
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Universitas Amikom Yogyakarta mendorong transformasi perguruan tinggi menjadi pusat inovasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Penguatan ekosistem ekonomi kreatif, pengembangan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian dari upaya tersebut.
Hal itu mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-32 Universitas Amikom Yogyakarta yang berlangsung di Ruang Cinema Universitas Amikom Yogyakarta, Senin (12/10/2026).
Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Mohammad Suyanto, mengatakan, perguruan tinggi perlu membangun ekosistem yang mendorong mahasiswa tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi. Menurut dia, pengembangan keterampilan dan kewirausahaan dapat dimulai sejak mahasiswa memasuki bangku kuliah.
“Inilah yang saya ajarkan bersama dosen-dosen, bagaimana anak-anak itu mulai semester satu, dua, tiga, empat itu sudah bisa dapat uang,” kata Suyanto dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, mahasiswa didorong mengembangkan potensi melalui berbagai bidang ekonomi kreatif, seperti fotografi, desain grafis, multimedia, dan bisnis digital. Pengembangan tersebut diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan kemampuan menghasilkan produk maupun jasa yang memiliki nilai ekonomi.
Suyanto juga memaparkan pengembangan ekosistem inovasi melalui kolaborasi dengan industri dan mitra internasional. Menurut dia, perguruan tinggi perlu memperluas kerja sama agar hasil pengembangan produk dan kreativitas mahasiswa dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem kewirausahaan menjadi salah satu langkah untuk mendorong perguruan tinggi memasuki tahap pengembangan yang lebih maju, dengan mengintegrasikan pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan.
Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Amikom Yogyakarta, Hanif Al Fatta, menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam mengukur keberhasilan perguruan tinggi. Menurut dia, capaian akademik seperti publikasi, lulusan, dan akreditasi perlu diikuti dengan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Pertanyaan utamanya bukan lagi apa yang dihasilkan oleh kampus, tetapi perubahan apa yang benar-benar terjadi karena pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh kampus tersebut,” ujar Hanif.
Hanif menjelaskan, perguruan tinggi perlu mengukur dampak dari aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengukuran tersebut tidak berhenti pada produk atau layanan yang dihasilkan, tetapi juga mencakup perubahan yang terjadi setelah hasil riset dan teknologi diterapkan.
Ia menyebut, keberhasilan inovasi dapat dilihat dari manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dirasakan masyarakat. Evaluasi juga perlu mempertimbangkan siapa yang mengalami perubahan, seberapa besar manfaatnya, serta apakah perubahan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Hanif memaparkan model ekosistem inovasi komputasi berdampak yang mengintegrasikan teknologi komputasi terapan, kewirausahaan berbasis pengetahuan, serta pemberdayaan dan tata kelola inklusif.
Salah satu bidang yang disoroti adalah pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Teknologi tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung aksesibilitas, mobilitas, dan keselamatan dengan menempatkan kebutuhan manusia sebagai dasar pengembangan.
Hanif menekankan, pengembangan inovasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Akademisi berperan dalam menghasilkan riset dan talenta, pemerintah mendukung melalui kebijakan, industri menyediakan perspektif kebutuhan pasar, sedangkan masyarakat berperan mengidentifikasi persoalan sekaligus memanfaatkan teknologi yang dikembangkan.
“Jadi asumsinya inovasi komputasi berdampak itu akan berbeda dari masalah nyata yang ada di masyarakat. Kemudian kita cari solusi bersamanya,” kata Hanif.





![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75638 [Aggregator] Downloaded image for imported item #75638](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/sidang-senat-terbuka-dies-natalis-ke-32-universitas-amikom-yogyakarta_261014103629-371-1-148x111.jpg)



![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75658 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/brand-communication-manager-midea-electronics-indonesia-fitria-nagari-kanan_261014120757-419-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75646 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/ratusan-siswa-pengurus-ponpes-dan-masyarakat-sekitar-khusyuk-melaksanakan_261014111246-507-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75650 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/wali-kota-yogyakarta-hasto-wardoyo-ketiga-dari-kanan-bersama_261014104810-877-148x111.jpg)
![[Aggregator] Downloaded image for imported item #75622 image](https://jogjakini.com/wp-content/uploads/2026/10/juru-bicara-komisi-pemberantasan-korupsi-kpk-budi-prasetyo-saat_261013235328-358-148x111.jpg)