Beringsut Kebudayaan

by -2 Views
banner 468x60


Image

Ahmad Dahri



banner 336x280

Kolom | 2026-08-03 10:37:19

Seni Tari Topeng (Sumber: Foto by Yusril)

Sekitar dua tahun lalu, Mas Irfan Afifi, budayawan dan filsuf jawa saat ini pernah menyinggung tentang daulat kebudayaan. Beberapa kali perjumpaan sempat membicarakan dan membocorkan perspektif di balik idiom “Daulat kebudayaan” itu. Dan tentu membuat mata saya seperti diculek dengan akar realita yang melatar belakangi idiom itu. Budaya, yang lari dari akar makna dan maksudnya.

Sebagai masyarakat yang lahir dari akar budaya yang sama; kesadaran, saya turut bangga dan mengapresiasi ketika di berbagai ruang hari ini penuh sesak dengan gagasan dan ide tentang, atau memandang kebudayaan.

Ada yang reflektif, aplikatif dan kreatif pada akhirnya. Di mana-mana orang berbicara tentang kebudayaan. Pemerintah pun kerap menyelenggarakan festival. Komunitas menghidupkan kembali kesenian tradisional. Sekolah mengenalkan pakaian adat. Museum mulai ramai. Tempat-tempat bersejarah kembali dikunjungi. Bahkan media sosial dipenuhi berbagai unggahan yang menunjukkan kecintaan terhadap budaya.

Semuanya tampak menggembirakan. Pertanyaannya adalah mengapa, ketika kebudayaan semakin sering ditampilkan, kita justru merasa semakin jauh darinya? Mengapa kebudayaan begitu mudah menjadi tontonan, menjadi agenda tahunan, menjadi objek wisata, bahkan menjadi kebanggaan sesaat, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam cara kita berpikir dan menjalani kehidupan? Barangkali pertanyaan itu muncul karena selama ini kita tanpa sadar telah menyamakan kebudayaan dengan tradisi.

Padahal keduanya tidak sama. Tradisi adalah bentuk, sedangkan kebudayaan adalah jiwa yang melahirkan bentuk itu; Sangkan Paraning Dumadhi, Memayu Hayuning Laku, Hayuning Tiyu, Hayuning Bawana Ambrasta Dur Angkara, dan lain sebagainya.

Tradisi dapat berupa tarian, pakaian, rumah adat, bahasa, musik, upacara, atau berbagai peninggalan leluhur. Sementara kebudayaan hidup jauh lebih dalam. Ia hidup dalam cara manusia memahami kehidupan. Ia menentukan bagaimana seseorang memandang orang lain, bagaimana masyarakat menyelesaikan persoalan, bagaimana manusia memperlakukan alam, bagaimana ilmu dihargai, bagaimana kekuasaan dibatasi oleh etika, dan bagaimana masa depan dipersiapkan.

Karena itulah kebudayaan sesungguhnya tidak pernah dimulai dari benda. Ia dimulai dari budi. Kata “budaya” sendiri berasal dari kata buddhi, yang berarti akal atau kemampuan batin manusia. Dari sanalah lahir istilah kebudayaan, yaitu hasil olah budi manusia dalam memahami dan mengatur kehidupannya. Maka akar kebudayaan bukanlah candi, keris, batik, atau wayang.

Akar kebudayaan adalah cara manusia berpikir. Cara berpikir melahirkan nilai. Nilai melahirkan sikap. Sikap melahirkan kebiasaan. Kebiasaan yang diwariskan melahirkan tradisi. Tradisi kemudian melahirkan berbagai simbol yang dapat kita lihat hingga hari ini.

Jika urutan ini dibalik, kita akan mengalami apa yang sedang kita alami sekarang. Simbol masih bertahan. Tetapi nilai mulai memudar. Tradisi tetap diselenggarakan. Tetapi cara hidup yang melahirkannya semakin sulit ditemukan. Inilah sebabnya mengapa seseorang dapat mengenakan pakaian adat dengan penuh kebanggaan, tetapi tetap berlaku tidak jujur.

Mengapa masyarakat dapat menyelenggarakan festival budaya yang megah, tetapi kehilangan ruang dialog ketika berbeda pendapat. Mengapa kita mampu merawat bangunan bersejarah, tetapi kurang berhasil mewariskan kebijaksanaan yang dahulu tumbuh di dalamnya. Yang hilang bukanlah tradisinya. Yang perlahan memudar adalah hubungan antara tradisi dengan nilai kehidupan. Padahal para leluhur tidak pernah menciptakan tradisi tanpa alasan.

Musyawarah lahir karena mereka percaya bahwa kebenaran lebih mudah ditemukan melalui kebijaksanaan bersama daripada kesombongan seorang diri. Gotong royong lahir karena mereka memahami bahwa manusia tidak mungkin hidup sendirian.

