Darurat Sampah di Yogyakarta, Kiamat Limbah di Depan Mata

by -9 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Masalah sampah kembali menjadi momok di Kota Yogyakarta. Setelah berkali-kali mengalami krisis pengelolaan sampah dalam beberapa tahun terakhir, kini kota pelajar itu kembali masuk dalam status darurat sampah. Penumpukan sampah di berbagai depo tak terelakkan, menyusul dibatasinya pengiriman ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.

banner 336x280

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, meminta agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau dinas di Kota Yogyakarta terlibat langsung dalam penanganan masalah sampah. “Semua dinas jadi dinas sampah dulu, karena ini kondisi darurat,” kata Hasto.



Hasto tak menepis darurat ini terjadi akibat terbatasnya kapasitas TPST Piyungan, yang hanya menerima 600 ton sampah per bulan, sementara produksi sampah di Kota Yogyakarta mencapai 300 ton per hari. Sebelumnya Kota Yogyakarta masih dapat mengirim sampah ke TPST Piyungan hingga Juli 2025, namun sejak Agustus, jatah pengiriman dipangkas drastis.

Alhasil, penumpukan sampah tidak terhindarkan di berbagai depo, termasuk yang terlihat menggunung di depo sampah Jalan Brigjen Katamso dan depo sampah yang berada di depan Stadion Mandala Krida. “Mulai Agustus sampai akhir tahun (2025) kita hanya dijatah 2.400 ton selama empat bulan, sebulan hanya 600 ton. Ini yang menjadi over di depo,” ucapnya.

“Ini kondisi cukup darurat, karena memang begitu Piyungan hanya bisa menerima 600 ton sebulan sedangkan kita produksi 300 ton sehari,” kata dia menambahkan.

Meski begitu, Hasto menyebut akan terus menggulirkan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan sampah di wilayahnya. Selain meminta seluruh dinas ikut menangani sampah, salah satu solusi konkret yang diambil adalah dengan membagikan ember kepada warga untuk memisahkan sampah organik dari sampah lainnya.

Hasto mengatakan rata-rata sampah yang dihasilkan juga berasal dari sisa makanan dapur. Ia mengatakan  sisa makanan tersebut masih memiliki potensi pemanfaatan, misalnya untuk pakan ternak atau budidaya maggot. Karena itu, pemilahan sejak dari rumah tangga juga menjadi kunci dalam memerangi permasalahan sampah itu.

“Saat ini, sisa makanan dapur sehari dari Kota Jogja hampir 100-125 ton. Mulai dari rumah makan, angkringan, dan sebagainya. Kami ingin menyelamatkan itu untuk dipilah dengan cara membagikan ember, tidak jadi satu dengan sampah lain. Kami akan membagikan ember ke warga, kemudian kita ambili sampah dan tidak dibawa ke depo. Karena sisa makanan itu ada yang bisa dimanfaatkan untuk ternak, budidaya maggot, dan sebagainya,” ujarnya.

Tak hanya berhenti pada pemilahan sampah, Hasto juga menginstruksikan agar Satpol PP, Linmas, dan tenaga dari berbagai OPD turut serta dalam proses penjemputan sampah langsung dari rumah-rumah warga. “Kami akan mengarahkan Satpol PP, Linmas, dan tenaga yang ada untuk bergerak jemput sampah ke rumah, khusus sampah organik basah,” ungkap Hasto.

Pihaknya juga mengerahkan 1.200 penggerobak, masing-masing akan dibekali dua ember berkapasitas 25 kilogram guna menampung dan memilah sampah sebelum dibawa. “Satu gerobak kami kasih dua ember. Kalau dulu kan penggerobak belum ada embernya, sekarang ada embernya supaya sampah organik basah masuk ember. Tidak masuk ke depo,” katanya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.