ION Build Dorong Startup dan Pelaku Bisnis Manfaatkan Open Network untuk Perluas Konektivitas Digital

by -1 Views
Public
banner 468x60

JAKARTA — Indonesia Open Network (ION) bersama Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) Jakarta menggelar ION Build: Build on the Open Network – A Connector for Digital Commerce & Interoperable Solutions di Garuda Spark Innovation Hub, FX Sudirman, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Didukung Google.org dan Indosat Ooredoo Hutchison, kegiatan ini mempertemukan startup, founder, developer, serta pelaku bisnis untuk membahas open network dan interoperabilitas dalam membangun ekosistem perdagangan digital yang lebih terhubung.

Kegiatan tersebut memperkenalkan digital public infrastructure (DPI) dan Indonesia Open Network sebagai infrastruktur yang memungkinkan berbagai pelaku dan layanan digital saling terhubung. Diskusi berfokus pada bagaimana interoperabilitas dapat membuka akses terhadap pasar, layanan, mitra, dan peluang bisnis baru di tengah ekosistem digital yang masih terfragmentasi.

banner 336x280

Open Network Buka Peluang bagi Startup

Pembahasan manfaat open network diperdalam T. Koshy, Founding MD & CEO ONDC India dan Former Executive Director NSDL. Koshy menjelaskan bahwa ekosistem perdagangan digital yang terkonsentrasi pada platform tertentu dapat membuat bisnis kecil menghadapi tantangan dalam memperoleh pelanggan, mengakses pemasok, hingga mendapatkan layanan pendukung.

Melalui jaringan terbuka, berbagai layanan dapat tersedia di dalam jaringan dan diakses menggunakan protokol yang interoperabel.

“Dibandingkan dengan dunia yang berpusat pada platform, di jaringan terbuka Anda memiliki peluang yang sangat besar.”

Koshy menjelaskan bahwa pelaku usaha dapat memanfaatkan layanan yang sudah tersedia di jaringan tanpa harus membangun seluruh koneksi secara terpisah. Pendekatan ini memungkinkan bisnis kecil tetap fokus pada kemampuan utama sembari memanfaatkan layanan dari pihak lain.

“Itulah keindahan dari jaringan terbuka. Jaringan ini memungkinkan Anda menghasilkan uang dari keahlian Anda, baik Anda perusahaan besar maupun kecil.”

ION Ditempatkan sebagai Infrastruktur di Bawah Platform

Dr. Bayu Prawira Hie, CEO Indonesia Open Network, menjelaskan bahwa ION bukan platform yang menggantikan platform digital yang sudah ada, melainkan infrastruktur yang berada di bawah berbagai platform dan layanan.

“Padahal sesungguhnya kita tuh infrastruktur di bawahnya platform. Jadi platform marketplace yang sekarang ada baik hijau, orange, biru, atau lainnya itu pun bisa menggunakan Indonesia Open Network.”

Ia menggunakan analogi jalan raya untuk menggambarkan konsep open network, dengan berbagai pelaku dapat terhubung dan menjalankan aktivitas bisnis selama mengikuti aturan yang berlaku. Bayu juga menyoroti manfaat interoperabilitas bagi buyer dan seller. Seller dapat memperoleh akses kepada lebih banyak buyer, sementara buyer mendapatkan lebih banyak pilihan seller.

“Kalau kita lihat dari seller happy karena dia bisa ketemu lebih banyak buyer. Buyer pun happy karena bisa lebih banyak seller yang dia bisa pilih.”

Pemerintah Soroti Pemerataan Nilai Ekonomi Digital

Dr. Sonny Hendra Sudaryana, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital pada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, menempatkan pengembangan ekosistem digital sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja.

Sonny menyoroti besarnya potensi e-commerce Indonesia serta peran UMKM dalam perdagangan digital.

“Kalau kita melihat sekarang kita itu nomor tiga terbesar … in terms of e-commerce society, kemudian delapan puluh persen dilakukan oleh UMKM. Ini potensi yang sangat besar.”

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia tengah berada dalam periode bonus demografi yang perlu dimanfaatkan untuk membangun kapasitas digital dan kewirausahaan.

“Kita mengalami ini, bonus demografi yang hanya kita alami sampai 2035. Energinya harus kita maksimalkan di sembilan tahun ini.”

Dalam paparannya, Sonny membagi ekosistem digital ke dalam beberapa lapisan, mulai dari infrastruktur fisik, virtual infrastructure atau digital public infrastructure, platform dan integrasi, hingga layanan dan aplikasi. Menurut Sonny, pengembangan ekonomi digital perlu menjaga keseimbangan antara kompetisi, perlindungan konsumen, dan inovasi.

“Tugas pemerintah … adalah bagaimana balancing antara competition, consumer protection dan innovation.”