Aturan adat tentang hutan, sungai, dan laut lahir jauh sebelum istilah “pelestarian lingkungan” dikenal, karena mereka sadar bahwa alam bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan titipan yang harus diteruskan. Wayang tidak diciptakan hanya agar orang terhibur. Ia menjadi ruang untuk menguji watak manusia, mengkritik kekuasaan, dan mengajarkan bahwa kemenangan tanpa kebijaksanaan pada akhirnya akan melahirkan kehancuran.

Semua itu lahir dari satu sumber yang sama, yaitu cara berpikir. Karena itulah kebudayaan selalu membentuk manusia sebelum membentuk karya. Kerisauannya adalah lalu mengapa hari ini hubungan itu menjadi renggang? Mungkin karena zaman kita perlahan mengubah ukuran tentang apa yang dianggap bernilai. Kita hidup di masa ketika perhatian menjadi komoditas. Yang ramai dianggap berhasil. Yang viral dianggap penting. Yang mendatangkan keuntungan dianggap layak dipertahankan.

Logika itu tanpa sadar merembes ke dalam kebudayaan. Kita lebih mudah menghitung jumlah pengunjung daripada mengukur perubahan perilaku. Lebih mudah membangun panggung daripada membangun kesadaran. Lebih mudah mengabadikan tradisi melalui kamera daripada menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada yang salah dengan festival. Tidak ada yang salah dengan pariwisata. Tidak ada yang salah dengan dokumentasi. Semuanya penting. Tetapi kebudayaan akan kehilangan maknanya ketika semua itu menjadi tujuan, bukan jalan. Karena kebudayaan tidak pernah meminta untuk dikagumi. Kebudayaan hanya ingin dihidupi.

Di sinilah sesungguhnya tantangan kita sebagai bangsa. Kita tidak sedang kekurangan peninggalan budaya. Kita tidak kekurangan seniman. Kita tidak kekurangan komunitas. Kita bahkan tidak kekurangan kebanggaan terhadap identitas. Yang mulai langka adalah kebiasaan untuk bertanya.

Mengapa leluhur memilih jalan hidup seperti itu ? Nilai apa yang sedang mereka jaga? Apakah nilai itu masih relevan? Jika masih, bagaimana menghidupkannya kembali di tengah dunia yang telah berubah?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sesungguhnya menjaga kebudayaan tetap hidup. Karena kebudayaan bukan benda mati. Ia selalu berdialog dengan zamannya. Ia tidak menolak perubahan. Tetapi ia juga tidak kehilangan arah.

Pohon yang hidup akan terus menumbuhkan daun-daun baru setiap musim. Namun tidak satu pun daun itu dapat tumbuh jika akarnya mati. Demikian pula kebudayaan. Kita boleh menciptakan bentuk-bentuk baru. Kita boleh memanfaatkan teknologi. Kita boleh membuka diri terhadap dunia. Tetapi semuanya memerlukan akar yang tetap menancap pada nilai-nilai yang memuliakan manusia.

Mungkin karena itulah tugas terbesar pelaku budaya pada abad ini bukan hanya melestarikan tradisi. Tugas yang lebih mendasar adalah menghidupkan kembali cara berpikir yang melahirkan tradisi itu. Sebab ketika cara berpikirnya hidup, tradisi akan menemukan bentuknya sendiri.

Sebaliknya, ketika cara berpikir itu hilang, tradisi hanya akan menjadi pakaian yang dikenakan sesaat, panggung yang dibangun setahun sekali, atau kenangan yang perlahan kehilangan makna. Agaknya, kebudayaan bukanlah sesuatu yang kita simpan di museum. Daulat kebudayaan itu harus tetap berjalan, nilainya tetap namun ada ruang untuk menyesuaikan dengan zamannya, entah itu produk kebudayaan dengan sajian yang baru, atau atribusi yang disajikan sama dengan kondisi saat ini, Namun sekali lagi akar budaya yang berupa cara berpikir, sikap sosial, laku hidup, seyogyanya tidak bergeser, kalau bisa lebih purna dan arif.

Artinya, budaya bukan semata sesuatu yang hanya kita rayakan pada hari-hari tertentu. Kebudayaan adalah cara kita menjadi manusia. Dan selama kebudayaan masih mampu membentuk manusia yang jujur, adil, bijaksana, menghormati sesama, mencintai ilmu, serta menjaga alam, selama itu pula kebudayaan akan tetap hidup, meskipun bentuknya terus berubah mengikuti zaman. Barangkali di situlah pekerjaan kita yang sesungguhnya. Bukan sekadar menjaga agar budaya tetap ada. Melainkan menjaga agar manusia tetap memiliki budi. Wallahua’lam.[]

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.