Oleh Ina H. Krisnamurthi*
Jakarta — Langit New Delhi tampak cerah pada 26 Januari 2025 ketika India merayakan Hari Republik ke-76 dengan mengusung tema “Swarnim Bharat: Virasat aur Vikas” (India Emas: Warisan dan Kemajuan). Pada kesempatan bersejarah tersebut, Presiden Prabowo Subianto hadir sebagai Tamu Kehormatan dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke India sekaligus untuk memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan India. Kehadiran Presiden Prabowo mengirimkan pesan yang sangat kuat mengenai kepercayaan politik, keselarasan kepentingan strategis, serta komitmen jangka panjang kedua negara. Banyak orang mengenang bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, juga pernah menjadi Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India yang pertama pada 26 Januari 1950. Momen-momen tersebut menjadi simbol eratnya hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Selama hampir empat setengah tahun bertugas di India, saya menyaksikan secara langsung bagaimana hubungan Indonesia dan India berkembang dari sebuah persahabatan yang dibangun atas dasar niat baik dan sejarah bersama menjadi kemitraan yang semakin luas, konkret, dan berorientasi pada hasil. Saat ini kedua negara bekerja sama di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, investasi, pertahanan, kesehatan, pendidikan, teknologi, hingga kerja sama maritim. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia pada awal Juli 2026 menjadi momentum penting yang melanjutkan keberhasilan kunjungan Presiden Prabowo ke New Delhi pada Januari 2025, ketika kedua pemimpin menyepakati berbagai inisiatif strategis untuk memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah dibangun sejak 2018.
Namun, makna kunjungan tersebut bukan terletak pada seremoni semata. Ukuran keberhasilan diplomasi sesungguhnya adalah kemampuan menerjemahkan berbagai komitmen yang telah disepakati di tingkat tertinggi menjadi manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat kedua negara. Indonesia dan India memang memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang. Selama berabad-abad, kedua bangsa saling terhubung melalui perdagangan, pertukaran gagasan, agama, budaya, dan jalur maritim. Akan tetapi, sejarah saja tidak cukup. Dunia terus berubah dengan sangat cepat. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, serta pesatnya perkembangan teknologi kini menjadi tantangan bersama yang tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri. Dalam konteks tersebut, mempererat kerja sama Indonesia dan India bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.
Hubungan ekonomi menjadi salah satu bidang yang masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$23 miliar. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan yang positif, namun masih relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi kedua negara. Indonesia dan India memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi. Indonesia memasok berbagai komoditas strategis seperti batu bara, minyak sawit, nikel, dan mineral lainnya yang mendukung pertumbuhan industri India. Sebaliknya, India memiliki keunggulan di bidang farmasi, teknologi informasi, rekayasa teknik, manufaktur, dan layanan digital. Seiring terus berkembangnya kedua perekonomian, peluang kerja sama di sektor energi terbarukan, layanan kesehatan, pengolahan pangan, industri digital, hingga mineral kritis akan semakin terbuka lebar.
Dalam konteks tersebut, pembahasan mengenai Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) menjadi sangat penting. Apabila berhasil diselesaikan, perjanjian tersebut akan membantu mengurangi berbagai hambatan perdagangan, meningkatkan arus investasi, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Selain itu, Indonesia dan India juga perlu mempercepat implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Transactions/LCT) serta membangun integrasi sistem pembayaran digital yang lebih mulus. Langkah tersebut akan meningkatkan efisiensi perdagangan bilateral, menekan biaya transaksi, sekaligus memperkuat ketahanan sistem keuangan kedua negara.
Konektivitas juga merupakan elemen penting dalam hubungan Indonesia–India, khususnya melalui pengembangan Pelabuhan Sabang di Aceh. Terletak di dekat salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, Sabang memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat perdagangan dan layanan maritim. Apabila dikelola secara optimal, Sabang tidak hanya akan memperlancar jalur pelayaran internasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menarik investasi baru, membuka lapangan kerja, serta memperkuat keterhubungan antara wilayah barat Indonesia dengan Kepulauan Andaman dan Nicobar di India. Dengan demikian, Sabang tidak hanya menjadi titik geografis di peta, melainkan simbol nyata kerja sama Indonesia–India yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara.
Kerja sama maritim tetap menjadi salah satu pilar utama hubungan Indonesia dan India. Sebagai dua negara maritim besar, keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik tetap damai, terbuka, dan stabil. Kolaborasi di bidang keamanan maritim, penanggulangan bencana, perikanan berkelanjutan, serta pengembangan ekonomi berbasis kelautan tidak hanya akan memperkuat stabilitas kawasan, tetapi juga mendukung tujuan pembangunan nasional masing-masing negara. Kemitraan maritim yang semakin erat akan memberikan manfaat nyata bagi keamanan jalur perdagangan sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir di kedua negara.
