Ledakan Urban di Cangkir Kopi

by -4 Views
banner 468x60


Image

Adisha Khansa Aulia



banner 336x280

Culture | 2026-06-26 12:17:43

Maracaturra, Mokka, Yemen Mocha, Aramosa, Icatu, Luwak, Black Ivory, St. Helena, Jamaican Blue Mountain, Hawaiian Kona, Harrar, Sidamo, Yirgachefe, Panama Geisha, Typica, Bourbon, Caturra, Catuai, Pacamara, Canephora, Liberica, Excelsa, Matagogipe, Ruiru 11, Batian, Catimor, Castillo, Pacas, Laurina.

Bayangkan sesesap kopi dari biji St. Helena, yang disemai di pulau terpencil Samudra Atlantik Selatan, tempat Napoleon Bonaparte menghabiskan masa pelik pengasingannya. Produksinya tak lebih dari 800 kilogram per tahun, sebuah langgam kelangkaan yang absolut. Atau Esmeralda Geisha dari Panama, yang harga lelangnya menembus angka irasional hingga lebih dari seribu dolar per pon. Kopi lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah manifestasi peradaban dalam cangkir. Dan hari ini, digital natives tengah merekonstruksi keajaiban itu, bukan di hiruk-pikuk bar, melainkan di sudut kursi kayu dengan alunan lo-fi yang melantun lirih.

Selama lima tahun terakhir, lanskap urban Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, mengalami akresi coffee shop yang sulit dihentikan. Mulai dari gang-gang kecil Kota Semarang, jalan-jalan Yogyakarta, hingga koridor-koridor tersembunyi Jakarta Selatan, papan nama bertuliskan specialty coffee dan single origin tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Fenomena ini bukan ilusi optis. Data mencatat bahwa jumlah outlet coffee shop di Indonesia melonjak dari 1.083 outlet pada tahun 2016 menjadi lebih dari 20.000 outlet pada tahun 2023, sebuah pertumbuhan yang melampaui hampir semua sektor ritel lainnya dalam periode yang sama.

Bersumber pada data Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), tingkat konsumsi kopi domestik tumbuh rata-rata 8 persen per tahun, dengan total konsumsi mencapai lebih dari 300.000 ton pada tahun 2023. Laporan United States Department of Agriculture (USDA) turut memperkuat tren ini, memprediksi konsumsi kopi Indonesia akan meningkat dari 4,45 juta kantong pada 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada 2025. Pasar coffee shop secara keseluruhan diperkirakan bernilai lebih dari Rp 80 triliun, menjadikannya salah satu sektor F&B yang paling dinamis di Asia Tenggara.

Yang menarik bukan hanya angka pertumbuhannya, tetapi juga siapa yang menggerakkan pertumbuhan tersebut. Demografi usia 18 hingga 30 tahun menjadi pelopor konsumsi kopi modern, bukan generasi yang tumbuh dengan kopi sachet tubruk, melainkan generasi yang lahir bersamaan dengan kemunculan Instagram, TikTok, dan obsesi kolektif terhadap estetika sehari-hari.

Gen Z, individu yang dilahirkan antara tahun 1997 hingga 2012, memasuki fase dewasa dengan kesadaran preventif yang jauh melampaui generasi sebelumnya. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Studies on Alcohol and Drugs (2018) menunjukkan degradasi signifikan pada konsumsi alkohol di kalangan muda usia 18 hingga 22 tahun di negara-negara maju sepanjang dekade terakhir. Mereka bukan anti-sosial. Mereka hanya melakukan reorientasi terhadap cara bersosialisasi di tengah global village yang semakin terkoneksi namun menuntut kesehatan mental.

Kopi bagi Gen Z telah mengalami metamorfosis peran. Ia tidak hanya sekadar kafein untuk mengusir kantuk, melainkan sebuah distingsi identitas. Memilih pour over dengan biji Luwak adalah sebuah statement of taste. Mengunggah latte art di media sosial bukan hanya soal narsisme banal, tetapi sebuah dialog tentang eksistensi, tentang “di mana aku berasa saat ini.” Coffee shop menyediakan suaka yang tidak bisa diberikan oleh bar: sebuah third place untuk berkreasi, berdiskusi, dan merayakan momen dalam kondisi sadar sepenuhnya.

