kini bergerak semakin cepat. Oleh karena itu perlu teliti karena kini kita dipenuhi ketidakpastian, kerumitan, serta kebingungan arah. Disrupsi teknologi digital datang di luar keluarga tanpa permisi,” ujarnya.

Wihaji menegaskan, pembangunan keluarga berkualitas harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah kesehatan, terutama dengan memperkuat pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan guna mencegah stunting.

“Kesehatan untuk menuntaskan stunting. Anak yang terhambat otaknya akan sulit berkembang. Oleh karena itu perlu penguatan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan,” katanya.

Pilar kedua adalah pendidikan karakter dengan menjadikan rumah sebagai ruang yang aman bagi anak di tengah derasnya pengaruh teknologi digital. Adapun pilar ketiga adalah ketahanan mental, karena keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat dan bangsa.

“Ketahanan mental, karena keluarga merupakan hulu dari setiap kebijakan nasional sebagai pelabuhan nasional yang stabil,” ujar Wihaji.

Hari Keluarga Nasional diperingati setiap 29 Juni. Peringatan tersebut berawal dari momentum kembalinya para pejuang kemerdekaan kepada keluarga mereka pada 29 Juni 1949 serta menjadi tonggak dimulainya Gerakan Keluarga Berencana Nasional pada 29 Juni 1970. Gagasan Harganas pertama kali diinisiasi Kepala BKKBN periode 1983-1998 Haryono Suyono dan mulai diperingati di Lampung pada 1993.

sumber : Antara


Advertisement

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.