
Pelajar berseragam Pramuka membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (12/8/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter dibentangkan di sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta, dalam kegiatan Suara Inklusi untuk Semua 2026 yang digelar DIWA Foundation, Selasa (12/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan diikuti berbagai unsur masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dari Gedung DPRD DIY dan dilanjutkan dengan parade kebangsaan menuju kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta. Dalam parade tersebut, peserta dari berbagai komunitas, organisasi masyarakat, kepemudaan, serta unsur TNI/Polri turut berjalan bersama. Pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter dilakukan di sepanjang Jalan Malioboro oleh peserta yang telah ditugaskan yakni anak-anak sekolah yang mengenakan seragam Pramuka.
Komunitas sepeda Yogyakarta yang tergabung dalam Yosega turut mengikuti parade tersebut. Muarifin mengatakan keikutsertaan mereka menjadi bentuk partisipasi untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan sekaligus mengambil hikmah dari momentum tersebut.
“Ke depan mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari hari kemerdekaan ini, khususnya untuk generasi muda bisa meneladani. Biar pun saat ini belum sepenuhnya Indonesia dalam keadaan baik-baik saja, tapi harapannya sebagai orang tua kepada generasi muda, ke depan Indonesia akan lebih baik,” ujar Muarifin, Selasa.
Selain parade dan pembentangan bendera, kegiatan juga diisi dengan pengucapan dan pembacaan teks Proklamasi Pancasila menggunakan bahasa isyarat bersama anak-anak penyandang disabilitas.
Usai pembacaan teks Proklamasi, anak-anak penyandang disabilitas turut menampilkan Tari Rayu Jalo Metle dengan perahu layar. Penampilan tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang menampilkan partisipasi dan kreativitas penyandang disabilitas dalam peringatan kemerdekaan.
Komunitas Jadul Yogyakarta (Koja) juga ikut memeriahkan parade dengan mengenakan pakaian bergaya pejuang.
“Kegiatan ini kita pakai pakaian pejuang yang menandakan bahwa Kota Yogyakarta adalah kota pejuang,” ujar Rusdantoro.