Teknologi dan inovasi juga menjadi frontier baru dalam hubungan Indonesia–India. India telah berkembang menjadi salah satu kekuatan dunia di bidang sistem digital, teknologi finansial (fintech), dan teknologi antariksa. Di sisi lain, Indonesia sedang menjalani transformasi digital yang sangat pesat. Kolaborasi di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), layanan publik digital, perusahaan rintisan (startup), penelitian bersama, serta pengembangan keterampilan digital akan membantu kedua negara bergerak lebih cepat dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital. Kerja sama tersebut bukan hanya mempercepat inovasi, tetapi juga memperkuat daya saing kawasan di tengah perubahan teknologi global yang semakin cepat.
Sektor kesehatan juga semakin penting dalam hubungan bilateral. Pandemi COVID-19 membuktikan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan kesehatan global sendirian. Indonesia dan India telah memperkuat kerja sama di bidang farmasi dan vaksin, namun peluangnya masih jauh lebih besar. Ke depan, kemitraan dapat diperluas ke bidang penelitian medis, bioteknologi, sistem kesehatan digital, hingga pengembangan inovasi kesehatan yang mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan terjangkau.
Pada tingkat regional, Indonesia dan India juga memiliki kesamaan cara pandang terhadap masa depan Indo-Pasifik. Indonesia mengusung ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), sementara India mengembangkan Indo-Pacific Oceans Initiative (IPOI). Kedua pendekatan tersebut bukanlah visi yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya keterbukaan, kerja sama, penghormatan terhadap hukum internasional, serta sentralitas ASEAN. Kesamaan perspektif ini memberikan landasan yang kokoh bagi Indonesia dan India untuk bersama-sama menciptakan kawasan Indo-Pasifik yang aman, stabil, dan sejahtera.
Di luar hubungan antarpemerintah, hubungan antar masyarakat (people-to-people relations) juga memiliki arti yang tidak kalah penting. Semakin banyak warga Indonesia yang belajar maupun berkunjung ke India, sementara jumlah wisatawan dan pelaku bisnis India yang datang ke Indonesia juga terus meningkat. Namun, jika dibandingkan dengan besarnya populasi kedua negara, interaksi tersebut masih relatif terbatas. Karena itu, pertukaran mahasiswa, peneliti, pelaku usaha, komunitas budaya, dan generasi muda perlu terus diperluas agar tercipta pemahaman yang lebih mendalam, rasa saling percaya yang lebih kuat, serta hubungan jangka panjang yang berakar pada masyarakat kedua negara.
Melihat ke depan, arah hubungan Indonesia–India sangat menjanjikan. Kedua negara merupakan demokrasi besar dengan ekonomi yang terus bertumbuh, populasi muda yang produktif, serta komitmen terhadap politik luar negeri yang independen dan mengutamakan dialog dibandingkan konfrontasi. Kesamaan nilai tersebut menjadi fondasi yang kokoh bagi kemitraan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi seharusnya dipandang sebagai bagian dari perjalanan panjang kedua negara, bukan sekadar agenda diplomatik sesaat. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kemajuan, memperkuat kerja sama, serta memastikan bahwa berbagai kesepakatan yang telah dicapai benar-benar menghasilkan manfaat nyata. Nilai sebuah kunjungan kenegaraan pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani, melainkan dari seberapa besar perubahan yang berhasil diwujudkan melalui implementasinya.
Filsuf India Swami Vivekananda pernah mengatakan, “Keberagaman dalam cara berpikir. Kesatuan dalam tujuan. Kekuatan dalam kolaborasi. Peran yang berbeda, tetapi tujuan yang sama.” Kutipan tersebut sangat tepat menggambarkan hubungan Indonesia dan India saat ini. Kedua negara telah membangun fondasi yang kuat selama puluhan tahun. Langkah berikutnya adalah memperdalam fondasi tersebut secara bertahap, konsisten, dan dengan tujuan yang jelas. Apabila komitmen itu terus dijaga, tidak ada alasan mengapa kemitraan Indonesia–India tidak dapat berkembang menjadi salah satu hubungan paling strategis di kawasan Indo-Pasifik. Peluangnya sudah sangat jelas. Kini saatnya mengubah peluang tersebut menjadi kenyataan.
*Ina H. Krisnamurthi adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk India dan Bhutan periode 2022–2026. Sebagai diplomat karier, ia telah menduduki berbagai posisi strategis di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan berperan penting dalam memperkuat hubungan strategis serta kerja sama komprehensif antara Indonesia dan India.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES







