Als Ik Eens Nederlander Was, Kritik Tajam untuk Mental Penjajah

by -2 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang populer disebut Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal kini, tepat 136 tahun lalu. Bangsawan kelahiran Pakualaman–kini Daerah Istimewa Yogyakarta–itu dikenang sebagai pahlawan bangsa dan sekaligus Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

banner 336x280

Sebagaui seorang ningrat, dirinya memiliki perhatian besar pada nasib rakyat. Walaupun menempuh pendidikan dasar hingga menengah di sekolah-sekolah bentukan pemerintah kolonial, RM Soewardi Soerjaningrat tidak menaruh simpati pada penjajahan yang dilakukan Belanda atas bangsanya.

Sempat melanjutkan studi di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), ia tidak sampai lulus karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Selanjutnya, Soewardi Soerjaningrat muda beralih profesi menjadi penulis dan wartawan.

Pemuda ini dengan relatif cepat terkenal di tengah masyarakat. Sebab, tulisan-tulisannya cukup memikat dan komunikatif, serta sarat akan gagasan antikolonial. Sebagai jurnalis, Soewardi pernah bekerja pada surat-surat kabar antara lain Sediotomo, Midden Java, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, dan De Expres.

Seperti umumnya kaum Pribumi terpelajar di Indonesia pada awal abad ke-20, Soewardi menginsafi kuatnya pengaruh media massa cetak untuk menyebarkan gagasan kebangsaan. Dengan piawai, ia menjadikan tulisan-tulisannya sebagai medium pembangkit kesadaran rakyat.

Sebuah momentum datang pada 1913. Ketika itu, pemerintah kolonial bersiap menyambut peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis.

Menjelang hari perayaan itu, 15 November 1913, pemerintah Hindia Belanda berencana akan mengumpulkan “sumbangan” dari rakyat, termasuk orang-orang Pribumi Indonesia. Uang yang ditarik paksa itu dikumpulkan untuk ikut membiayai acara peringatan 100 hari kemerdekaan Belanda tersebut.

RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara sangat geram pada kebijakan pemerintah kolonial itu. Bagaimana mungkin suatu entitas penjajah memungut uang dari rakyat yang dijajahnya demi merayakan kemerdekaan negerinya dari penjajahan negara lain?

Maka, Ki Hajar Dewantara pun mengkritik langkah pemerintah Hindia Belanda itu melalui artikelnya yang dimuat dalam koran De Expres. Judulnya, “Als Ik Eens Nederlander Was.” Dalam bahasa Indonesia, itu berarti “Andai Aku Sekejap Saja Menjadi Seorang Belanda.”

Seperti dijelaskan Fernanda Prasky Hartono dalam laman Ensiklopedia Sejarah Indonesia terbitan Kemendikbud RI, pada mulanya “Als Ik Eens Nederlander Was” muncul dalam brosur. Kemudian, artikel itu diperbanyak di percetakan NV Eerste Bandoengsche Publicatie Maatschappij dan dikirimkan ke kantor-kantor surat kabar dengan tanggung jawab dari Komite Bumiputra.

Barulah pada 13 Juli 1913, tulisan Ki Hajar Dewantara itu dimuat secara utuh pada surat kabar De Expres. Waktu itu, koran tersebut dipimpin EFE Douwes Dekker (populer dengan nama Setiabudi) dan redakturnya adalah Tjipto Mangoenkoesoemo. Belakangan, ketiga sosok itu–Ki Hajar Dewantara, Setiabudi, dan Tjipto Mangoenkoesoemo–dikenang sebagai “Tiga Serangkai.”

Isi tulisan

Dengan jitu, “Als Ik Eens Nederlander Was” menyindir keras rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas penjajahan Prancis yang akan digelar pada 15 November 1913. Melalui artikelnya itu, Ki Hajar Dewantara mengungkapkan kritiknya, betapa pemerintah kolonial mengalami defisit nurani karena merayakan kemerdekaan negerinya di Indonesia, yakni negeri yang sedang dijajahnya. Bahkan, rezim penjajah ini pun sampai terpikir untuk memungut uang rakyat Indonesia demi perayaan itu.

Berikut petikan tulisannya yang bernada sarkasme.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.