Pine dan Gilmore (1999) dalam The Experience Economy telah memperkirakan bahwa konsumen masa depan tidak lagi memburu produk, melainkan penyelaman pengalaman yang mendalam. Konsumen rela membayar harga premium demi ambience yang sesuai, konektivitas internet yang laju, dan perasaan menjadi bagian dari kosmopolitanisme urban yang sedang bergerak.

Namun ada sebuah dimensi yang jarang dibincangkan secara terbuka ketika membicarakan fenomena ini. Peralihan dari alkohol ke kopi, yang kini semakin tampak di generasi muda urban Indonesia, mungkin tidak semata-mata lahir dari romantisme terhadap single origin atau kebutuhan akan ruang estetis untuk berswafoto. Ada kerisauan yang lebih mendasar yang sedang merayap diam-diam di bawah permukaan generasi ini: kerisauan mengenai tubuh mereka sendiri.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes melitus di Indonesia mencapai ll,7 persen, meningkat dari 5,7 persen pada tahun 2007 dan l0,9 persen pada tahun 20l8. Lebih mengkhawatirkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan lonjakan prevalensi diabetes tipe l pada anak di bawah l8 tahun sebesar 70 kali lipat dari tahun 20l0 ke 2023. Diabetes sekarang bukan lagi penyakit orang tua. Ia kini menyergap usia 24 hingga 27 tahun, masa dimana generasi muda sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedang membangun karir dan meraih cita-cita.

Lalu apa hubungannya dengan alkohol? Lebih dari yang selama ini diasumsikan. Minuman beralkohol, khususnya wine atau cocktail yang sering dikonsumsi dalam suasana sosial malam, mengandung kadar gula yang cukup signifikan. Laporan dari Alcohol Health Alliance UK mencatat bahwa dua gelas wine dapat memenuhi batas maksimum asupan gula harian yang direkomendasikan, bahkan melebihi kadar gula pada sepotong donat. Proses fermentasi alkohol sendiri menghasilkan residu gula non-fermentasi yang langsung diserap dalam aliran darah, secara signifikan meningkatkan kadar insulin secara dramatis dan berkontribusi pada resistensi insulin jangka panjang.

Memilih secangkir kopi hitam tanpa gula atau cold brew yang kini populer di coffee shop, secara fisiologis menjadi pilihan yang jauh lebih bersahabat bagi kadar gula darah dibandingkan sebotol minuman beralkohol. Gen Z mungkin tidak selalu mengartikulasikan dalih ini secara eksplisit ketika memutuskan duduk di coffee shop. Akan tetapi tubuh mereka, yang tumbuh di tengah banjirnya informasi kesehatan dan maraknya diskusi wellness di media sosial, mungkin telah lebih dulu menyadari apa yang baik untuknya.

Tentu, ada aspek kritis yang perlu dibedah. Tidak setiap coffee shop lahir dari khidmat terhadap biji hitam ini. Banyak yang sekadar hasil fomo atau fear of missing out, sebuah efemeralitas bisnis yang dipicu oleh algoritma TikTok dan hasrat investor yang lebih mengejar margin daripada makna. Umur bisnis mereka terkadang seringkali pendek, berguguran sebelum sempat menciptakan komunitas sejati. Kendati demikian, yang tetap ajek bertahan adalah mereka yang mampu menyentuh aspek komunal dan memberikan makna mendalam.

Perlu dicatat bahwa tidak semua minuman yang disajikan di coffee shop secara otomatis menjadi pilihan yang sehat. Kopi susu gula aren dengan kadar gula tinggi, atau milkshake berlapis karamel yang kerap menjadi menu pilihan coffee shop culture justru dapat membawa risiko gula yang setara dengan minuman beralkohol itu sendiri. Pilihan yang sehat bukan sekadar soal “tidak minum alkohol.” Ini merupakan soal kesadaran menyeluruh mengenai apa yang kita konsumsi setiap harinya.

Perputaran dari alkohol ke kopi adalah sebuah tanda kultural yang kompleks. Generasi ini sedang merevisi ulang definisi terhadap apa itu “selebrasi.” Mereka memilih prasaja, kejujuran dalam kesederhanaan. Mereka memilih wicara, percakapan yang nyata sepenuhnya. Mereka memilih untuk tetap utuh, bukan melarikan diri ke dalam intoksikasi yang, selain merusak pikir, juga secara perlahan menggerogoti kesehatan metabolisme tubuh mereka.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.