Bedah Buku di UMY Bahas Kapitalisme Religius dan Ikhtiar Bangun Peradaban Islam Masa Depan

by -2 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar bedah buku Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan karya Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (UII), Dr Suwarsono Muhammad, Rabu (3/6/2026). Diskusi ini menjadi ruang refleksi akademik untuk membaca bagaimana arah perkembangan peradaban Islam di tengah perubahan tatanan global yang ditandai melemahnya dominasi Barat dan bangkitnya kekuatan ekonomi baru seperti Cina.

banner 336x280

Dalam pemaparannya, Suwarsono menilai peradaban Islam pernah memainkan peran penting dalam sejarah dunia dan memiliki peluang untuk kembali bangkit pada masa depan. Menurutnya, Islam pernah menjadi penghubung yang menghidupkan kembali peradaban dunia setelah runtuhnya kejayaan Barat pada masa lampau.

“Salah satu peran luar biasa yang diambil oleh peradaban Islam itu adalah meremajakan dunia,” kata Suwarsono, Rabu (3/6/2026).

“Ketika Barat kolaps, proses bangkitnya itu tidak langsung Barat bangkit, ada perantaranya yaitu Islam. Dan Islam itulah yang meremajakan dunia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kajian mengenai peradaban Islam selama ini lebih banyak dibahas dari aspek politik, kebudayaan, maupun agama. Padahal, menurutnya, sisi ekonomi juga memiliki peran penting dalam menjelaskan mengapa peradaban Islam pernah mencapai masa kejayaan.

“Saya melihat ya, jarang sekali sejarah peradaban Islam itu dikupas dari sisi ekonomi. Yang banyak itu dari sisi politik, dari sisi kebudayaan, dari sisi agama, tapi dari sisi ekonomi kok jarang. Apa tidak ada ekonomi ketika itu? Itu pertanyaan kedua yang saya ajukan,” ucapnya.

Suwarsono mengaku mulai tertarik mengkaji ekonomi dalam sejarah Islam setelah berdiskusi dengan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif. Dari berbagai kajian yang dilakukannya, Suwarsono menyimpulkan bahwa masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin merupakan peradaban yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi.

Berangkat dari pembacaan sejarah tersebut, Suwarsono menawarkan konsep kapitalisme religius sebagai salah satu strategi pembangunan peradaban Islam masa depan.

Ia menjelaskan bahwa tradisi perdagangan telah berkembang di kawasan Arab sebelum Islam hadir. Namun setelah Islam berkembang, aktivitas ekonomi mendapatkan intervensi nilai-nilai agama dan peran negara.

“Arab sebelum Islam itu merchant capitalism. Setelah Islam berubah menjadi state capitalism. Kapitalisme negara yang sumber dan inspirasinya datang dari agama,”kata Suwarsono.

Dalam buku setebal 375 halaman tersebut, Suwarsono juga menguraikan empat strategi yang dinilai penting untuk membangun kembali peradaban Islam, yakni komunalisme, produktivisme, universalisme, dan kemandirian ilmu pengetahuan. Menurutnya, kebangkitan peradaban tidak cukup hanya ditopang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan visi peradaban yang kuat dan sistem pengetahuan yang mandiri.

Buku ini juga menguraikan definisi peradaban melalui dua elemen utama, yaitu world vision atau pandangan dunia dan historical system atau sistem historis. Berdasarkan kerangka tersebut, Suwarsono menawarkan empat strategi utama kebangkitan peradaban Islam antara lain komunalisme, produktivisme, universalisme serta kemandirian ilmu pengetahuan.

Menurutnya, kebangkitan peradaban tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi semata. Faktor penentu lainnya adalah kemampuan masyarakat dalam membangun visi peradaban yang kuat serta sistem pengetahuan yang mandiri.

Karenanya, ia berharap gagasan tersebut tidak berhenti sebagai buku atau bahan diskusi semata. Suwarsono bahkan mengusulkan agar kapitalisme religius terus dikembangkan menjadi mazhab pemikiran yang terus dikaji dan dikembangkan oleh kalangan akademisi.

“Kalau ingin menjadikan kapitalisme religius itu sebagai mazhab dominan, maka minimal dibangun jurnal dulu. Jadi membangun mazhab, membangun teori, itu ada caranya. Tidak sekadar menulis lalu selesai,” ungkapnya.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Politik UMY, Prof Zuly Qodir yang menjadi penelaah buku, menilai kebangkitan peradaban Islam membutuhkan tiga pilar utama yang harus hadir secara bersamaan, yakni perkembangan ilmu pengetahuan, jaringan perdagangan global, dan pemerintahan yang bersih. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menurunnya independensi ulama dan cendekiawan.

“Tidak adanya ulama dan cendekiawan yang benar-benar independen menjadi salah satu problem internal yang serius. Padahal, kemajuan peradaban selalu ditopang oleh tradisi ilmu pengetahuan yang bebas, kritis, dan produktif,” ujarnya.

Zuly menekankan bahwa berbagai gagasan yang ditawarkan dalam buku tersebut perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang bersifat empiris. Menurutnya, diskusi mengenai masa depan peradaban Islam tidak boleh berhenti pada tataran konsep, tetapi harus dilanjutkan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik nyata di masyarakat.

“Gagasan kapitalisme religius tetap membutuhkan kajian lanjutan yang lebih empiris. Konsep ini perlu diuji dan dibuktikan di lapangan oleh para ilmuwan sosial, humaniora, maupun sains dan teknologi,” ujarnya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.