Dari Digitalisasi Menuju Integrasi

Sesi panel menghadirkan Tutus Kusuma, Head of Operations, Indonesia Open Network; Deni Krida Laksana, President Director, HaloJe Delivery Indonesia; serta Eka Citra, Chief Commercial Officer, Olsera.

Tutus menjelaskan bahwa interoperabilitas dapat memperluas koneksi antarsektor. Jaringan terbuka tidak hanya mempertemukan warung dengan e-commerce atau layanan keuangan dan teknologi, tetapi juga supply chain, food and agriculture, hingga hospitality.

“Tidak hanya warung dengan e-commerce kemudian dengan finance dan teknologi tapi juga dengan supply chain, dengan food and agri, dengan hospitality.”

Ia juga menekankan bahwa tidak seluruh layanan digital harus dikerjakan oleh satu pihak.

“Tidak semua service, tidak semua layanan digital itu harus dilakukan oleh satu pihak.”

Dari perspektif bisnis logistik, Deni Krida Laksana menyoroti pentingnya mengubah visibilitas digital menjadi transaksi. Keberadaan bisnis di ruang digital tidak cukup apabila hanya menghasilkan perhatian atau followers tanpa mendorong aktivitas bisnis.

“Yang dilakukan HaloJe adalah HaloJe tidak ingin visibility itu kita hanya terlihat oleh orang, lalu orang hanya menjadi follower kita. Kita bagaimana tampilan atau visibility HaloJe itu membuat orang menjadi transaksi.”

Sementara itu, Eka Citra mengangkat persoalan ketika digitalisasi tidak diikuti integrasi sistem. Sebuah bisnis dapat memiliki banyak aplikasi dan kanal digital, tetapi belum tentu seluruh proses bisnis menjadi terhubung.

“Digital belum tentu terintegrasi.”

Ia menjelaskan bahwa merchant dapat menerima pesanan dari berbagai kanal dan mengelola data melalui sistem terpisah.

“Digitalisasi tanpa integrasi dapat menciptakan inefisiensi baru.”

Karena itu, Eka menekankan bahwa tujuan digitalisasi bukan sekadar menggunakan semakin banyak aplikasi, tetapi menciptakan pengalaman yang lebih utuh dan memberikan manfaat bagi bisnis.

“Jangan sekedar menambah fitur. Yang penting adalah menambah value.”

Peserta Melihat Potensi bagi Startup

Feriska Oktarina, CEO CSI Brandify, mengatakan ION menarik karena memperkenalkan infrastruktur yang dapat menghubungkan berbagai bisnis.

“Saya baru tahu kalau ada semacam kayak infrastruktur yang bisa meng-connect dengan berbagai macam bisnis.”

Feriska melihat pendekatan tersebut berpotensi membantu startup membangun koneksi dengan ekosistem bisnis yang lebih luas, termasuk dengan bisnis lain maupun bank.

Membangun Ekosistem Digital yang Saling Terhubung

Melalui ION Build, ION dan GSIH mempertemukan perspektif pemerintah, pengembang infrastruktur digital, perusahaan teknologi, penyedia layanan, dan startup untuk membahas interoperabilitas serta peluang ekonomi digital.

Diskusi menunjukkan bahwa open network tidak hanya berkaitan dengan konektivitas teknologi, tetapi juga akses pasar, visibilitas bisnis, integrasi layanan, kolaborasi, dan distribusi nilai dalam ekosistem digital.

Bagi startup dan pelaku usaha, pendekatan tersebut membuka peluang untuk tetap fokus pada kemampuan utama masing-masing sambil memanfaatkan koneksi dengan pihak lain. Pelaku usaha tidak harus membangun seluruh layanan dan koneksi secara mandiri, tetapi dapat memanfaatkan layanan dari pihak lain sesuai kebutuhan.

Sementara bagi ekosistem digital secara lebih luas, interoperabilitas memungkinkan berbagai layanan dan pelaku usaha bekerja bersama melalui infrastruktur serta aturan yang sama. Pendekatan ini dapat membantu mengurangi fragmentasi ketika berbagai layanan digital berjalan dalam sistem terpisah dan tidak dapat berkomunikasi satu sama lain.

Dengan demikian, open network tidak hanya berbicara mengenai konektivitas teknologi, tetapi juga bagaimana pelaku usaha dapat saling terhubung untuk mengakses pasar, layanan, mitra, dan peluang bisnis. Digitalisasi tidak berhenti pada penggunaan teknologi atau penambahan aplikasi, tetapi juga mencakup bagaimana berbagai sistem dan layanan dapat terhubung sehingga memberikan nilai yang lebih nyata bagi bisnis dan pengguna.

banner 336x280
Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.