Mendag Respons soal Harga Bahan Pokok Naik usai MBG Jalan Lagi

by -5 Views
banner 468x60


Jakarta, CNN Indonesia

banner 336x280

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kenaikan harga bahan pokok seiring dengan bergulirnya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas tarif di tingkat produsen maupun konsumen.

Menurut Budi, itu dapat dilihat dari pergerakan harga telur ayam yang mulai mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET). Ia menilai kondisi tersebut justru mencerminkan keseimbangan pasar.

“Harga telur kemarin kan berapa? Rp26 ribu, padahal HET-nya Rp30 ribu kan?” kata Budi di Hotel Tentrem, Yogyakarta pada Kamis (23/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Budi mengingatkan bahwa HET merupakan titik keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Ia menjelaskan, apabila harga terlalu rendah, produsen berpotensi mengalami kerugian hingga menghentikan produksi, pada akhirnya dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga.

“Tetapi ketika ketemu atau sekarang harganya mendekati (HET), sekarang kan sudah hampir Rp28 ribu. Jadi sudah bagus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Budi mengatakan program MBG turut meningkatkan penyerapan komoditas pangan, termasuk telur, sehingga membantu menciptakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar.

[Gambas:Youtube]

“Memang sekarang penyerapannya lebih bagus, salah satu faktornya ya MBG juga sudah berjalan kembali. Jadi sebenarnya MBG itu bisa menjadi penyeimbang antara permintaan dan penawaran,” ucap Budi.

Budi mengatakan kehadiran program MBG membuat ekosistem pangan berjalan lebih baik karena penyerapan hasil produksi menjadi lebih optimal. Sebelum program tersebut berjalan, harga komoditas cenderung fluktuatif akibat tidak adanya kepastian permintaan.

Kondisi itu juga membuat produsen menghadapi risiko kelebihan pasokan ketika produksi tinggi. Sementara itu, saat produksi rendah, permintaan justru dapat meningkat dan memicu kenaikan harga.

“Nah, ketika ada MBG ini justru stabil. Jadi permintaan terus ada, produksinya ini kan jadi konsisten dengan permintaan yang ada,” tutur Budi.

Ia meyakinkan bahwa keberlanjutan program MBG memberikan kepastian permintaan bagi produsen, sehingga produksi dapat disesuaikan secara lebih konsisten. Hal tersebut dinilai mampu mengurangi gejolak harga yang sebelumnya dipicu ketidakpastian pasar.

“Sekarang telur surplusnya 12 persen. Artinya untuk kebutuhan MBG, jadi semua berjalan dengan baik. Ya produksinya ikut terus meningkat, semua terlibat secara ekosistem ekonominya semua terlibat ya, baik dari produsen ya maupun dari sektor-sektor lain ya, tidak hanya peternakan tapi juga pertanian dan sebagainya. Jadi bagus sih,” tandas pria yang akrab disapa Busan tersebut.

(kum/inn)


Add

as a preferred
source on Google





banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.